<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087</id><updated>2011-12-02T07:24:00.566+07:00</updated><category term='Sumatera Selatan'/><category term='Museum Wayang'/><category term='Museum Layang-layang'/><category term='Yogyakarta'/><category term='Jawa Barat'/><category term='Museum Gula'/><category term='Museum Geologi'/><category term='Gamelan'/><category term='Museum dan Galeri &apos;Rahmat&apos;'/><category term='Sumatera Utara'/><category term='Museum Taman Mini'/><category term='Jakarta'/><category term='Museum Bank Mandiri'/><category term='Beijing'/><category term='Museum Subak'/><category term='Museum Sejarah Jakarta'/><category term='Museum Mancanegara'/><category term='UI'/><category term='Museum Bank Indonesia'/><category term='Pertemuan Nasional'/><category term='Mancanegara'/><category term='Museum Nasional'/><category term='Kalender Kegiatan 2010'/><category term='Sejarah Museum'/><category term='Palembang'/><category term='Beasiswa'/><category term='Jawa Tengah'/><category term='Medan'/><category term='Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama'/><category term='Museum Keraton'/><category term='Hotel'/><category term='Museologi'/><category term='Bandung'/><category term='GNCM'/><category term='Media Cetak'/><category term='Museum Anne Frank'/><category term='Ralat'/><category term='KAA'/><category term='Sulawesi Tenggara'/><category term='Museum Polri'/><category term='Bagaimana Mendirikan Sebuah Museum'/><title type='text'>GERAKAN NASIONAL CINTA MUSEUM</title><subtitle type='html'>MOMENTUM KEBANGKITAN MUSEUM DI INDONESIA LEWAT TAHUN KUNJUNG MUSEUM (VISIT MUSEUM YEAR)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>54</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-2893814553581696078</id><published>2011-12-02T07:19:00.002+07:00</published><updated>2011-12-02T07:24:00.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GNCM'/><title type='text'>Sigi Wimala Terpilih Jadi Duta Museum</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-5oUqae4Nes8/TtgaNkEQtdI/AAAAAAAAASE/I5W24OBiuGQ/s1600/duta-museum.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5oUqae4Nes8/TtgaNkEQtdI/AAAAAAAAASE/I5W24OBiuGQ/s320/duta-museum.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681319750250051026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Sigi Wimala, berfoto bersama Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti, Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala I Gde Pitana, dan Direktur Permuseuman Intan Mardiana (Foto Nusi Lisabilla Estudiantin)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigi Wimala terpilih jadi Duta Museum. Pengukuhannya dilakukan di Museum Nasional, Kamis, 1 Desember 2011. Profesi sehari-hari Sigi Wimala adalah model, model iklan, bintang film, fotografer, dan sutradara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigi Wimala terpilih dari enam kandidat, yang kesemuanya adalah &lt;em&gt;public figure&lt;/em&gt;. Proses pemilihan Duta Museum dilakukan pada 22 November 2011 lalu dengan tim juri Direktur Permuseuman Intan Mardiana dibantu tiga pakar permuseuman dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, yaitu Prof. Dr. Agus Aris Munandar, Dr. Irmayanti Meliono, dan Dr. Magdalia Alfian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demi menampilkan sosok yang mewakili museum, Duta Museum tidak hanya menarik dalam hal penampilan semata, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup tinggi tentang museum," demikian kata ketua dewan juri, Agus Aris Munandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Duta Museum, Sigi Wimala merasa sangat bangga. "Tentunya ini akan menjadi tugas mulia untuk menyebarkan ajakan berkunjung ke museum agar dapat meningkatkan wawasan dan kreativitas di masyarakat luas. Sebagai pencinta museum, saya sangat prihatin melihat kondisi museum Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai sejarah yang luar biasa, tidak termanfaatkan oleh masyarakat," kata Sigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, tugas Duta Museum adalah menyebarkan kepedulian dan kesadaran untuk cinta museum. Agenda terdekat Sigi adalah ke Bandung (7 Desember) dan ke Bali (13 Desember), menjadi bintang tamu dalam &lt;em&gt;workshop&lt;/em&gt; permuseuman. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-2893814553581696078?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/2893814553581696078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/12/sigi-wimala-terpilih-jadi-duta-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/2893814553581696078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/2893814553581696078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/12/sigi-wimala-terpilih-jadi-duta-museum.html' title='Sigi Wimala Terpilih Jadi Duta Museum'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-5oUqae4Nes8/TtgaNkEQtdI/AAAAAAAAASE/I5W24OBiuGQ/s72-c/duta-museum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4134190358703720905</id><published>2011-09-28T07:24:00.001+07:00</published><updated>2011-09-28T07:28:40.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KAA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><title type='text'>Museum KAA Gelar Charlie Chaplin di Bandung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS, Sabtu, 24 Sep 2011&lt;/span&gt; - Museum Konperensi Asia-Afrika (KAA) di Jalan Asia-Afrika Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/9), pukul 18.30-20.30, menggelar diskusi dan pemutaran film dokumenter bertajuk ”Charlie Chaplin di Bandung”. Film ini merupakan koleksi milik Stephen J Fleay, jurnalis senior asal Australia yang mendapatkan film itu dari sebuah studio kuno di Belanda. Pergelaran ini terutama ditujukan untuk anak muda, guna memberikan pandangan yang komprehensif dan menumbuhkan kecintaan terhadap Kota Bandung. ”Diskusi ini menghadirkan Felix Fietsma, seorang pemerhati Kota Bandung,” kata Kepala Museum KAA Isman Pasha. (Dmu)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4134190358703720905?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4134190358703720905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/09/museum-kaa-gelar-charlie-chaplin-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4134190358703720905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4134190358703720905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/09/museum-kaa-gelar-charlie-chaplin-di.html' title='Museum KAA Gelar Charlie Chaplin di Bandung'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7404439572673481421</id><published>2011-07-29T17:00:00.010+07:00</published><updated>2011-07-30T07:03:50.060+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UI'/><title type='text'>Pengumuman Pembekalan Calon Peserta Program Beasiswa Spesialis Keahlian Museum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-BSdQbHSHMJg/TjNKDL9-ydI/AAAAAAAAAR8/hhuxNMKND8w/s1600/abb-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 597px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-BSdQbHSHMJg/TjNKDL9-ydI/AAAAAAAAAR8/hhuxNMKND8w/s400/abb-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634928977383442898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-yFbE2-Vu6SU/TjNJ50-phEI/AAAAAAAAAR0/o6VAYlTaR4Q/s1600/abb-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 351px; height: 479px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-yFbE2-Vu6SU/TjNJ50-phEI/AAAAAAAAAR0/o6VAYlTaR4Q/s400/abb-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634928816593404994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7404439572673481421?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7404439572673481421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/07/pengumuman-pembekalan-calon-peserta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7404439572673481421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7404439572673481421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/07/pengumuman-pembekalan-calon-peserta.html' title='Pengumuman Pembekalan Calon Peserta Program Beasiswa Spesialis Keahlian Museum'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-BSdQbHSHMJg/TjNKDL9-ydI/AAAAAAAAAR8/hhuxNMKND8w/s72-c/abb-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7921898757435146335</id><published>2011-06-14T19:27:00.009+07:00</published><updated>2011-06-14T20:09:38.227+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beasiswa'/><title type='text'>Pengumuman Hasil Tes Wawancara Beasiswa Museologi UI</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Pengumuman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/lulus-11.png"&gt;&lt;img style="width: 399px; height: 645px;" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/lulus-11.png" alt="" title="lulus-1" class="aligncenter size-full wp-image-1865" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/lulus-21.png"&gt;&lt;img style="width: 399px; height: 615px;" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/lulus-21.png" alt="" title="lulus-2" class="aligncenter size-full wp-image-1867" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/lulus-31.png"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 455px;" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/lulus-31.png" alt="" title="lulus-3" class="aligncenter size-full wp-image-1868" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisa juga dilihat dalam format PDF berikut:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/pengumuman-pendaftaran-online-beasiswa-museum.pdf"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pengumuman Pendaftaran Online Beasiswa Museum&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7921898757435146335?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7921898757435146335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/06/pengumuman-hasil-tes-wawancara-beasiswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7921898757435146335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7921898757435146335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/06/pengumuman-hasil-tes-wawancara-beasiswa.html' title='Pengumuman Hasil Tes Wawancara Beasiswa Museologi UI'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-6372461404634843927</id><published>2011-06-09T16:47:00.003+07:00</published><updated>2011-06-09T16:53:07.285+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beasiswa'/><title type='text'>Pengumuman Hasil Saringan Beasiswa Museologi</title><content type='html'>&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/be-1.png"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 531px;" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/be-1.png" alt="" title="be-1" class="aligncenter size-full wp-image-1844" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/be-2.png"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 564px;" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/be-2.png" alt="" title="be-2" class="aligncenter size-full wp-image-1845" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/be-3.png"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 564px;" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/be-3.png" alt="" title="be-3" class="aligncenter size-full wp-image-1846" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga dilihat di sini (dalam format PDF)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/06/pengumuman-wawancara-beasiswa-spesialis-keahlian-museum.pdf"&gt;Pengumuman Wawancara Beasiswa Spesialis Keahlian Museum&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-6372461404634843927?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/6372461404634843927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/06/pengumuman-hasil-saringan-beasiswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/6372461404634843927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/6372461404634843927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/06/pengumuman-hasil-saringan-beasiswa.html' title='Pengumuman Hasil Saringan Beasiswa Museologi'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7107962300638903367</id><published>2011-06-05T07:23:00.001+07:00</published><updated>2011-06-05T07:26:56.783+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hotel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Selatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Palembang'/><title type='text'>Komunitas Seni Tolak Alih Fungsi Museum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS - Selasa, 31 Mei 2011&lt;/span&gt; -  Komunitas seni Kota Palembang menolak penggunaan gedung Museum Tekstil sebagai hotel dengan sistem sewa selama 30 tahun. Itu dinilai akan merusak nilai budaya dan sejarah gedung berusia lebih dari 50 tahun tersebut. Unjuk rasa di depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Palembang, Senin (30/5), diwarnai orasi dan aksi teatrikal. Aliansi Seniman Menggugat mementaskan proses izin pembangunan hotel yang melibatkan uang investor. Koordinator Lapangan yang juga Ketua Program Dewan Kesenian Palembang, Vebri Al Lintani, mengatakan, alih fungsi plus renovasi hotel itu akan menambah jumlah gedung bernilai budaya dan sejarah yang rusak akibat pembangunan di Sumsel. Rencananya, bekas lahan museum yang dulunya kantor Hindia Belanda itu akan digunakan Heritage Hotel Palembang yang akan dibuka sebelum November tahun ini. Hotel untuk mendukung SEA Games XXVI yang akan mulai pada 11 November mendatang.(IRE)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7107962300638903367?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7107962300638903367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/06/komunitas-seni-tolak-alih-fungsi-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7107962300638903367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7107962300638903367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/06/komunitas-seni-tolak-alih-fungsi-museum.html' title='Komunitas Seni Tolak Alih Fungsi Museum'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-5370514657427650312</id><published>2011-05-23T07:20:00.002+07:00</published><updated>2011-05-23T07:24:44.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ralat'/><title type='text'>RALAT: Penjadwalan Program Pemberian Beasiswa Spesialis Keahlian Museum Setara S2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-T9fXEmbjAOw/Tdmowbe37MI/AAAAAAAAAP4/vL7Uw6JkW6s/s1600/Jadwal-bea.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 281px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-T9fXEmbjAOw/Tdmowbe37MI/AAAAAAAAAP4/vL7Uw6JkW6s/s400/Jadwal-bea.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609700360831102146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-5370514657427650312?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/5370514657427650312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/05/ralat-penjadwalan-program-pemberian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/5370514657427650312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/5370514657427650312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/05/ralat-penjadwalan-program-pemberian.html' title='RALAT: Penjadwalan Program Pemberian Beasiswa Spesialis Keahlian Museum Setara S2'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-T9fXEmbjAOw/Tdmowbe37MI/AAAAAAAAAP4/vL7Uw6JkW6s/s72-c/Jadwal-bea.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-1067925060297376521</id><published>2011-05-19T15:44:00.001+07:00</published><updated>2011-05-19T15:47:02.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beijing'/><title type='text'>Situs terkenal Kota Terlarang di Beijing yang dijaga ketat akhirnya kebobolan juga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS - Kamis, 12 Mei 2011&lt;/span&gt; -  Situs terkenal Kota Terlarang di Beijing yang dijaga ketat akhirnya kebobolan juga. Penjaga mengetahui sejumlah barang digondol pencuri dari rumah kaisar-kaisar China itu, Rabu (11/5). Ada sembilan potong benda berharga yang terbuat dari emas yang lenyap. Pencurian ini adalah yang pertama sejak 20 tahun terakhir, ujar juru bicara pengelola Kota Terlarang, Feng Naien. Akibat kejadian tersebut, penjagaan di tempat bersejarah itu semakin diperketat, termasuk membuat sistem keamanan yang lebih canggih. Penyelidikan serius juga dilakukan untuk mengetahui siapa pencuri tersebut. Sebenarnya seorang penjaga melihat seseorang mengendap-endap di museum di Kota Terlarang pada Senin subuh. Sayangnya, sebelum penjaga menangkapnya, pencuri itu sudah kabur. Benda yang dicuri berupa kaca berlapis emas dan dompet antik yang dibuat pada awal abad ke-20. Semua benda pameran itu dipinjam dari Museum Liang Yi di Hongkong. Wang Xiahong, kurator pada Museum Liang Yi, menolak mengungkapkan berapa harga benda yang dibawa kabur itu. Pasti nilainya sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-1067925060297376521?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/1067925060297376521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/05/situs-terkenal-kota-terlarang-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1067925060297376521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1067925060297376521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/05/situs-terkenal-kota-terlarang-di.html' title='Situs terkenal Kota Terlarang di Beijing yang dijaga ketat akhirnya kebobolan juga'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-6180249391672986324</id><published>2011-05-07T15:31:00.002+07:00</published><updated>2011-05-07T15:38:21.808+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Medan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertemuan Nasional'/><title type='text'>Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah sudah dari awal kemerdekaan telah menempatkan museum sebagai salah satu institusi penting dalam pembangunan kebudayaan bangsa. Museum didirikan untuk kepentingan pelestarian warisan budaya dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan bangsa, dan juga sebagai sarana pendidikan non-formal. Oleh karena itu, pemerintah menganggap bahwa museum menjadi urusan yang perlu ditangani pembinaan, pengarahan, dan pengembangannya dalam rangka pelaksanaan kebijakan politik di bidang kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaknai dan menyikapi amanat seperti tersebut di atas, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melakukan upaya strategis, yaitu mencanangkan Gerakan Nasional Cinta Museum 2010-2014, dengan diawali oleh aktivitas Tahun Kunjung Museum 2010. Gerakan Nasional Cinta Museum adalah upaya penggalangan kebersamaan antar pemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa. Upaya strategis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata itu kemudian ditindaklanjuti dengan dicanangkannya program nasional berupa Revitalisasi Museum Indonesia, yaitu suatu program yang berupaya untuk meningkatkan kualitas museum dalam melayani masyarakat sesuai dengan fungsi museum, yang pada akhirnya museum diharapkan dapat menjadi tempat yang dirasakan sebagai kebutuhan masyarakat untuk dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2011 kali ini mengusung tema “Museum dan Pembangunan Karakter Bangsa”, karena diharapkan kesuksesan Gerakan Nasional Cinta Museum dan Revitalisasi Museum Indonesia itu dapat mendorong proses pembangunan karakter bangsa, yaitu upaya membina atau membentuk akhlak, budi pekerti, watak atau kepribadian yang memberi ciri khusus bangsa Indonesia. Di sinilah museum berperan penting sebagai sarana pendidikan non-formal melalui program-program edukatif-kulturalnya, dengan berpedoman pada tiga pilar kebijakan permuseuman Indonesia, yaitu (1) mencerdaskan bangsa, (2) kepribadian bangsa, dan (3) ketahanan nasional dan wawasan nusantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Dasar Hukum&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dasar hukum yang menjadi landasan kegiatan ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan BCB di Museum&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2007 tentang pembagian kewenangan antara pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2009 tentang NPSK Museum.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Maksud dan Tujuan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maksud&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia ini diharapkan dapat meningkatkan peran museum sebagai sarana pendidikan non-formal dan dapat mendorong proses pembangunan karakter bangsa di museum serta terwujudnya harmonisasi pemahaman dan kesepakatan dalam menyukseskan Gerakan Nasional Cinta Museum melalui revitalisasi museum Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Terwujudnya fungsi museum sebagai sarana pendidikan non-formal dalam rangka pembangunan karakter bangsa.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Tersusunnya rumusan dan masukan program dalam upaya pengembangan museum di Indonesia di masa depan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Terwujudnya kesepakatan bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, serta dukungan berbagai pihak dalam pelaksanaan revitalisasi museum 2011-2014.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2011 diselenggarakan di Medan, Sumatera Utara, pada 2-5 Mei 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Tema&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tema Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2011 adalah ”Museum dan Pembangunan Karakter Bangsa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Peserta&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2011 diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Dalam Negeri, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kepala Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota yang membidangi museum, Kepala Museum se-Indonesia, Asosiasi Museum dan asosiasi terkait lainnya, kalangan pers, akademisi, praktisi museum, konsultan bidang museum, dan organisasi masyarakat pemerhati museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia diawali sambutan Direktur Museum, Plt Gubernur Sumatera Utara, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Selanjutnya adalah ramah tamah dan pementasan tarian daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua berlangsung dialog interaktif untuk ditayangkan di stasiun televisi. Para pembicara adalah Soeroso MP (Sekretaris Dirjen Sejarah dan Purbakala), Prof. Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah), dan Prof. Edi Sedyawati (pemerhati museum). Selanjutnya adalah presentasi tentang Undang-undang Cagar Budaya (Junus Satrio Atmojo), Signifikansi Benda Koleksi Etnografi (Suwati Kartiwa), Signifikansi Benda Koleksi Seni (Mikke Susanto), serta Museum dan Sumber Sejarah (Kasijanto). Pada sesi malam tampil topik SDM dan Kompetensi Museum dengan pembicara Irmawati Johan (UI), Reiza D. Dienaputra (Unpad), dan Mahirta (UGM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketiga menampilkan topik Revitalisasi Museum dengan pembicara Intan Mardiana N. (Direktorat Permuseuman) dan Wibowo (Pusat pengolahan Data dan Sistem Jaringan Kemenbudpar). Kegiatan selanjutnya adalah diskusi kelompok dengan topik ”Registrasi Nasional dan Database (Robi Ardiwijaya dan Prioyulianto) dan Sumber Daya Manusia di Museum (Zaini Bustaman dan Luthfi Asiarto). Acara penutupan ditandai dengan pembacaan hasil rekomendasi dan seni tari/musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terakhir berupa kunjungan ke ”Rahmat” Museum dan Galeri serta Museum Provinsi Sumatera Utara. Museum Provinsi Sumatera Utara telah direvitalisasi pada tahun anggaran 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Galeri foto&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/buka-05.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 300px;" class="aligncenter size-full wp-image-1735" title="Buka-05" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/buka-05.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Karangan bunga dari mitra permuseuman&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/buka-06.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 300px;" class="aligncenter size-full wp-image-1736" title="Buka-06" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/buka-06.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Karangan bunga dari mitra permuseuman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/buka-01.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 300px;" class="aligncenter size-full wp-image-1737" title="Buka-01" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/buka-01.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Menjelang pembukaan kegiatan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/buka-02.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 300px;" class="aligncenter size-full wp-image-1738" title="Buka-02" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/buka-02.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kesenian daerah setelah pembukaan kegiatan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/medan-13.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 300px;" class="aligncenter size-full wp-image-1739" title="Medan-13" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/medan-13.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Klinik permuseuman, ajang konsultasi antara museum daerah dengan Direktorat Permuseuman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/medan-27.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 300px;" class="aligncenter size-full wp-image-1740" title="Medan-27" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/medan-27.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Prof. Edi Sedyawati ikut menari pada acara penutupan kegiatan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/medan-07.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 300px;" class="aligncenter size-full wp-image-1741" title="Medan-07" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/medan-07.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Berfoto bersama di "Rahmat" Museum dan Galeri&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/medan-11.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 300px;" class="aligncenter size-full wp-image-1742" title="Medan-11" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/05/medan-11.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Salah satu ruangan di Museum Provinsi Sumatera Utara setelah revitalisasi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-6180249391672986324?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/6180249391672986324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/05/pertemuan-nasional-museum-se-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/6180249391672986324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/6180249391672986324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/05/pertemuan-nasional-museum-se-indonesia.html' title='Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4976663059650582786</id><published>2011-04-29T08:33:00.002+07:00</published><updated>2011-04-29T08:38:48.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museologi'/><title type='text'>Beasiswa Pendidikan Museologi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/surat-penawaran-program-beasiswa-1.gif"&gt;&lt;img style="width: 401px; height: 549px;" class="alignnone size-full wp-image-1685" title="Surat Penawaran Program Beasiswa-1" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/surat-penawaran-program-beasiswa-1.gif" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/surat-penawaran-program-beasiswa-2.gif"&gt;&lt;img style="width: 401px; height: 542px;" class="alignnone size-full wp-image-1686" title="Surat Penawaran Program Beasiswa-2" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/surat-penawaran-program-beasiswa-2.gif" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PROSEDUR DAN PERSYARATAN PROGRAM BEASISWA SPESIALIS MUSEUM 2011&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Calon peserta memenuhi persyaratan dari Direktorat Museum, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pegawai Negeri Sipil, minimal pangkat Penata Muda (III/a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. TNI, dan POLRI yang bekerja di museum;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Lulusan Program Sarjana S1 dari berbagai disiplin ilmu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Usia maksimal 45 tahun;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Masa kerja minimal 2 (dua) tahun;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Sehat jasmani dan rohani;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin berat, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Tidak sedang menjalani hukuman disiplin tingkat sedang atau berat atau Pemberhentian Sementara sebagai PNS;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. IPK (Program S1) sekurang-kurangnya 2,75;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Mengisi formulir pendaftaran Beasiswa Spesialis Keahlian Museum dilengkapi pas foto berwarna terbaru 3 x 4 (2 lembar), dengan melampirkan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Fotocopy ijazah dan transkrip nilai (S1) yang telah dilegalisir pihak yang berwenang, Bagi ijazah luar negeri harus sudah memperoleh penyesuaian dari DIKTI;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;DP3 2 (dua) tahun terakhir;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Surat Izin mengikuti Program Beasiswa Spesialis Keahlian Museum diketahui oleh Kepala Dinas (bagi PNS Pemerintah Daerah) atau pejabat setingkat eselon 2 (bagi PNS Pusat, TNI, dan POLRI) dan disetujui oleh Kepala Museum (format terlampir);&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Surat Pernyataan bermaterai Rp 6.000 (enam ribu rupiah) yang menerangkan bahwa peserta akan tetap bekerja di museum setelah selesai masa pendidikan selama minimal 5 tahun dan apabila masa Tugas Belajar lebih dari 2 tahun, maka kewajiban bekerja pada museum asal menggunakan rumus 2n+1, dimana n adalah masa Tugas Belajar. Surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh peserta; diketahui oleh Kepala Dinas (bagi PNS Pemerintah Daerah) atau pejabat setingkat eselon 2 (bagi PNS pusat, TNI, dan POLRI); dan disetujui oleh Kepala Museum (format terlampir);&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Surat Keterangan Sehat dari Dokter atau Rumah Sakit Pemerintah;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Membuat rencana usulan tesis (dalam bentuk proposal, panduan terlampir);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;m. Bagi peserta tugas belajar yang menduduki jabatan, harus melepaskan jabatan selama mengikuti program beasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagi calon peserta yang telah memenuhi persyaratan akan dipanggil untuk mengikuti wawancara yang akan diselenggarakan oleh Direktorat Museum, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagi calon peserta yang dinyatakan lulus seleksi oleh Direktorat Museum selanjutnya dapat mendaftar sebagai mahasiwa secara online di website penerimaan mahasiswa baru Universitas Indonesia http://penerimaan.ui.ac.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setelah diterima sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, peserta diharuskan menandatangani kontrak antara mahasiswa dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penjadwalan Program Pemberian Beasiswa Spesialis Keahlian Museum Setara S2&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/for-1.jpg"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 182px;" class="aligncenter size-full wp-image-1689" title="for-1" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/for-1.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/bea-4.png"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 565px;" class="aligncenter size-full wp-image-1677" title="bea-4" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/bea-4.png" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/bea-5.png"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 563px;" class="aligncenter size-full wp-image-1679" title="bea-5" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/bea-5.png" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/bea-6.png"&gt;&lt;img style="width: 399px; height: 516px;" class="alignnone size-full wp-image-1680" title="bea-6" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/bea-6.png" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/bea-7.png"&gt;&lt;img style="width: 401px; height: 518px;" class="alignnone size-full wp-image-1681" title="bea-7" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/bea-7.png" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/ralat.png"&gt;&lt;img style="width: 400px; height: 612px;" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/ralat.png" alt="" title="ralat" class="aligncenter size-full wp-image-1717" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/pandu-a.jpg"&gt;&lt;img style="width: 401px; height: 331px;" src="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/pandu-a.jpg" alt="" title="pandu-a" class="aligncenter size-full wp-image-1712" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Download Formulir Pendaftaran dan Surat-surat Lain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/formulir-pendaftaran.pdf"&gt;Formulir Pendaftaran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/surat-izin.pdf"&gt;Surat Izin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://museumku.files.wordpress.com/2011/04/surat-pernyataan.pdf"&gt;Surat Pernyataan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: rgb(140, 232, 255);"&gt;Informasi bisa ditanyakan ke&lt;/span&gt; &lt;strong&gt;beasiswamuseologi@yahoo.com&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4976663059650582786?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4976663059650582786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/04/beasiswa-pendidikan-museologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4976663059650582786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4976663059650582786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/04/beasiswa-pendidikan-museologi.html' title='Beasiswa Pendidikan Museologi'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-8255660047911018829</id><published>2011-03-14T10:37:00.002+07:00</published><updated>2011-03-14T10:40:09.351+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gamelan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Gema Gamelan Bali di Royal Museum Belgia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;mediaindonesia.com, Minggu, 13 Maret 2011&lt;/span&gt; -  Gamelan Bali menggema dan tampil memukau di Royal Museum of Arts and History Musee du Cinquantenaire di Brussel, milik Kerajaan Belgia, dalam Festival Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alunan musik Gamelan Bali yang dibawakan Grup Saling Asah, binaan KBRI Brussel, yang dipimpin I Made Wardana, staf Sosial Budaya KBRI Brussel tersebut tampil dalam pertunjukan solo selama 1,5 jam non-stop, ujar Sekretaris Tiga Pensosbud KBRI Brusel Royhan N Wahab, Minggu (13/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan apik dan kompak anggota Saling Asah yang merupakan gabungan warga Belgia dan Indonesia, menjadi daya tarik tersendiri bagi penampilan grup yang telah berdiri selama 13 tahun tersebut. Saling Asah menampilkan alunan musik gamelan Gong Kebyar milik KBRI Brussel yang mengiringi Tari Pendet, Tari Cenderawasih, Tari Margapati, Tari Legong Keraton, dan Tari Janger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, permainan solo suling Bali, Rindik, Sinom Ladrang, maupun Gender Wayang menciptakan suasana Indonesia di dalam teater gedung museum yang sesak dipenuhi oleh sekitar 200 penonton yang antusias menunggu sejak siang hari untuk menonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dubes RI Brussel Arif Havas Oegroseno menyampaikan bahwa penampilan musik dan tari Indonesia ini baru pertama kalinya tampil di gedung Museum milik Kerajaan Belgia tersebut. Ini merupakan kebanggaan dan terutama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangat membanggakan melihat seni Indonesia ditampilkan di sebuah tempat yang sangat prestisius di Belgia bahkan di Eropa", imbuh Dubes Havas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan Saling Asah ini merupakan penampilan yang berbeda dari biasanya. Penampilan ini dilakukan 1 hari setelah teman-teman umat Hindu merayakan Nyepi. Tahun-tahun sebelumnya, 1 hari setelah Nyepi biasanya dipergunakan oleh umat Hindu untuk saling bersilaturahim. Dalam kesempatan tersebut, Dubes Havas berkesempatan melakukan peninjauan di dalam museum sesaat sebelum pementasan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi dari Indonesia yang diperlihatkan pihak museum kepada Dubes RI terdiri dari antara lain kain batik, topeng Bali, patung Ganesha, keris maupun miniatur rumah Toraja.  Koleksi Indonesia yang berada di sana umumnya merupakan koleksi pribadi kolektor yang dihibahkan maupun dipinjamkan kepada pihak museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak museum menyatakan bangga dapat bekerjasama dengan Indonesia khususnya KBRI Brussel. Ke depannya, diharapkan adanya kerja sama seni dan budaya lainnya yang dapat dikembangkan antara KBRI Brussel dengan pihak museum. (Ant/OL-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-8255660047911018829?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/8255660047911018829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/03/gema-gamelan-bali-di-royal-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8255660047911018829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8255660047911018829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/03/gema-gamelan-bali-di-royal-museum.html' title='Gema Gamelan Bali di Royal Museum Belgia'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4166693314584944926</id><published>2011-03-14T10:28:00.002+07:00</published><updated>2011-03-14T10:33:37.189+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sulawesi Tenggara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Sebagian Koleksi Museum Sultra Rusak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mediaindonesia.com, Jumat, 4 Maret 2011&lt;/span&gt; - Sekitar 10% dari 5.000 koleksi benda bersejarah yang ada di museum Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini rusak karena hampir dua tahun terakhir tidak terpelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak dapat melakukan pemeliharaan benda-benda sejarah di dalam museum, karena dua tahun terakhir kita kesulitan biaya," kata Kepala Museum Sultra Munir Herman di Kendari, Jumat (4/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Munir, untuk memelihara 5.000 koleksi benda bersejarah di dalam museum itu,memerlukan dana sekitar Rp2 miliar per tahun. Namun sejauh ini, Museum Sultra belum pernah mendapat anggaran pemeliharaan benda-benda bersejarah, terutama dari APBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idealnya, perawatan benda bersejarah harus dilakukan setiap satu tahun sekali, sehingga benda koleksi yang ada terus awet dan tidak mudah rusak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munir berharap Pemerintah Provinsi Sultra dapat memberi perhatian terhadap pemeliharaan benda-benda bersejarah dengan mengalokasikan dana perawatan dalam APBD. "Koleksi yang rusak itu kami tetap pergunakan dan disimpan di gudang agar dapat diperbaiki kembali setelah ada dana pemelirahaan dari APBD," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Munir, tahun anggaran 2011 Museum Sultra mendapat biaya pemeliharaan dan pembersihan koleksi benda bersejarah melalui Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan Sultra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama pembersihan, museum tetap menerima kunjungan dan benda koleksi yang akan diperlihatkan kepada pengunjung hanya benda koleksi yang sudah dibersihkan," kata Munir tanpa merinci biaya pemeliharaan tersebut. (Ant/OL-01)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4166693314584944926?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4166693314584944926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/03/sebagian-koleksi-museum-sultra-rusak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4166693314584944926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4166693314584944926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2011/03/sebagian-koleksi-museum-sultra-rusak.html' title='Sebagian Koleksi Museum Sultra Rusak'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-450279849872360764</id><published>2010-09-20T07:06:00.005+07:00</published><updated>2010-09-20T07:26:44.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Anne Frank'/><title type='text'>Berkeliling "Museum 3D" Anne Frank</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu membayar ongkos ke Belanda untuk berkunjung ke Museum Anne Frank. Kita cukup tour lewat situsnya untuk melihat seluk beluk tiga dimensi (3D) rumah si gadis yang bersejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah hidup Anne Frank memang dramatis. Ia adalah seorang perempuan kaum Yahudi yang menulis sebuah buku harian ketika bersembunyi bersama keluarga dan empat temannya di Amsterdam, semasa pendudukan Nazi di Belanda pada Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TJap4GgFBjI/AAAAAAAAAPo/S7WenQFgc3Y/s1600/anne.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 220px; height: 123px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TJap4GgFBjI/AAAAAAAAAPo/S7WenQFgc3Y/s320/anne.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5518785174672049714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Secara umum, sebetulnya tidak mudah membuat orang mau datang ke museum. Kalau melihat hitungan Bappenas, orang Indonesia yang mau mengunjungi sepanjang 2006 sampai 2008 malah berkurang sebanyak 8,3%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengurangi ongkos masuk tak bisa lantas bisa jadi solusi yang baik. Ini misalnya belajar dari upaya pemerintah Inggris menggratiskan tiket masuk, yang hasilnya hanya menyebabkan pengunjung lama datang lebih sering ke museum, tak menambah semangat orang baru datang ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman serba kompetisi, satu-satunya cara menarik orang datang ke museum adalah dengan upaya kreatif. Dan seluruh promosi kreatif terbaik berawal dari upaya keras untuk mengerti apa keinginan masyarakat tentang museum itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tahun Kunjung Museum 2010 ini, rasanya, kita perlu meniru semangat promosi kreatif museum Anne Frank untuk lebih menguasai perhatian dunia tentang sejarah Indonesia. Termasuk lewat website museum yang mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.annefrank.org/en/Subsites/Home/About-the-house/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;lihat selengkapnya di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(terima kasih untuk senangs.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-450279849872360764?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/450279849872360764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/09/berkeliling-museum-3d-anne-frank.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/450279849872360764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/450279849872360764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/09/berkeliling-museum-3d-anne-frank.html' title='Berkeliling &quot;Museum 3D&quot; Anne Frank'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TJap4GgFBjI/AAAAAAAAAPo/S7WenQFgc3Y/s72-c/anne.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-795541342300257230</id><published>2010-09-05T03:35:00.004+07:00</published><updated>2010-09-05T03:41:51.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><title type='text'>Murah dan Baru, Museum Merapi Dibanjiri Pengunjung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kompas Jogja, Senin, 30 Agustus 2010&lt;/span&gt; -  Tidak seperti kebanyakan museum yang sepi, kunjungan ke Museum Gunungapi Merapi mencapai ribuan orang per bulan. Tiket murah, potongan harga jika datang berombongan, dan masih barunya museum menumbuhkan minat pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Target pengunjung museum 4.500 orang per bulan. Realisasinya ternyata di atas angka tersebut. Pernah 8.600 pengunjung, Juli lalu. Hampir dua kali lipat," ujar Sumantri, Kepala Museum Gunungapi Merapi, Sabtu (28/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket masuk ke museum yang diresmikan Oktober 2009 dan dibuka penuh Januari lalu Rp 3.000 per orang. Jika datang berombongan 100 orang, diberi potongan harga 50 persen. Cara itu terbukti ampuh menjaring pengunjung yang 60 persen adalah pelajar dan mahasiswa, baik luar maupun dalam provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk harga tiket Rp 3.000 ini, ya, harga tiket perkenalan. Belum bisa menutup biaya operasi. Namun, kami belum tahu berapa harga tiket yang nanti diatur dalam perda retribusi kawasan wisata tahun depan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan harga tiket dipastikan masih terjangkau. Sebab museum yang dibangun Pemprov DIY dan Pemkab Sleman itu dimaksudkan sebagai sarana pendidikan. Tahun depan, sejumlah rencana siap direalisasikan untuk menambah nilai jual museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, membangun bioskop mini dan menambah sejumlah alat peraga dinamis. Direncanakan pula pembukaan kafe, restoran, toko suvenir, baik memanfaatkan ruangan dalam museum atau di halaman. Agenda aktraksi wisata dijadwalkan rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bioskop mini kami rasa perlu. Pengunjung bisa nonton film animasi hingga film dokumenter tentang kegunungapian. Penambahan materi isi museum juga, misalnya seismograf pencatat gempa vulkanis. Kami ingin museum ini tak hanya jadi museum, tapi juga tempat wisata, ruang publik, hingga tempat diskusi," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Saleh yang mengunjungi museum itu, Sabtu lalu, salut melihat angka kunjungan. "Jika sudah ramai, urusan transportasi bisa selesai," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum terletak di Dusun Banten, Hargobinangun, Pakem, yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Jalan Kaliurang Km 21. Belum ada transportasi ke museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X berharap, museum benar-benar bisa untuk pembelajaran sekaligus pusat studi geologi dan vulkanologi. "Museum ini bisa untuk pembelajaran bahwa alam dan Gunung Merapi menyatu dengan warga," kata Sultan. (PRA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-795541342300257230?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/795541342300257230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/09/murah-dan-baru-museum-merapi-dibanjiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/795541342300257230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/795541342300257230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/09/murah-dan-baru-museum-merapi-dibanjiri.html' title='Murah dan Baru, Museum Merapi Dibanjiri Pengunjung'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-1327330609576266537</id><published>2010-08-31T13:32:00.001+07:00</published><updated>2010-08-31T13:35:28.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Utara'/><title type='text'>Pengunjung Museum Negeri Sumut Meningkat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas Sumbagut, Kamis, 26 Aug 2010&lt;/span&gt; -  Pengunjung Museum Negeri Sumatera Utara meningkat 35 persen terhitung sejak Januari hingga Mei 2010 jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Museum Negeri Sumut Sri Hartini di Medan, Rabu (25/8),mengatakan, jumlah masyarakat yang berkunjung pada Januari-Mei 2010 mencapai 42.145 orang, baik yang datang secara pribadi maupun rombongan. Jumlah tersebut belum termasuk pengunjung dari Juni sampai pertengahan Agustus. Jumlah tersebut meningkat sekitar 35 persen dibanding tahun sebelumnya pada periode yang sama, yang hanya mencapai 27.798 orang. Secara rinci, dia mengatakan, sebagian besar pengunjung museum didominasi pelajar dari TK hingga SMA. (MAR/ANTARA)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-1327330609576266537?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/1327330609576266537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/08/pengunjung-museum-negeri-sumut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1327330609576266537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1327330609576266537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/08/pengunjung-museum-negeri-sumut.html' title='Pengunjung Museum Negeri Sumut Meningkat'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-3292472084643615448</id><published>2010-08-23T06:32:00.003+07:00</published><updated>2010-08-23T06:37:00.500+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Museum Swasta Butuh Perhatian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kompas Jawa Barat, Rabu, 18 Agustus 2010&lt;/span&gt; - Museum yang dikelola swasta membutuhkan perhatian pemerintah. Keberadaannya menjadi salah satu tempat apresiasi kreativitas masyarakat.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Museum bukan sekadar tempat penyimpanan benda mati. Museum bisa menjadi salah satu motor penggerak kegiatan kreatif masyarakat," ujar Kepala Museum Barli, Sanga Priagana, Selasa (17/8) di Bandung.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Museum Barli didirikan tahun 1992 oleh pelukis ternama, Barli Sasmitawinata, untuk menyimpan memorabilia dan lukisannya. Dalam perkembangannya, museum yang terletak di Jalan Sutami Nomor 91, Bandung, ini tidak sekadar menjadi tempat pameran karya seni, tetapi juga ruang diskusi, pameran, dan beragam pelatihan karya kreatif.  Sanga mengatakan, perkembangan Museum Barli tak bisa lepas dari kebutuhan masyarakat terhadap ruang apresiasi publik. Sebelumnya, masyarakat mengeluhkan sulitnya mencari tempat beraktivitas dan mengapresiasi seni serta kegiatan lain.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Akan tetapi, masalah yang kerap muncul adalah tingginya biaya operasional. Menurut dia, Museum Barli harus mengeluarkan Rp 8 juta tiap bulan dari kantong pribadi untuk biaya operasional. Pembiayaan terbesar untuk listrik, air, dan honor bagi empat pegawai.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Untuk menutupinya, kami membuka diri sebagai tuan rumah beragam kegiatan dan pelatihan, seperti tari dan melukis," ujarnya. Pelukis Andi Sopiandi mengatakan, biaya mengadakan pameran di Kota Bandung terbilang tinggi. Dalam sekali pameran perlu minimal Rp 10 juta. Jumlah itu termasuk biaya publikasi, terutama pembuatan poster dan pamflet. Keberadaan tempat publik, seperti museum swasta, sangat membantu kiprah dan kreativitas seniman.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sanga berharap pihak swasta dan pemerintah ikut melirik keberadaan museum swasta. Pihak swasta bisa memanfaatkan museum sebagai tempat penyelenggaraan acara tertentu. Adapun pemerintah diminta memerhatikan eksistensi museum swasta dalam menyimpan sejarah kota dan meningkatkan kualitas masyarakat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sementara itu, Museum Geologi akan meluncurkan Forum Peduli Museum dengan anggota masyarakat pencinta museum pada Sabtu (21/8). Kepala Museum Geologi Yunus Kusumabrata mengatakan, masyarakat bisa terlibat dalam beragam program museum. Contohnya, membersihkan museum dan berdiskusi rutin tentang berbagai hal di museum. (CHE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-3292472084643615448?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/3292472084643615448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/08/museum-swasta-butuh-perhatian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3292472084643615448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3292472084643615448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/08/museum-swasta-butuh-perhatian.html' title='Museum Swasta Butuh Perhatian'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-1379142437165061106</id><published>2010-08-14T06:13:00.005+07:00</published><updated>2010-08-14T06:50:19.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Keraton'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><title type='text'>Museum Keraton Mataram Islam Siap Dibuka</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mediaindonesia.com, Kamis, 12 Agustus 2010&lt;/span&gt; -  MUSEUM Keraton Mataram Islam di Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap dibuka untuk masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Museum ini sebenarnya sudah beberapa tahun lalu siap dioperasikan, tetapi pada 2006 bangunannya mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Setelah selesai direnovasi, dalam waktu dekat segera dibuka, dan bisa dikunjungi masyarakat umum," ujar Kasi Purbakala Dinas  Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Riharyani, Rabu (11/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Riharyani, saat ini Museum Keraton Mataram Islam di Pleret sedang dipersiapkan untuk diperkenalkan kepada masyarakat umum. "Kami juga sedang melengkapi koleksi museum ini," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pemenuhan syarat museum, Riharyani mengatakan, saat ini museum itu belum memenuhi persyaratan, terutama dalam jumlah koleksinya yang belum banyak, dan sumber daya manusianya masih terbatas untuk merawat serta mengelolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jumlah koleksi berupa benda bersejarah hanya sekitar 100 buah, dan sebagian besar merupakan koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal (BP3) Yogyakarta," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Keraton Mataram Islam di Pleret saat ini masih di bawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, namun nantinya akan diserahkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul setelah museum ini memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai museum, terutama dalam hal jumlah koleksinya. (Ant/X-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-1379142437165061106?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/1379142437165061106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/08/museum-keraton-mataram-islam-siap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1379142437165061106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1379142437165061106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/08/museum-keraton-mataram-islam-siap.html' title='Museum Keraton Mataram Islam Siap Dibuka'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-8846921689221433694</id><published>2010-07-26T11:24:00.002+07:00</published><updated>2010-07-26T11:28:33.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Mancanegara'/><title type='text'>Museum Nasional Korea</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TE0OYXHkQhI/AAAAAAAAAPI/Y0btc180jJc/s1600/korea.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TE0OYXHkQhI/AAAAAAAAAPI/Y0btc180jJc/s200/korea.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498066531774644754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Museum Nasional Korea -- en.wikipedia.org&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIBURAN ke Korea Selatan setelah ujian sekolah nanti merupakan hadiah spesial bagi anak-anak Anda. Apalagi jika mereka bisa menyaksikan Museum Nasional Korea yang merupakan salah satu museum terbesar di dunia dan museum utama bagi sejarah, budaya dan seni Korea yang terletak di Seoul, Korea Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum nasional yang berdiri pada tahun 1945 ini memiliki sedikitnya 150 ribu koleksi yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Salah satu di antaranya adalah Gyeongcheonsa, yang merupakan pagoda 10 tingkat yang terletak di serambi utama museum. Gyeongcheonsa merupakan salah satu harta nasional Korea yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Museum Nasional Korea menempati area seluas 137.201 meter persegi dengan bangunan utamanya yang berbentuk persegi panjang (panjang 404 meter dan tinggi 43 meter) di sekitar perkebunan tanaman hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memiliki banyak karya seni para arsitek dunia, museum berlantai enam ini juga mudah diakses dari dua stasiun kereta Seoul Subway, seperti Ichon Station dan Jungang Line.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap artefak tetap terawat dan tidak mudah rusak, sistem pencahayaan ruangan diambil secara alami dengan memanfaatkan sinar matahari dan menggunakan desain khusus untuk mengatur sistem pendingin udara pada ruang museum. Museum ini juga dibuat dari berbagai bahan yang tidak mudah terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap negara memiliki banyak harta nasional yang pantas dibanggakan, begitupula dengan Korea Selatan. Beberapa harta nasional Korea Selatan adalah Gerbang Namdeumun, Pagoda Pagoda tujuh tingkat di Tap-pyeong-ri (Chungju), Lentera Singa Kembar di Kuil Bepju, Pagoda batu tujuh tingkat di Sinse-dong (Andong) dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bepergian ke luar negeri kurang lengkap tanpa membawa keluarga. Apalagi jika ke kota Seoul, Korea Selatan, dimana Garuda Indonesia siap membawa Anda terbang ke kota Denpasar, Bali terlebih dahulu. Penerbangan Garuda Indonesia dari Denpasar ke Seoul tersedia sebanyak 5 kali dalam seminggu. (*/OL-5)&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(mediaindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-8846921689221433694?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/8846921689221433694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/museum-nasional-korea.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8846921689221433694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8846921689221433694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/museum-nasional-korea.html' title='Museum Nasional Korea'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TE0OYXHkQhI/AAAAAAAAAPI/Y0btc180jJc/s72-c/korea.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-8160722672054208816</id><published>2010-07-26T11:17:00.001+07:00</published><updated>2010-07-26T11:23:29.096+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Mancanegara'/><title type='text'>Museum Seni Nagoya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TE0NawknRpI/AAAAAAAAAPA/9STqoiy-Kg8/s1600/nagoya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 251px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TE0NawknRpI/AAAAAAAAAPA/9STqoiy-Kg8/s200/nagoya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498065473455474322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Nagoya City Art Museum -- ncvb.or.jp&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERLIBUR ke Nagoya kurang lengkap rasanya jika melewatkan bertandang ke sebuah museum saksi budaya setempat di daerah Nagoya City Art Museum tepatnya terletak di kawasan Taman Shirakawa. Sebuah gerbang besar menambah keistimewaan bagunan museum berlantai dua ini dengan satu lantai dasar dan luas area 2.167 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1983 didirikan, museum seni ini dijadikan ruang pameran yang didedikasikan untuk para seniman ternama. Tercatat Tamiji Kitagawa, Setsuko Migishi, Shusaku Arakawa, On Kawara, Tadaaki Kuwayama hingga karya-karya Ecole de Paris dan karya pelukis Mexican Renaissance: Jose Clemente Orozco, Diego Rivera, David Alfaro Siqueiros, Rufino Tamayo dan Frida Kahlo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda tertarik ingin belajar melukis, Nagoya City Art Museum memberikan kursus pribadi dari pelukis Shusaku Arakawa, Tadaaki Kuwayama, dan On Kawara di ruang yang sudah tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang ingin melancong ke sana, sebaiknya menggunakan penerbangan yang sudah terjamin kualitasnya, seperti Garuda Indonesia. Maskapai terbaik ini sudah lama memberikan layanan penerbangan dari Jakarta menuju Nagoya sebanyak 3 kali dalam seminggu. (*/OL-08)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(mediaindonesia.com)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-8160722672054208816?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/8160722672054208816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/museum-seni-nagoya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8160722672054208816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8160722672054208816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/museum-seni-nagoya.html' title='Museum Seni Nagoya'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TE0NawknRpI/AAAAAAAAAPA/9STqoiy-Kg8/s72-c/nagoya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-8161011953932382170</id><published>2010-07-24T13:00:00.007+07:00</published><updated>2010-07-24T14:09:16.070+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Tempat Terbaik bagi Penggemar Mainan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mainan tak hanya menjadi kesukaan anak-anak. Ia juga bisa memikat kaum dewasa dengan desainnya yang menawan. Karena itulah di berbagai belahan dunia, museum mainan menjadi salah satu tempat wisata yang menarik bagi pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia mungkin hanya punya Istana Boneka di Ancol. Tapi di beberapa negara, termasuk di Malaysia, mereka membangun museum untuk menaruh berbagai koleksi mainan, mulai mainan berbentuk lucu untuk anak perempuan sampai robot-robotan untuk anak lelaki. Berikut beberapa museum mainan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doll and Puppet Museum, Vienna (Austria)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqQjDSuuhI/AAAAAAAAAOw/QNA0-RBaKlY/s1600/pollock-5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 252px; height: 168px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqQjDSuuhI/AAAAAAAAAOw/QNA0-RBaKlY/s200/pollock-5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497365227012798994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum ini memiliki koleksi hingga 30.000 mainan. Koleksi ini juga bukan mainan sembarangan karena mayoritas mainan asli yang diproduksi di Eropa disimpan di sini. Salah satu koleksi yang dipamerkan ialah mainan karya seniman Gabriella Falk Stall dan vintage toys dari Vienna’s History Museum. Selain itu boneka dari porselen atau boneka yang desainnya sangat rumit, juga dipamerkan di sini. Kebanyakan adalah boneka buatan Jerman dan Prancis. Doll and Puppet Museum dibangun pada 1728, dengan desain ala rumah Baroque. Ia mulai dibuka untuk publik pada 1989. Tak hanya memamerkan koleksi bonekanya, museum ini juga bisa memperbaiki mainan yang rusak. Jadi jika Anda punya mainan kesayangan yang sulit diperbaiki, coba saja dibawa ke museum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pollock Museum, London (Inggris)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqHr3lP7yI/AAAAAAAAAOY/jL0uVqDaMK0/s1600/pollock-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 188px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqHr3lP7yI/AAAAAAAAAOY/jL0uVqDaMK0/s320/pollock-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497355482883419938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pollock Museum menjadi salah satu museum mainan tertua di dunia, dibangun pada 1956. Awalnya, museum ini hanyalah satu ruangan kecil. Namun kini, museum yang juga dikenal dengan nama London Toy and Model Museum ini berkembang sangat besar dan menempati ruangan di London’s Scala Street, salah satu wilayah populer di London. Pollock Museum memiliki ribuan koleksi mainan, dari mainan robot hingga boneka dari seluruh penjuru dunia. Tak heran, pencinta mainan banyak yang berkunjung di sini. Museum ini juga memiliki toko mainan yang menjual berbagai suvenir museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prague Toy Museum, Praha (Republik Ceko)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqQ758wbVI/AAAAAAAAAO4/jMYyDhDsVdU/s1600/pollock-6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 252px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqQ758wbVI/AAAAAAAAAO4/jMYyDhDsVdU/s200/pollock-6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497365654001446226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Datang ke museum yang ada di Praque Castle ini akan sangat menyenangkan. Bayangkan saja, ada begitu banyak koleksi mainan di sini. Ada mainan Yunani kuno, koleksi boneka Barbie sejak tahun ‘60-an sampai sekarang, mainan tradisional Ceko, mainan bohemian, sampai mobil-mobilan dan pesawat. Ada pula koleksi mainan asli karya ilustrator dan kartunis hebat Ivan Steiger yang dibuat dari kayu dan timah. Praque Toy Museum disebut-sebut sebagai museum mainan terbesar kedua di dunia. Mereka memiliki tujuh ruang pameran dengan lebih dari dua lantai gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penang Toy Museum, Penang (Malaysia)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqIKS06MlI/AAAAAAAAAOg/ejV1brPR2zk/s1600/pollock-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 188px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqIKS06MlI/AAAAAAAAAOg/ejV1brPR2zk/s320/pollock-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497356005592937042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa sangka museum mainan terbesar justru ada di negara tetangga, Malaysia. Dengan luas hingga 650 m2, museum ini memiliki lebih dari 100.000 koleksi mainan, kebanyakan adalah mainan modern seperti robot-robotan. Museum ini juga dilengkapi dengan teknologi suara-suara yang aneh dan motion effect, sehingga pengunjung bisa menemukan suasana yang menarik dan atraktif saat mengunjunginya. Penang Toy Museum dibangun Loh Leun Cheng, pencinta mainan yang mengagumi Pollock Museum di London. Saat mengunjungi museum tersebut pada usia 19 tahun, Loh berjanji untuk membangun museum mainan. Dia pun melakukan perjalanan mencari mainan-mainan modern di seluruh dunia untuk disimpan di museumnya. Sekarang ini, museum milik Loh dikunjungi lebih dari 2.000 orang tiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a target="_blank" title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img837.imageshack.us/i/pollock3.gif/"&gt;&lt;img style="width: 212px; height: 158px;" src="http://img837.imageshack.us/img837/5126/pollock3.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a target="_blank" href="http://imageshack.us/"&gt; &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;House on the Hill Toy Museum, Essex (Inggris)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqIlfquroI/AAAAAAAAAOo/wIWPf0vP3AI/s1600/pollock-4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 188px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqIlfquroI/AAAAAAAAAOo/wIWPf0vP3AI/s320/pollock-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497356472896368258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum ini unik karena menyimpan begitu banyak mainan dari berbagai bidang, dari yang berkaitan dengan TV dan film, musik rock ‘n roll, sampai buku. Salah satunya ialah memorabilia Beatles dan beberapa mesin musik kuno. Ada pula mainan boneka Barbie dan Sindy,Teddy Bear, mainan kereta, sepeda Putri Diana, sampai replika mahkota kerajaan. Totalnya, ada 80.000 koleksi yang bisa dilihat di museum ini dan umumnya memang mainan khas laki-laki. Museum ini juga mencakup mainan dari zaman Victorian sampai era terkini. Jadi tak heran jika mengunjungi House on the Hill Museum, pengunjung bisa menyaksikan evolusi dunia mainan dari sisi desain dan kemodernannya. (herita endriana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Koran Sindo, Sabtu, 24 April 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-8161011953932382170?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/8161011953932382170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/tempat-terbaik-bagi-penggemar-mainan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8161011953932382170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8161011953932382170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/tempat-terbaik-bagi-penggemar-mainan.html' title='Tempat Terbaik bagi Penggemar Mainan'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/TEqQjDSuuhI/AAAAAAAAAOw/QNA0-RBaKlY/s72-c/pollock-5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-3589371909772439771</id><published>2010-07-23T11:10:00.003+07:00</published><updated>2010-07-23T11:17:07.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Punjulharjo Pertanyakan Keseriusan Pemerintah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dan warga Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, mempertanyakan keseriusan pemerintah membangun Museum Budaya Bahari dan menjadikan Desa Punjulharjo sebagai desa wisata. Rancangan utama desa telah dibuat, tetapi pemerintah tak kunjung menanggapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Desa Punjulharjo Nursalim, Senin (19/7), di Rembang, mengatakan, tokoh masyarakat dan perangkat Desa Punjulharjo telah membuat rancangan pengembangan desa. Pusatnya berada di Situs Perahu Kuno Punjulharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs tersebut bakal dibangun menjadi Museum Budaya Bahari yang memperkenalkan kekayaan bahari Indonesia, khususnya Rembang. Untuk mendukung kawasan tersebut sekaligus memberdayakan perekonomian warga, npemerintah desa telah merintis budidaya buah kawis dan kelapa gading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami telah menanam bibit-bibit kawis dan kelapa di jalan-jalan kampung. Harapannya, para pengunjung dapat menikmati museum dan setelahnya mencicipi minuman khas Rembang dari buah kawis," kata Nursalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nursalim, rancangan tersebut mengarah pada perwujudan Desa Punjulharjo sebagai pusat penelitian maritim dan industri olahan rakyat. Untuk mendukung penelitian tersebut, dalam waktu dekat pemerintah desa akan mengupayakan hot spot di sekitar lokasi temuan perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dan warga desa juga berkeinginan mendirikan perpustakaan digital. Perpustakaan itu akan merangkum data sejarah, budaya, dan potensi sumber daya alam di Rembang. "Saya berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat merealisasikan rancangan kami," kata Nursalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal yang paling mendesak dan perlu segera ditindaklanjuti, Nursalim menambahkan, adalah konservasi perahu. Pasalnya, kalau tidak segera dikonservasi, perahu akan semakin lapuk dan rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Tim Peneliti Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Nahar Cahyandaru mengemukakan, dalam penataan kawasan bersejarah perlu memerhatikan sejumlah kaidah. Salah satunya adalah membagi kawasan tersebut ke dalam zona inti dan pendukung. "Jangan sampai zona inti, yaitu situs perahu kuno, bercampur dengan zona-zona lain. Hal itu dapat mengakibatkan kerusakan zona inti," kata Nahar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahar juga mengusulkan supaya kawasan Punjulharjo dikoneksi dengan kawasan-kawasan sejarah lain terdekat, seperti Lasem, Plawangan, dan Petilasan Sunan Bonang. Tujuannya adalah mengenalkan dan menghidupkan kawasan-kawasan lain yang merupakan aset sejarah dan wisata Rembang. (HEN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kompas edisi Jawa Tengah, Rabu, 21 Juli 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-3589371909772439771?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/3589371909772439771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/punjulharjo-pertanyakan-keseriusan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3589371909772439771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3589371909772439771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/punjulharjo-pertanyakan-keseriusan.html' title='Punjulharjo Pertanyakan Keseriusan Pemerintah'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4304648634246066301</id><published>2010-07-23T11:02:00.003+07:00</published><updated>2010-07-23T11:17:32.559+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Memimpikan Museum di Kabupaten Kediri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh Runik Sri Astuti &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sinar matahari terik di Jumat (16/7) siang di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Di desa yang setiap tahun ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah inilah, Pemerintah Kabupaten Kediri berencana mendirikan museum atau tempat menyimpan benda purbakala peninggalan nenek moyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bidang Pemberitaan Humas Pemkab Kediri Edhi Purwanto mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan lahan seluas 10 hektar di Desa Menang saat ini. Lokasinya tidak jauh dari kompleks Petilasan Sri Aji Joyoboyo yang di dalamnya terdapat pendapa, lokasi moksa Sang Prabu dan sendang atau pemandian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lokasi persisnya ya di tanah kosong sekitar petilasan, yang saat ini masih dikelola masyarakat dengan ditanami berbagai tanaman komoditas pertanian seperti cabai, jagung, dan padi," ujarnya memberikan gambaran lokasi museum kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak ada halangan, lanjut Edhi, proyek pembangunan dilakukan bertahap dan dimulai pada 2011. Setelah menetapkan lokasi, pemerintah akan menyiapkan desain bangunan. "Untuk menentukan desain arsitektur yang tepat untuk bangunan museum, Pemkab Kediri bekerja sama dengan Desain Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan keinginan Pemkab Kediri, di atas lahan seluas 10 hektar itu nantinya tidak hanya berdiri sebuah bangunan museum, melainkan kompleks wisata budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Benda bersejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mendasari pembangunan museum di Kabupaten Kediri serta mengapa ide itu harus direalisasikan sekarang, setelah 10 tahun Bupati Sutrisno berkuasa? Apalagi Sutrisno akan berakhir jabatannya sebagai bupati pada Agustus mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data Dinas Periwisata Kabupaten Kediri dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur, jumlah benda bersejarah yang ditemukan di Kediri sepanjang 1988-2003 mencapai 378. Bentuknya beragam mulai dari arca, guci, mangkuk, batu relief, batu candi, gandik, lingga, yoni, miniatur candi, sampai perhiasan emas zaman kerajaan dan lempengan emas kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kondisinya mengenaskan. Benda-benda purbakala itu bahkan sebagian besar terpaksa disimpan di luar daerah, di rumah-rumah penduduk, dan di balai desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sebagian kecil yang disimpan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri. Itu pun tempat penyimpanannya tidak representatif. Benda-benda itu hanya digeletakkan begitu saja di sebuah ruang mirip gudang di belakang gedung DPRD Kabupaten Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2005 sampai 2009, banyak ditemukan benda purbakala baru, seperti situs Patirtan Jala Dwara di Desa Sukorejo yang kemudian disimpan di Museum Mpu Tantular Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2008, kembali ditemukan sedikitnya 12 benda bersejarah dari Situs Tondowongso di Desa Tondowongso. Keseluruhan benda tersebut sekarang disimpan di Museum Trowulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tahun 2008, kembali ditemukan sedikitnya tujuh benda bersejarah di Desa Sumbercangkring. Benda-benda itu juga ditaruh begitu saja di gudang Pemkab. Data terbaru tahun 2009, masyarakat Desa Semen, Kecamatan Pagu, menemukan sebuah situs yang di dalamnya terdapat beragam benda purbakala seperti arca berikut fragmen-fragmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari fakta itulah, niat pemerintah membangun museum harus dihargai walaupun langkah tersebut sangat terlambat. Namun, membangun museum saja juga tidak cukup, tanpa ada niat untuk melestarikan barang-barang purbakala peninggalan nenek moyang itu. Jangan sampai bangunan museum tak lebih dari sebuah gudang penyimpanan barang bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kompas edisi Jawa Timur, Sabtu, 17 Juli 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4304648634246066301?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4304648634246066301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/memimpikan-museum-di-kabupaten-kediri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4304648634246066301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4304648634246066301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/memimpikan-museum-di-kabupaten-kediri.html' title='Memimpikan Museum di Kabupaten Kediri'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7791559656372951032</id><published>2010-07-23T10:58:00.004+07:00</published><updated>2010-07-23T11:17:51.945+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Museum Jateng Harus Dibenahi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Koleksi yang dimiliki Museum Jawa Tengah Ronggowarsito selama ini belum mampu mendongkrak jumlah pengunjung secara signifikan. Oleh karena itu, untuk menarik minat wisatawan dan meningkatkan jumlah pengunjung, harus ada pembenahan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Museum tidak bisa lagi hanya mengandalkan koleksi benda-benda kuno untuk menyedot pengunjung tetapi harus melakukan inovasi seperti menampilkan berbagai atraksi budaya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Hal itu memang menjadi tantangan untuk kami. Jika tidak, museum akan semakin ditinggalkan," ujar Kepala Seksi Pelayanan dan Tata Pameran Museum Ronggowasito Puji Suci Indiah, di Kota Semarang, Rabu (21/7).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Indiah mengakui, jumlah pengunjung masih fluktuatif dan biasanya terkonsentrasi di bulan-bulan tertentu. "Atraksi budaya memang masih minim karena keterbatasan biaya," kata Indiah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tingkat kunjungan di Museum Ronggowarsito periode Januari-Juni 2010 mencapai 27.799 orang atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2009 yang berjumlah 26.191 orang dan periode Januari-Juni 2008 yang mencapai 26.545 orang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kebanyakan pengunjung Museum Ronggowarsito siswa sekolah dasar. Sebagai gambaran, dari 40.448 pengunjung sepanjang tahun 2009, 13.641 di antaranya siswa SD. Hal ini menunjukkan museum belum menjadi destinasi wisata bagi warga.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Maman Suparman, salah satu seniman Kota Semarang, mengakui museum dapat dijadikan sebagai alternatif ruang pamer karya seni lukis selain galeri dan ruang publik lainnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Untuk itu, Maman dan 10 seniman lainnya memanfaatkan Pendopo Museum Jawa Tengah Ronggowarsito untuk menggelar pameran lukisan. (ILO)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kompas edisi Jateng, Kamis, 22 Juli 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7791559656372951032?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7791559656372951032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/museum-jateng-harus-dibenahi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7791559656372951032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7791559656372951032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/07/museum-jateng-harus-dibenahi.html' title='Museum Jateng Harus Dibenahi'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7983146828252801535</id><published>2010-04-14T08:14:00.002+07:00</published><updated>2010-04-14T08:20:29.866+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bagaimana Mendirikan Sebuah Museum'/><title type='text'>Bagaimana Mendirikan Sebuah Museum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Apakah Itu Museum?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat, dan terbuka untuk umum. Tugas museum adalah memperoleh, merawat, menghubungkan, dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti material hasil budaya manusia, alam, dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum dalam menjalankan aktivitasnya, mengutamakan dan mementingkan penampilan koleksi yang dimilikinya. Setiap koleksi merupakan bagian integral dari kebudayaan dan sumber ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum dapat didirikan oleh Instansi Pemerintah, Yayasan, atau Badan Usaha yang dibentuk berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Misalnya Surat Keputusan bagi museum pemerintah dan akte notaris bagi museum swasta. Bila perseorangan ingin mendirikan museum, maka terlebih dulu harus membentuk yayasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah Acuan Pendirian Museum?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian sebuah museum memiliki acuan hukum, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 tentang Museum&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa Sajakah Jenis-jenis Museum itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut koleksi yang dimiliki, jenis museum dapat dibagi menjadi dua. Pertama, museum umum yang koleksinya terdiri atas kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu, dan teknologi. Kedua, museum khusus adalah museum yang koleksinya terdiri atas kumpulan bukti material manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan satu cabang seni, cabang ilmu atau satu cabang teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum berdasarkan kedudukannya terdiri atas museum nasional, museum provinsi, dan museum lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum berdasarkan penyelenggaraannya terdiri atas museum pemerintah dan museum swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah Persyaratan Berdirinya Sebuah Museum?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun persyaratan berdirinya sebuah museum adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Lokasi museum, harus strategis, mudah dijangkau, dan sehat (tidak terpolusi, bukan daerah yang berlumpur/tanah rawa).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bangunan museum, dapat berupa bangunan baru atau memanfaatkan gedung lama. Harus memenuhi prinsip-prinsip konservasi agar koleksi museum tetap lestari. Bangunan museum minimal terdiri atas dua kelompok, yaitu bangunan pokok (pameran tetap, pameran temporer, auditorium, kantor, perpustakaan, laboratorium konservasi, dan ruang penyimpanan koleksi) dan bangunan penunjang (pos keamanan, kios cenderamata, kantin, toilet, tempat parkir).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koleksi, harus (1) mempunyai nilai sejarah, nilai ilmiah, dan nilai estetika, (2) harus diterangkan asal-usulnya secara historis, geografis, dan fungsinya, (3) harus dapat dijadikan monumen jika benda tersebut bangunan, (4) dapat diidentifikasi mengenai bentuk, tipe, gaya, fungsi, makna, asal secara historis dan geografis, genus (untuk biologi), atau periode (untuk geologi), (5) harus dapat dijadikan dokumen dan dapat dijadikan bukti bagi penelitian ilmiah, (6) harus merupakan benda asli, bukan tiruan, (7) harus merupakan benda yang memiliki nilai keindahan (masterpiece), dan (8) harus merupakan benda yang unik, yaitu tidak ada duanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peralatan museum, harus memiliki sarana dan prasarana berkaitan erat dengan kegiatan pelestarian, seperti vitrin, sarana perawatan koleksi (AC, dehumidifier), pengamanan (CCTV, alarm), lampu, label, dll.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Organisasi dan ketenagaan, sekurang-kurangnya terdiri atas kepala museum, bagian administrasi, pengelola koleksi (kurator), bagian konservasi (perawatan), bagian penyajian (preparasi), bagian pelayanan masyarakat, bimbingan edukasi, dan pengelola perpustakaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sumber dana tetap, untuk penyelenggaraan dan pengelolaan museum.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Cara Merencanakan Pendirian Museum?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian museum harus memiliki tujuan yang jelas dan perencanaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;master plan&lt;/span&gt;) yang matang. Perencanaan pendirian museum harus menjelaskan tentang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jenis museum&lt;/span&gt;, karena menyangkut tindakan selanjutnya, yakni bangunan, koleksi, dan kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi&lt;/span&gt;, disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan biaya. Koleksi museum biasanya diperoleh dengan cara membeli, imbalan jasa, hibah atau pemberian, dan tukar-menukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lokasi&lt;/span&gt;, bukan untuk kepentingan pendirinya, tetapi untuk masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bangunan&lt;/span&gt;, harus berdasarkan persyaratan tertentu, dengan mempertimbangkan bentuk bangunan, ruangan yang akan digunakan, luas bangunan, dan bahan yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peralatan&lt;/span&gt;, merencanakan peralatan teknis (pameran, perawatan, dan kegiatan kuratorial) dan peralatan kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketenagaan&lt;/span&gt;, harus memiliki tenaga-tenaga yang menguasai masalah teknis permuseuman dan tenaga manajerial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Pelaksanaan Pendirian Museum?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada izin yang berwenang. Selain itu juga ada izin penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Izin penggunaan tanah untuk bangunan museum dari Badan Pertanahan Nasional (sertifikat) dan Dinas Tata Kota (rencana tata kota).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Izin mendirikan bangunan (IMB).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperoleh berbagai izin penting, pendirian sebuah museum memasuki tahap berikutnya, yakni:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mendirikan bangunan, setelah memperoleh IMB dan sesuai master plan. Apabila biaya terbatas, maka pendirian museum dapat dilaksanakan dengan sistem skala prioritas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyiapan ketenagaan, sambil mendirikan bangunan, harus mempersiapkan tenaga-tenaga ahli atau tenaga pengelola yang sesuai dengan keperluan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengadaan koleksi, harus betul-betul koleksi yang diperlukan dan tidak asal diadakan saja.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Cara Melakukan Permohonan Mendirikan Museum?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap instansi pemerintah, yayasan, atau badan usaha yang akan mendirikan museum wajib mengajukan permohonan kepada Pemerintah Propinsi dengan tembusan kepada Direktur Jendral yang bertanggung jawab di bidang permuseuman. Permohonan tersebut harus dilengkapi dengan proposal yang memuat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;tujuan pendirian museum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;data koleksi sesuai dengan tujuan pendirian museum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;gambar situasi bangunan museum, harus memuat ruang pameran, ruang penyimpanan koleksi, ruang perawatan, dan ruang administrasi, serta peralatan museum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;keterangan status tanah hak milik atau sekurang-kurangnya berstatus hak guna bangunan (HGB) dan izin mendirikan bangunan (IMB)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;keterangan tenaga pengelola (pimpinan, tenaga administrasi, dan tenaga teknis)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;keterangan sumber pendanaan tetap&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya permohonan tersebut akan diteliti oleh Tim Penilai. Tim penilai bertugas meneliti kelengkapan dokumen permohonan, melakukan peninjauan lokasi, melakukan pengecekan terhadap koleksi, serta melaporkan hasil dan saran pertimbangan persetujuan atau penolakan kepada Pemerintah Provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7983146828252801535?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7983146828252801535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/04/bagaimana-mendirikan-sebuah-museum.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7983146828252801535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7983146828252801535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/04/bagaimana-mendirikan-sebuah-museum.html' title='Bagaimana Mendirikan Sebuah Museum'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-3986698452816818355</id><published>2010-04-12T07:43:00.004+07:00</published><updated>2010-04-12T16:11:03.796+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Subak'/><title type='text'>Museum Subak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sistem irigasi Subak diciptakan oleh Pendeta suci Rsi Markandya. Lima prasasti dan artefak menunjukkan bahwa subak di Bali ada sejak tahun 1071. Dia datang ke Bali dari Jawa Timur dengan 800 orang masyarakat, dan memotong kawasan hutan di Desa Taro, Kabupaten Gianyar, sekitar 50 km utara Denpasar. Kemudian kelompok itu membuat lahan irigasi (sawah) yang diselenggarakan oleh organisasi kesuwakan dan sekarang disebut subak. Keberadaan sistem subak di Bali tercatat sejak tahun 1071. Dibutuhkan waktu 393 tahun sistem pertanian sejak dikembangkan di Bali (Windia, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kerajaan terlibat pada pembuatan subak yang memungkinkan petani untuk membuat bendungan di sungai, selain untuk mengairi lahan kering.  Kerajaan bahkan memberikan tanah dan membebaskan pajak untuk merangsang petani menanam padi pada lahan sawah irigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pemerintahan Belanda, kepala subak (pekaseh) diinstruksikan oleh Belanda untuk mengumpulkan pajak tanah dari petani (anggota subak). Penting untuk dicatat bahwa kekhususan dari subak adalah kegiatan ritual. Beberapa upacara dilaksanakan oleh subak,  dari persiapan lahan sampai panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subak merupakan organisasi otonom yang mengelola daerah irigasi tertentu (sawah), mendapatkan air irigasi dari satu sumber dan bertanggung jawab untuk satu kuil subak. Sampai sekarang subak digunakan oleh pemerintah pada kegiatan pembangunan pertanian, untuk  intensifikasi padi, pengembangan koperasi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kegiatan wisata dan keterbatasan air di Bali, banyak daerah irigasi (sawah) digunakan untuk kegiatan non-pertanian. Statistik mencatat bahwa penurunan area sawah di Bali sekitar 650 hektar/tahun. Sekarang keberadaan sawah di Bali masih sekitar 70.000 hektar. Ini adalah masalah eksistensi kawasan sawah dan subak di Bali. Untuk menghindari masalah ini, beberapa kabupaten di Bali memperkenalkan kebijakan subsidi pajak tanah untuk para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini muda-mudi Bali merasa tergugah akan pelestarian budaya khususnya sistem irigasi air pertanian Subak di Bali. Mereka ingin lebih memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada generasi muda khususnya melalui forum-forum diskusi di sekolah-sekolah setingkat SMP, SMU/SMK, DIPLOMA, Perguruan Tinggi dan Universitas tentang pentingnya melestarikan budaya Subak. Misalnya aktif melakukan studi dan aksi sosial ke Museum Subak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tabanan&lt;br /&gt;Nomor kontak&lt;br /&gt;Sastra HP 0361-7410200 | 081.5588.12345&lt;br /&gt;sastrabali@hotmail.com&lt;br /&gt;Website: www.muda-mudisubakbali.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S8JzPaEbW6I/AAAAAAAAAOI/iCR80U4LCT0/s1600/museum-subak-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S8JzPaEbW6I/AAAAAAAAAOI/iCR80U4LCT0/s320/museum-subak-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459052406859586466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S8JzPJ_MeRI/AAAAAAAAAOA/vmpA4BDMJs4/s1600/museum-subak-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 314px; height: 179px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S8JzPJ_MeRI/AAAAAAAAAOA/vmpA4BDMJs4/s320/museum-subak-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459052402542672146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S8JzO-l0g1I/AAAAAAAAAN4/VTJxDPUHiro/s1600/museum-subak-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 186px; height: 140px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S8JzO-l0g1I/AAAAAAAAAN4/VTJxDPUHiro/s320/museum-subak-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459052399483454290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-3986698452816818355?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/3986698452816818355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/04/museum-subak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3986698452816818355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3986698452816818355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/04/museum-subak.html' title='Museum Subak'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S8JzPaEbW6I/AAAAAAAAAOI/iCR80U4LCT0/s72-c/museum-subak-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-3266016432534997499</id><published>2010-04-05T13:28:00.008+07:00</published><updated>2010-04-08T06:23:07.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum dan Galeri &apos;Rahmat&apos;'/><title type='text'>Museum dan Galeri 'Rahmat'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDo_3FpbI/AAAAAAAAANI/W_PIB6iZGG0/s1600/rahmat-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 218px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDo_3FpbI/AAAAAAAAANI/W_PIB6iZGG0/s320/rahmat-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456537163896563122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Rahmat” International Wildlife Museum &amp;amp; Gallery memiliki ±1000 spesies satwa dari berbagai negara. Kini, setelah dilakukan pengembangan gedung yang selesai pada 23 Oktober 2007, Museum &amp;amp; Galeri memiliki luas gedung 2970 m².&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum &amp;amp; Galeri telah menerima penghargaan internasional di bidang konservasi dalam upaya pencegahan kepunahan satwa liar dunia. Menampilkan berbagai koleksi satwa liar dari yang terkecil hingga yang terbesar sesuai dengan habitatnya. Suasana yang menyenangkan dan bangunan yang berarsitektur indah akan menyuguhkan dunia nyata kehidupan satwa liar serta lingkungan alamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirinya adalah penggemar olahraga berburu konservasi dan pecinta alam. Melalui Museum &amp;amp; Galeri ini beliau mengajak kita untuk lebih mengenal keanekaragaman satwa liar yang ada di dunia, mengenalkannya kepada anak-anak kita, sehingga kita semakin sayang dan menjaga kelestarian hidup satwa liar di dunia. Sebuah tempat yang dibangun sebagai sarana pendidikan penelitian sekaligus tempat wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALAMAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jalan S. Parman No.309, Medan 20112, Sumatera Utara&lt;br /&gt;Website: http://www.rahmatgallery.com&lt;br /&gt;E-mail: wildlife@rahmatgallery.com&lt;br /&gt;Tel: +62 61 4569964 (Hunting)&lt;br /&gt;Fax: +62 61 4575934&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JAM BUKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selasa – Minggu: 09.00 — 17.00 WIB&lt;br /&gt;Senin: Tutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KARCIS MASUK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dewasa: Rp 25.000,00&lt;br /&gt;Anak-anak: Rp 20.000,00&lt;br /&gt;Turis Asing: Rp 50.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rombongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa: Rp 12.500,00 (Berlaku untuk minimal 25 orang)&lt;br /&gt;SMP – SMA: Rp 10.000,00&lt;br /&gt;TK – SD: Rp 8.500,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tambahan tiket masuk ke Ruangan Night Safari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dewasa : Rp 10.000,00&lt;br /&gt;Anak-anak: Rp 8.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLEKSI DAN FASILITAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDqBNYX0I/AAAAAAAAANo/A3wEX-pW0Os/s1600/rahmat-5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 170px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDqBNYX0I/AAAAAAAAANo/A3wEX-pW0Os/s320/rahmat-5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456537181438369602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDp1ssAsI/AAAAAAAAANg/P08qMk88ENY/s1600/rahmat-4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 170px; height: 122px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDp1ssAsI/AAAAAAAAANg/P08qMk88ENY/s320/rahmat-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456537178348454594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDpmAYkxI/AAAAAAAAANY/wOuH_2poy0w/s1600/rahmat-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 170px; height: 118px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDpmAYkxI/AAAAAAAAANY/wOuH_2poy0w/s320/rahmat-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456537174136099602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDpFuHbMI/AAAAAAAAANQ/7xrEzaLrm6I/s1600/rahmat-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 169px; height: 122px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDpFuHbMI/AAAAAAAAANQ/7xrEzaLrm6I/s320/rahmat-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456537165469543618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PETA LOKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S70Sido6Z1I/AAAAAAAAANw/hVCuVDrtEhM/s1600/peta-rahmat.psd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 331px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S70Sido6Z1I/AAAAAAAAANw/hVCuVDrtEhM/s400/peta-rahmat.psd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457538706723989330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-3266016432534997499?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/3266016432534997499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/04/museum-dan-galeri-rahmat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3266016432534997499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3266016432534997499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/04/museum-dan-galeri-rahmat.html' title='Museum dan Galeri &apos;Rahmat&apos;'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S7mDo_3FpbI/AAAAAAAAANI/W_PIB6iZGG0/s72-c/rahmat-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-477867882899575120</id><published>2010-03-23T16:12:00.010+07:00</published><updated>2010-03-24T06:20:14.867+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Bank Indonesia'/><title type='text'>Museum Bank Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iKmZ3QE5I/AAAAAAAAAMg/SWfj8Wgn-mE/s1600-h/museum-bi-baru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iKmZ3QE5I/AAAAAAAAAMg/SWfj8Wgn-mE/s320/museum-bi-baru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451759741314274194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LATAR BELAKANG PENDIRIAN MUSEUM BANK INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral merupakan lembaga yang sangat vital dalam kehidupan perekonomian nasional karena kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh BI akan memiliki dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat. BI, yang didirikan pada tanggal 1 Juli 1953, telah lebih dari setengah abad melayani kepentingan bangsa. Namun, masih banyak masyarakat yang tidak mengenal BI, apalagi memahami kebijakan-kebijakan yang pernah diambilnya, sehingga seringkali terjadi salah persepsi masyarakat terhadap BI. Masyarakat sering memberikan penilaian negatif terhadap BI karena tidak cukup tersedianya data atau informasi yang lengkap dan akurat yang dapat diakses dan dipahami dengan mudah oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia setengah abad lebih ini akan semakin panjang lagi apabila diperhitungkan juga peran dari pendahulunya, yaitu De Javasche Bank (DJB) yang didirikan pada tahun 1828 atau 177 tahun yang lalu. Sementara itu, gedung BI Kota yang dulu dibangun dan digunakan oleh DJB, kemudian dilanjutkan pemakaiannya oleh BI dan saat ini praktis kosong tidak digunakan lagi, merupakan gedung yang mempunyai nilai sejarah tinggi yang terancam kerusakan apabila tidak dimanfaatkan dan dilestarikan. Pemerintah telah menetapkan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya. Di samping itu, BI juga memiliki benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan diolah untuk dapat memberikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilandasi oleh keinginan untuk dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai peran BI dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan BI yang diambil dari waktu ke waktu secara objektif, Dewan Gubernur BI telah memutuskan untuk membangun Museum Bank Indonesia dengan memanfaatkan gedung BI Kota yang perlu dilestarikan. Pelestarian gedung BI Kota tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang telah mencanangkan daerah Kota sebagai daerah pengembangan kota lama Jakarta. Bahkan, BI diharapkan menjadi pelopor dari pemugaran/revitalisasi gedung-gedung bersejarah di daerah Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang antara lain menjadi pertimbangan munculnya gagasan akan pentingnya keberadaan Museum Bank Indonesia, yang diharapkan menjadi suatu lembaga tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan aneka benda yang berkaitan dengan perjalanan panjang BI. Saat ini memang telah ada beberapa museum yang keberadaannya mempunyai kaitan dengan sejarah BI, namun museum-museum tersebut masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Selain itu, gagasan untuk mewujudkan Museum Bank Indonesia juga diilhami oleh adanya beberapa museum bank sentral di negara lain, sebagai sebuah lembaga yang menyertai keberadaan bank sentral itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Pendirian Museum Bank Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menunjang pengembangan kawasan kota lama sebagai tujuan wisata di DKI Jakarta, maka sangat tepat apabila gedung BI Kota yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah, dimanfaatkan menjadi Museum Bank Indonesia. Keberadaan museum ini nantinya diharapkan dapat seiring dan sejalan dalam mendorong perkembangan sektor pariwisata bersama museum-museum lain yang saat ini sudah ada di sekitarnya, seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Bahari di daerah Pasar Ikan. BI mengharapkan bahwa keberadaan Museum Bank Indonesia akan berarti terwujudnya suatu museum bank sentral di Indonesia, yang mempunyai misi untuk mencari, mengumpulkan, menyimpan, dan merawat benda-benda maupun dokumen bersejarah yang saat ini dimiliki, sehingga menjadi suatu sosok yang mempunyai nilai dan arti penting bagi masyarakat. Hal ini hanya akan dapat terwujud apabila kita dapat menyajikan semuanya dalam bentuk yang mampu memberikan informasi yang lengkap dan runtut, sehingga mudah dimengerti dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum yang direncanakan ini juga diharapkan dapat menjadi wahana pendidikan dan penelitian bagi masyarakat Indonesia maupun internasional tentang fungsi dan tugas BI, di samping merupakan wahana rekreasi. Dengan pencapaian tujuan-tujuan tadi, diharapkan fungsi humas dalam rangka membangun citra (image building) BI sebagai bank sentral akan dapat berjalan dengan lebih baik. Sesuai dengan fungsi BI, sosok museum yang direncanakan diharapkan dapat menunjukkan karateristik BI secara menyeluruh, dilihat dari aspek-aspek kelembagaan, moneter, perbankan, dan sistem pembayaran yang disusun secara historikal perspektif. Sepenuhnya disadari bahwa rencana pembangunan museum ini bukanlah suatu gagasan yang sederhana, melainkan suatu gagasan yang bersasaran ganda. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada, antara lain berkaitan dengan tingkat apresiasi masyarakat Indonesia terhadap museum yang relatif belum setinggi di negara-negara maju, proses perwujudan Museum Bank Indonesia jelas membutuhkan keuletan dan ketelitian. Mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan BI mengenai permuseuman, maka kerjasama dengan para ahli dari berbagai bidang diperlukan untuk bersama-sama mewujudkan gagasan ini secara menyeluruh dari tahapan konsep sampai dengan pelaksanaan fisik nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara persiapan pembangunan museum secara fisik terus dilakukan, Museum Bank Indonesia disajikan dalam bentuk cyber museum. Dalam Cyber Museum Bank Indonesia ini diceritakan mengenai perjalanan panjang BI dalam bidang kelembagaan, moneter, perbankan, dan sistem pembayaran yang dapat diikuti dari waktu ke waktu, sejak periode DJB hingga periode BI semasa berlakunya Undang-Undang No.11 tahun 1953, Undang-Undang No.13 tahun 1968, Undang-Undang No.23 tahun 1999, dan Undang-Undang No.3 tahun 2004 saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;center&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Jl. Pintu Besar Utara No. 3&lt;br /&gt;Jakarta Barat - Indonesia&lt;br /&gt;Telp. (6221) 2600158, Ext.8111, 8102, 8100&lt;br /&gt;Up : Gede Aryana&lt;br /&gt;Fax.62-21-2601730, Email: museum@bi.go.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Selasa - Jumat&lt;/td&gt;&lt;td&gt;08.00 - 15.30 WIB&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Sabtu - Minggu&lt;/td&gt;&lt;td&gt;08.00 - 16.00 WIB&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Senin &amp;amp; Hari libur nasional&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tutup&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karcis masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Gratis, tanpa dipungut biaya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi Museum Bank Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iI-1AllHI/AAAAAAAAAMY/mk1REse56UU/s1600-h/museum-bi-g.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 169px; height: 113px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iI-1AllHI/AAAAAAAAAMY/mk1REse56UU/s200/museum-bi-g.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451757961894794354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iI-gdR9CI/AAAAAAAAAMQ/4Hg2U0hJOOM/s1600-h/museum-bi-c.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 171px; height: 114px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iI-gdR9CI/AAAAAAAAAMQ/4Hg2U0hJOOM/s200/museum-bi-c.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451757956377998370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iI-FMtUWI/AAAAAAAAAMI/ToWQcvw3oXU/s1600-h/museum-bi-h.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 170px; height: 114px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iI-FMtUWI/AAAAAAAAAMI/ToWQcvw3oXU/s200/museum-bi-h.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451757949060731234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iI9ibkdlI/AAAAAAAAAL4/bTUy8jtGsFo/s1600-h/museum-bi-i.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 169px; height: 112px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iI9ibkdlI/AAAAAAAAAL4/bTUy8jtGsFo/s200/museum-bi-i.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451757939727824466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Denah Lokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6lMZ4LQkmI/AAAAAAAAAMw/RF74fxFsSpQ/s1600-h/denah-museum-bi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 318px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6lMZ4LQkmI/AAAAAAAAAMw/RF74fxFsSpQ/s320/denah-museum-bi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451972831368745570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-477867882899575120?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/477867882899575120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/03/museum-bank-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/477867882899575120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/477867882899575120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/03/museum-bank-indonesia.html' title='Museum Bank Indonesia'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S6iKmZ3QE5I/AAAAAAAAAMg/SWfj8Wgn-mE/s72-c/museum-bi-baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-530404572989494324</id><published>2010-03-08T12:37:00.005+07:00</published><updated>2010-03-08T13:03:49.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama'/><title type='text'>Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan Belanda pertama kali mendarat di Banten pada 1596. Menurut buku-buku sejarah, Banten merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar. Sebanyak 22 sultan pernah memerintah di sini. Banyak temuan arkeologis bertebaran di situs Banten Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan tertua berasal dari masa prasejarah. Yang termuda berasal dari masa kolonial. Banyak temuan yang berupa bangunan purbakala, dilestarikan di alam terbuka, sebagai museum terbuka atau open air museum. Sementara yang berupa benda-benda kecil tau mudah dipindahkan, disimpan dalam Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama berupa keramik, gerabah, mata uang, sisa-sisa hewan, benda logam, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;center&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Desa Kasemen, Banten Lama&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;center&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Selasa - Minggu&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 - 16.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Senin &amp;amp; Hari libur nasional&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tutup&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;center&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S5SRVMk2DBI/AAAAAAAAALk/A-Hsqq6Yga4/s1600-h/museum-banten-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 171px; height: 105px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S5SRVMk2DBI/AAAAAAAAALk/A-Hsqq6Yga4/s200/museum-banten-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5446137642736815122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S5SRVZ3lzGI/AAAAAAAAALs/f1Xp70lVOTI/s1600-h/museum-banten-2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 171px; height: 128px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S5SRVZ3lzGI/AAAAAAAAALs/f1Xp70lVOTI/s200/museum-banten-2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5446137646305102946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-530404572989494324?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/530404572989494324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/03/museum-situs-kepurbakalaan-banten-lama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/530404572989494324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/530404572989494324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/03/museum-situs-kepurbakalaan-banten-lama.html' title='Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S5SRVMk2DBI/AAAAAAAAALk/A-Hsqq6Yga4/s72-c/museum-banten-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7693793921649392124</id><published>2010-02-24T17:23:00.005+07:00</published><updated>2010-02-25T05:55:03.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Wayang'/><title type='text'>Museum Wayang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4UCofLcmyI/AAAAAAAAALM/FMLS_SYhI4w/s1600-h/museum-wayang-b.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 196px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4UCofLcmyI/AAAAAAAAALM/FMLS_SYhI4w/s200/museum-wayang-b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441758619334646562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gedung Museum Wayang telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Oude Hollandsche Kerk&lt;/span&gt; (Gereja Lama Belanda), dibangun pertama kali pada 1640. Pada 1732 diperbaiki dan berganti nama menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Nieuwe Hollandse Kerk&lt;/span&gt; (Gereja Baru Belanda) hingga 1808. Pada tahun yang sama bangunan ini hancur oleh gempa bumi. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung baru, yang sekarang menjadi Museum Wayang. Pemakaiannya sebagai museum diresmikan pada 13 Agustus 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, yang terbuat dari kayu, kulit, dan bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini, misalnya dari Tiongkok dan Kamboja. Hingga kini Museum Wayang mengoleksi lebih dari 4.000 buah wayang, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber, dan gamelan. Umumnya boneka yang dikoleksi di museum ini adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa, meskipun ada juga yang berasal dari beberapa negara non-Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India, dan Kolombia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara periodik Museum Wayang menyelenggarakan  pagelaran wayang pada minggu ke-2 dan  ke-3 setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;center&gt;Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27-29&lt;br /&gt;Jakarta 11110&lt;br /&gt;Telepon (021) 692-9560&lt;/center&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Selasa - Minggu&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 - 15.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Senin &amp;amp; Hari libur nasional&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tutup&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karcis Masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Dewasa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Mahasiswa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 1.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Anak-anak&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 600&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;center&gt;&lt;table border="2"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4UCpl4E6KI/AAAAAAAAALc/7WC7RiqXj7E/s1600-h/museum-wayang-h.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 170px; height: 104px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4UCpl4E6KI/AAAAAAAAALc/7WC7RiqXj7E/s200/museum-wayang-h.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441758638312319138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4UCo3Ui4AI/AAAAAAAAALU/fxvsOqpwjgI/s1600-h/museum-wayang-g.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 170px; height: 142px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4UCo3Ui4AI/AAAAAAAAALU/fxvsOqpwjgI/s200/museum-wayang-g.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441758625815257090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7693793921649392124?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7693793921649392124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-wayang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7693793921649392124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7693793921649392124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-wayang.html' title='Museum Wayang'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4UCofLcmyI/AAAAAAAAALM/FMLS_SYhI4w/s72-c/museum-wayang-b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-8740819176982866392</id><published>2010-02-24T07:18:00.010+07:00</published><updated>2010-02-24T08:42:02.962+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Bank Mandiri'/><title type='text'>Museum Bank Mandiri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4SDK_FbMjI/AAAAAAAAALE/YRFCGPKbKIM/s1600-h/logo-mandiri-museum.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 150px; height: 70px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4SDK_FbMjI/AAAAAAAAALE/YRFCGPKbKIM/s200/logo-mandiri-museum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441618474526519858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari rangkaian sejarah bank-bank pendahulu maupun bank-bank merger yang melebur menjadi PT Bank Mandiri, maka diperlukan upaya untuk menjaga agar rangkaian sejarah tersebut tidak terputus dan terlupakan begitu saja. Hal ini dilakukan dengan cara mengabadikan koleksi perkembangan sejarah Bank Mandiri secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan, paparan sejarah tersebut akan bermanfaat, tidak saja untuk mengenang kembali nilai-nilai historis yang terkandung di dalamnya, tetapi juga sebagai pemicu kemajuan dunia perbankan nasional pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan tersebut di atas menjadi pertimbangan Manajemen Bank Mandiri dalam merencanakan sebuah museum yang menyajikan sejarah perkembangan terbentuknya Bank Mandiri. Lokasi yang diperuntukan sebagai museum adalah aset gedung di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1 Jakarta-Kota, yang juga merupakan Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi yang diemban oleh Museum Bank Mandiri adalah menjadi museum perbankan yang berstandar internasional yang informatif, inspiratif, dan bermanfaat bagi masyarakat. Adapun misinya adalah mengembangkan Museum Bank Mandiri sebagai pusat dokumentasi sejarah Bank, sebagai sarana kultural-edukatif dan rekreatif bagi masyarakat, pengelolaan museum dengan manajemen profesional, turut berpartisipasi dalam revitalisasi bangunan bersejarah di kawasan “Kota Tua Jakarta” sebagai tempat tujuan wisata, serta menjalin kerja sama dengan semua pihak dalam rangka pengembangan museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta No. 237 tahun 2005, tanggal 19 Desember 2005 Gedung Museum Bank Mandiri mendapatkan penghargaan ”Sadar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya tahun 2005” di wilayah DKI Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah Gedung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Museum Bank Mandiri yang terletak di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1 (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stationsplein 1 - Binnen Niuewpoortstraat&lt;/span&gt;) merupakan bangunan peninggalan masa kolonial. Dahulunya berada dalam satu taman yang menyatu dengan Stasiun Kereta Api Jakarta-Kota atau Beos (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal sejarahnya bangunan ini merupakan Kantor Wilayah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nederlandsche Handel Maatschappij&lt;/span&gt; (NHM) di Hindia Timur yang lebih dikenal dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;de Factorij Batavia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan ini dirancang oleh arsitek NHM, J.J.J. de Bruyn bekerja sama dengan arsitek Belanda lainnya, A.P. Smits dan C. van de Linde yang keduanya bekerja pada biro arsitek &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hulswit, Fermont and Ed. Cuipers.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung berdiri di atas lahan seluas 10.039 M2 ini, diresmikan pada 14 Januari 1933, oleh C.J. Karel van Aalst, Presiden NHM ke-10. Pemancangan diawali dengan tiang beton bulan Juli 1929 oleh biro konstruksi NV Nedam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nederlandse Aanneming Maatshappij&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsitektur gedung berlantai empat seluas 21.509 M2 ini cenderung sederhana, berbentuk simetris dengan keberadaan taman di tengah gedung, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;main entrance&lt;/span&gt; tepat di tengah bagian depan bangunan.  Lantai dasar gedung ini dibuat lebih tinggi dari jalan raya, sehingga kesan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;entrance&lt;/span&gt;-nya terasa anggun.  Lantai lobi, ruang rapat, dan ruang direksinya memakai bahan mozaik keramik bercampur kaca (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;glasmozaiek-tegels&lt;/span&gt;). Sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;vloertegels&lt;/span&gt;) berwarna hitam, abu-abu dan merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lahirnya Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 1998 dan bergabungnya empat bank pemerintah: Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri, maka gedung warisan sejarah ini pun beralih menjadi salah satu aset Bank Mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan bagi materi koleksi museum adalah benda asli, reproduksi atau miniatur. Benda-benda ini pun harus mempunyai nilai sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Harus pula mencerminkan proses perkembangan lahirnya Bank Mandiri. Bahkan keberadaannya harus merupakan bukti pelaksanaan fungsi dan kegiatan bank yang mewakili suatu fenomena atau kecenderungan tertentu serta dapat diidentifikasi asal-usul, tipe/gaya, periode waktu, maupun fungsi kegunaannya sehingga dapat dijadikan suatu monumen sejarah atau diperkirakan menjadi monumen sejarah di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi koleksi yang ada di Museum Bank Mandiri terdiri atas jenis perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, arsip sejarah, dan jenis koleksi lainnya seperti perlengkapan pendukung operasional bank dan bahan pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi perlengkapan operasional bank tempo dulu yang unik, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;  peti uang,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;mesin hitung uang mekanik,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  kalkulator,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  mesin pembukuan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  mesin cetak,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;alat pres bendel,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  seal press,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  brandkast,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  safe deposit box,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  anak kunci lemari/pintu besi serta aneka surat berharga, seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi dan saham.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Ornamen bangunan, interior, dan furnitur asli dari gedung museum yang merupakan benda cagar budaya juga merupakan bagian dari koleksi yang perlu dilestarikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun koleksi pendukung operasional lainnya adalah sarana promosi, komunikasi, ekspedisi dan kesekretariatan, seragam pegawai dan perlengkapannya, peralatan teknologi informasi, komponen bangunan dan miniatur gedung kantor, serta perlengkapan sekuriti dan rumah tangga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai kurun waktunya, koleksi Museum Bank Mandiri dapat dikelompokkan berdasarkan periode bank-bank pendahulu mulai tahun 1826-1959/1960 dengan koleksi berasal dari masa NHM, Escomptobank, NIHB/NHB dan BIN, periode bank-bank bergabung tahun 1959/1960-1998 masa BBD, BDN, Bank Exim dan Bapindo, serta periode awal merger Bank Mandiri sampai dengan go public tahun 1999-2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;center&gt;Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1&lt;br /&gt;Jakarta Barat 11110&lt;br /&gt;Telepon +62 21 690-2000&lt;br /&gt;email: museum@bankmandiri.co.id&lt;/center&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Selasa - Minggu&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 - 16.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Senin &amp;amp; Hari libur nasional&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tutup&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karcis Masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Dewasa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Anak-anak&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Gratis&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Nasabah Bank Mandiri&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Gratis&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara Mencapai Museum&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Museum Bank Mandiri bisa dicapai dengan berbagai cara. Cara termudah adalah menggunakan bus Transjakarta. Museum Bank Mandiri persis berada di seberang terminal pemberhentian terakhir bus Transjakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Bila menggunakan kereta api, Museum Bank Mandiri juga berseberangan lokasinya dengan Stasiun Jakarta Kota atau populer disebut Stasiun Beos. Untuk lebih jelasnya silakan simak peta lokasi di bawah ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Banyak museum di kawasan ini. Ada juga Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Seni Rupa. Museum-museum ini saling berdekatan letaknya. Jadi manfaatkanlah waktu Anda sebaik mungkin di kawasan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peta Lokasi Museum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EZrhu9WQQiM/S3-Bcl1AK9I/AAAAAAAAAAk/KvFfjOO3-_Q/s1600-h/peta-mandiri-a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 344px; height: 471px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EZrhu9WQQiM/S3-Bcl1AK9I/AAAAAAAAAAk/KvFfjOO3-_Q/s400/peta-mandiri-a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440209203077589970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-8740819176982866392?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/8740819176982866392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-bank-mandiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8740819176982866392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8740819176982866392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-bank-mandiri.html' title='Museum Bank Mandiri'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4SDK_FbMjI/AAAAAAAAALE/YRFCGPKbKIM/s72-c/logo-mandiri-museum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-6593149596429494293</id><published>2010-02-23T18:59:00.007+07:00</published><updated>2010-02-23T19:22:53.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Layang-layang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'>Museum Layang-layang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PDqblYTrI/AAAAAAAAAKk/UsFKUmk01wc/s1600-h/museum-layang-3.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 150px; height: 99px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PDqblYTrI/AAAAAAAAAKk/UsFKUmk01wc/s200/museum-layang-3.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441407908520152754" border="0" /&gt; &lt;br /&gt;Perkembangan layang-layang di Indonesia cenderung mengarah kepada bentuk modern yang memungkinkan akan berdampak kepada hilangnya ciri layang-layang tradisional Indonesia. Sementara perkembangan layang-layang di dunia mengarah kepada bentuk dan motif yang artistik serta mengarah kepada pemanfaatan layang-layang di bidang teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada hal tersebut kami sekelompok pencinta layang-layang yang tergabung dalam Merindo Kites &amp;amp; Gallery mencoba untuk mengangkat dan melestarikan salah satu khazanah budaya dan memperkenalkan seni dan teknologi layang-layang dengan mendirikan Museum Layang-layang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Layang-layang didirikan oleh Endang W. Puspoyo pada 21 Maret 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;center&gt;Jalan H. Kamang No. 38&lt;br /&gt;Pondok Labu, Jakarta 12450&lt;br /&gt;Telepon (021) 7590-4863 dan 765-8075&lt;br /&gt;email: museum_layang@yahoo.com&lt;br /&gt;website: museum-layang.com&lt;/center&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="2"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Senin - Minggu&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 - 15.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="2"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PDq8eYlpI/AAAAAAAAAKs/ZH6-UEgkrvc/s1600-h/museum-layang-4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 170px; height: 70px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PDq8eYlpI/AAAAAAAAAKs/ZH6-UEgkrvc/s200/museum-layang-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441407917349181074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PDrV7-sZI/AAAAAAAAAK0/ln4EsJFcIf8/s1600-h/museum-layang-5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 170px; height: 128px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PDrV7-sZI/AAAAAAAAAK0/ln4EsJFcIf8/s200/museum-layang-5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441407924184199570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peta Lokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PGrNxS3ZI/AAAAAAAAAK8/4H1qAoeJrGE/s1600-h/museum-layang-2.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 343px; height: 177px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PGrNxS3ZI/AAAAAAAAAK8/4H1qAoeJrGE/s400/museum-layang-2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441411220526783890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-6593149596429494293?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/6593149596429494293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-layang-layang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/6593149596429494293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/6593149596429494293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-layang-layang.html' title='Museum Layang-layang'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S4PDqblYTrI/AAAAAAAAAKk/UsFKUmk01wc/s72-c/museum-layang-3.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-5010970377539918248</id><published>2010-02-18T10:24:00.005+07:00</published><updated>2010-02-22T05:05:46.902+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Polri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'>Museum Polri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan Musem Polri dicetuskan oleh Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri  dengan tujuan melestarikan nilai-nilai kesejarahan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pewarisannya kepada generasi mendatang. Polisi Indonesia adalah polisi pejuang sejak dicetuskannya Proklamasi Kemerdekaan RI. Deklarasi Polisi Istimewa di Surabaya tak lama setelah proklamasi kemerdekaan dilanjutkan dengan konsolidasi organisasi kepolisian yang bersifat nasional pada 1 Juli 1946 oleh Kepala Kepolisian Negara Jenderal Polisi R.S. Soekanto menjadi dasar keunikan sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia dibanding institusi kepolisian negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema kesejarahan tersebut disusun dalam sebuah sudut pandang yang menyajikan tema besar tentang upaya POLRI dalam menyelenggarakan keamanan dan ketertiban serta dinamika internal-eksternal yang mempengaruhi sosok lembaga kepolisian RI. Melalui Museum Polri, diharapkan muncul gambaran tentang watak kelembagaan Polri yang semakin modern, profesional, dan mandiri sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresmian Museum Polri dilakukan oleh Presiden SBY pada 1 Juli 2009, bertepatan dengan   HUT Kepolisian Negara Republik Indonesia atau yang lebih dikenal dengan hari Bhayangkara. Lokasi museum berdampingan dengan Markas Besar Kepolisian         Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Polri menampilkan ribuan foto dan berbagai benda bersejarah yang disajikan secara apik dan dilengkapi dengan fasilitas multimedia interaktif.  Museum ini terdiri atas tiga lantai, dilengkapi dengan  &lt;em&gt;Kids Museum atau Museum Anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;center&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;Alamat&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: auto; margin-right: auto;" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Jl. Trunojoyo No. 3&lt;br /&gt;Kebayoran Baru - Jakarta Selatan 12110&lt;br /&gt;Telp. (021) 7210-654&lt;br /&gt;e-mail: info@museumpolri.org&lt;br /&gt;website: www.museum.polri.go.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;table border="2"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Selasa - Minggu&lt;/td&gt; &lt;td&gt;09.00 - 16.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karcis Masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;G r a t i s&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi Museum Polri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.magtoo.com/tour.do?method=FlashVarsSender&amp;amp;E=0&amp;amp;S=0&amp;amp;T=1266464888934&amp;amp;fl_type=magtooSlider.swf" id="MagToo" name="MagToo" bgcolor="#FFFFFF" quality="high" allowscriptaccess="Always" swliveconnect="true" wmode="transparent" flashvars="tempID=1266464888934&amp;amp;serverURL=http://www.magtoo.com" height="200" width="300"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/em&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-5010970377539918248?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/5010970377539918248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-polri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/5010970377539918248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/5010970377539918248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-polri.html' title='Museum Polri'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7258790560421831494</id><published>2010-02-17T10:41:00.021+07:00</published><updated>2010-03-15T13:00:33.190+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Geologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><title type='text'>Museum Geologi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tq8hLKkgI/AAAAAAAAAJk/dJjgk-OyK0U/s1600-h/geologi-1.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 150px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439058562909901314" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tq8hLKkgI/AAAAAAAAAJk/dJjgk-OyK0U/s200/geologi-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Sejarah Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai koleksi geologi dan pertambangan terlengkap di Indonesia dapat dijumpai di Museum Geologi Bandung yang diresmikan pada 16 Mei 1929. Museum ini semula merupakan laboratorium, memiliki ragam koleksi batuan, mineral, meteorit, fosil, dan artefak yang telah dikumpulkan sejak 1850-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tqoqTWDaI/AAAAAAAAAJc/UaFg_T1KQQU/s1600-h/geologi-2.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; WIDTH: 150px; FLOAT: right; HEIGHT: 100px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439058221762743714" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tqoqTWDaI/AAAAAAAAAJc/UaFg_T1KQQU/s200/geologi-2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Koleksi unggulan yang terkenal adalah fosil manusia purba &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Homo erectus&lt;/span&gt;, fosil gajah purba &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Stegodon trigonocephalus&lt;/span&gt;, serta replika fosil dinosaurus karnivora terbesar dan terganas, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Tyrannosaurus rex&lt;/span&gt;. Kapan dan bagaimana bumi kita terbentuk, sejarah kehidupan dari masa ke masa, fenomena geologi Indonesia serta hubungan geologi dengan kehidupan manusia, dapat juga dipelajari di sini. Berbagai pameran, penyuluhan, dan kegiatan riset juga dilakukan di museum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/div&gt;&lt;table style="TEXT-ALIGN: left; MARGIN-LEFT: auto; MARGIN-RIGHT: auto" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Jalan Diponegoro, Bandung 40122,&lt;br /&gt;Telepon +62 22 721-3822&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3trKWMG-zI/AAAAAAAAAJs/V1Km4h2wJ3g/s1600-h/geologi-6.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;table style="TEXT-ALIGN: left; MARGIN-LEFT: auto; MARGIN-RIGHT: auto" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Senin - Kamis&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;09.00 - 15.30&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sabtu - Minggu&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;09.00 - 13.00&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jumat &amp;amp; Hari libur nasional&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tutup&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table style="TEXT-ALIGN: left; MARGIN-LEFT: auto; MARGIN-RIGHT: auto" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tsDW0e_0I/AAAAAAAAAJ8/X94e8T2YIDM/s1600-h/geologi-4.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 170px; DISPLAY: block; HEIGHT: 125px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439059779901128514" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tsDW0e_0I/AAAAAAAAAJ8/X94e8T2YIDM/s200/geologi-4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tsDLGh_XI/AAAAAAAAAJ0/QM2QQHxc3z4/s1600-h/geologi-3.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 170px; DISPLAY: block; HEIGHT: 125px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439059776755596658" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tsDLGh_XI/AAAAAAAAAJ0/QM2QQHxc3z4/s200/geologi-3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table style="TEXT-ALIGN: left; MARGIN-LEFT: auto; MARGIN-RIGHT: auto" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tvWEjL3HI/AAAAAAAAAKU/K6yUWqEJ-pY/s1600-h/geologi-5.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 170px; DISPLAY: block; HEIGHT: 125px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439063399949130866" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tvWEjL3HI/AAAAAAAAAKU/K6yUWqEJ-pY/s200/geologi-5.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tvA-fYpSI/AAAAAAAAAKE/pXmjGoHTTK4/s1600-h/geologi-6.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 170px; DISPLAY: block; HEIGHT: 125px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439063037545325858" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tvA-fYpSI/AAAAAAAAAKE/pXmjGoHTTK4/s200/geologi-6.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7258790560421831494?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7258790560421831494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-geologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7258790560421831494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7258790560421831494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-geologi.html' title='Museum Geologi'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3tq8hLKkgI/AAAAAAAAAJk/dJjgk-OyK0U/s72-c/geologi-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-165744712889066228</id><published>2010-02-16T06:17:00.017+07:00</published><updated>2010-02-25T06:04:03.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Sejarah Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'>Museum Sejarah Jakarta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bangunan Museum Sejarah Jakarta sudah cukup tua. Pada waktu penyerbuan pasukan Sultan Agung dari Mataram atas Benteng VOC di Batavia pada 1628, gedung ini terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut prasasti yang terdapat di sana, gedung ini pernah dipugar pada 1707 dan 1710. Bentuk itulah yang sampai sekarang masih bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan masyarakat gedung ini dikenal sebagai Gedung Bicara. Fungsinya adalah sebagai tempat pengadilan, sebagaimana terlihat adanya kamar-kamar tahanan di bagian belakang, depan, dan samping. Konon di sini pernah dilakukan pelaksanaan hukuman gantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kemudian, gedung ini menjadi Balai Kota atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stadhuis&lt;/span&gt; yang ditempati oleh Gubernur Jendral. Untuk menghormati Fatahillah, yang berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kalapa, maka di depan Museum Sejarah Jakarta dibuatkan taman yang diberi nama Taman Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta sendiri sering disebut Museum Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta memamerkan berbagai macam koleksi tentang  kepurbakalaan dan sejarah Jakarta hingga zaman kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Jalan Taman Fatahillah 1, Jakarta 11110&lt;br /&gt;Telepon +62 21 692-9101&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Selasa - Minggu&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 - 15.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Senin &amp;amp; Hari Libur Nasional&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tutup&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karcis Masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Dewasa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Mahasiswa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 1.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Anak-anak&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 600&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi Museum Sejarah Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.magtoo.com/tour.do?method=FlashVarsSender&amp;amp;E=0&amp;amp;S=0&amp;amp;T=1265771241262&amp;amp;fl_type=magtooSlider.swf" id="MagToo" name="MagToo" bgcolor="#FFFFFF" quality="high" allowscriptaccess="Always" swliveconnect="true" wmode="transparent" flashvars="tempID=1265771241262&amp;amp;serverURL=http://www.magtoo.com" height="200" width="300"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peta Lokasi Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3naDoqdL0I/AAAAAAAAAIc/1kpMXktC4Ts/s1600-h/peta-tua-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 328px; height: 247px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3naDoqdL0I/AAAAAAAAAIc/1kpMXktC4Ts/s400/peta-tua-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438617781016538946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Catatan: Museum Sejarah Jakarta = Museum Fatahillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-165744712889066228?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/165744712889066228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-sejarah-jakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/165744712889066228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/165744712889066228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-sejarah-jakarta.html' title='Museum Sejarah Jakarta'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3naDoqdL0I/AAAAAAAAAIc/1kpMXktC4Ts/s72-c/peta-tua-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-1181647039778148544</id><published>2010-02-16T05:29:00.028+07:00</published><updated>2010-03-16T10:05:24.037+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Nasional'/><title type='text'>Museum Nasional</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3oUYXbdv7I/AAAAAAAAAI8/ktsYVXzVshs/s1600-h/mus-logo-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 49px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3oUYXbdv7I/AAAAAAAAAI8/ktsYVXzVshs/s200/mus-logo-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438681908841922482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah Museum Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Museum Nasional berawal dari pendirian suatu himpunan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG)&lt;/span&gt;, oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the Age of Enlightenment&lt;/span&gt;) yang ditandai perkembangan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Pada 1752 di Haarlem, Belanda berdiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen&lt;/span&gt; (Perkumpulan Ilmiah Belanda). Hal ini mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BG merupakan lembaga independen, untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi, dan sejarah. Selain itu BG menerbitkan berbagai hasil penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ten Nutte van het Algemeen"&lt;/span&gt; (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pendiri lembaga ini, JCM Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Dia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna. Sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi direktur perkumpulan ini. Oleh karena rumah di Kalibesar sudah penuh dengan koleksi, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Literary Society &lt;/span&gt;(dulu disebut gedung "Societeit de Harmonie"). Bangunan ini berlokasi di Jalan Majapahit nomor 3. Sekarang di tempat ini berdiri kompleks gedung Sekretariat Negara, di dekat Istana Kepresidenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah koleksi milik BG terus neningkat hingga museum di Jalan Majapahit tidak dapat lagi menampung koleksinya. Pada 1862 pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dulu disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koningsplein West&lt;/span&gt;). Tanahnya meliputi area yang kemudian di atasnya dibangun gedung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rechst Hogeschool &lt;/span&gt;atau "Sekolah Tinggi Hukum" (pernah dipakai untuk markas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kenpetai&lt;/span&gt; di masa pendudukan Jepang, sekarang Kementerian Pertahanan dan Keamanan). Gedung museum ini dibuka untuk umum pada 1868.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya "Gedung Gajah" atau "Museum Gajah" karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada 1871. Kadang kala disebut juga "Gedung Arca" karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  1923 perkumpulan ini memperoleh gelar "koninklijk" karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (KBG)&lt;/span&gt;. Pada 26 Januari 1950 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;KBG&lt;/span&gt; diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya: "memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Museum Nasional bernaung di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Museum Nasional mempunyai visi yang mengacu kepada visi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, yaitu "Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan nasional, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antarbangsa".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Jalan Medan Merdeka Barat 12, Jakarta 10110&lt;br /&gt;Telepon +62 21 386-8172&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jam Buka&lt;/span&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Selasa - Kamis&lt;/td&gt;&lt;td&gt;08.30 - 14.30&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Jumat&lt;/td&gt;&lt;td&gt;08.30 - 11.30&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Sabtu&lt;/td&gt;&lt;td&gt;08.30 - 13.30&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Minggu&lt;/td&gt;&lt;td&gt;08.30 - 14.30&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Senin &amp;amp; Hari Libur Nasional&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tutup&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karcis Masuk&lt;/span&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Dewasa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 750&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Anak-anak&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 250&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi Museum Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;p style="visibility: visible;"&gt;&lt;object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-73.slide.com/widgets/slideticker.swf" style="width: 300px; height: 200px;" height="200" width="300"&gt;&lt;param name="movie" value="http://widget-73.slide.com/widgets/slideticker.swf"&gt;&lt;param name="quality" value="high"&gt;&lt;param name="scale" value="noscale"&gt;&lt;param name="salign" value="l"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt; &lt;param name="flashvars" value="cy=ms&amp;amp;il=1&amp;amp;channel=3098476543673042291&amp;amp;site=widget-73.slide.com"&gt;&lt;/object&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="white-space: nowrap;"&gt;     &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peta Lokasi Museum Nasional&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3nUpx0kqBI/AAAAAAAAAHs/I1aGdBnEmTI/s1600-h/peta-lokasi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 345px; height: 264px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3nUpx0kqBI/AAAAAAAAAHs/I1aGdBnEmTI/s400/peta-lokasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438611839240153106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-1181647039778148544?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/1181647039778148544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-nasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1181647039778148544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1181647039778148544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-nasional.html' title='Museum Nasional'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S3oUYXbdv7I/AAAAAAAAAI8/ktsYVXzVshs/s72-c/mus-logo-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4186708821895786406</id><published>2010-02-09T10:51:00.001+07:00</published><updated>2010-02-09T10:53:50.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Mendesak, Program Pendidikan Museologi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Sekitar 300 museum di seluruh Indonesia selama ini dikelola tanpa kurator yang benar-benar mengerti ilmu permuseuman atau museologi. Akibatnya, museum, yang sebagian besar milik pemerintah itu, hanya menjadi tempat menyimpan dan memajang benda-benda bersejarah tanpa ada susunan kronologi ataupun penjelasan konteks bagi pengunjungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian terungkap dalam perbincangan Kompas dengan guru besar Ilmu Arkeologi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Mundardjito, di Jakarta, Minggu (7/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?”Sebagian besar kepala museum negeri hanya mengelola masalah administrasi dan bukan orang yang memiliki latar belakang pendidikan formal museolog,” kata Mundardjito, yang menambahkan bahwa hingga kini belum ada satu lembaga pendidikan pun di Indonesia yang membuka program pendidikan ilmu permuseuman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, wajar saja jika masyarakat awam yang mengunjungi museum-museum itu bingung dan merasa tidak mendapatkan apa-apa karena penataan benda koleksi museum saat ini belum mampu menampilkan nilai informatif yang penting dan perlu diketahui berbagai lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemui terpisah, sejarawan Universitas Indonesia dan mantan Direktur Sejarah dan Museum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Anhar Gonggong, mengatakan, pemerintah dan sebagian orang yang menangani museum saat ini tak mengerti betul apa itu museum dan bagaimana fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;? Akibatnya, lanjut Anhar, benda-benda koleksi museum hanya dianggap sebagai sekumpulan benda mati yang tidak berbicara apa-apa tentang sejarah dan museum pun dikelola hanya dengan pendekatan pariwisata belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terpisah, Direktur Museum Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Intan Mardiana mengatakan, pada Tahun Kungjung Museum 2010 ini diharapkan setiap museum daerah di Indonesia mempunyai kreativitas sehingga museum menjadi lebih menarik dikunjungi oleh sejumlah kalangan. (DHF/IAM/LAM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Kompas, Selasa, 9 Februari 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4186708821895786406?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4186708821895786406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/mendesak-program-pendidikan-museologi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4186708821895786406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4186708821895786406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/mendesak-program-pendidikan-museologi.html' title='Mendesak, Program Pendidikan Museologi'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-3027202462876097339</id><published>2010-02-08T06:11:00.003+07:00</published><updated>2010-02-08T06:31:06.172+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GNCM'/><title type='text'>Kegiatan Gerakan Nasional Cinta Museum melalui Tahun Kunjung Museum 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tema: Museum untuk Persatuan dalam Perbedaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Internasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pameran Khasanah Sumatera bekerja sama dengan Museum Civilization Singapura; Pendukungan General Conference the International Council of Museums di Shanghai; Workshop Konservasi Koleksi Museum bekerja sama dengan Centre Culturel Francais de Jakarta&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Workshop Penyajian Koleksi Museum bekerja sama United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Duta Museum untuk Tahun Kunjung Museum 2010&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hari Museum Indonesia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelatihan di Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Launching di tujuh wilayah tentang Tahun Kunjung Museum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program Change Management&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pameran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Workshop&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lomba&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Festival&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seminar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sarasehan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penerbitan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghargaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program TV dan Radio&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ekskursi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Press Tour&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wajib Kunjung Museum untuk Siswa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Road Show&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Revitalisasi Museum&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Prioritas 11 Kabinet Indonesia bersatu adalah kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi yang secara substantif inti untuk kebudayaan adalah penetapan dan pembentukan pengelolaan terpadu untuk pengelolaan cagar budaya, revitalisasi museum, dan perpustakaan di seluruh Indonesia sebelum Oktober 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revitalisasi museum adalah upaya meningkatkan kualitas museum untuk melayani masyarakat sesuai dengan fungsi museum. Revitalisasi ini akan dilaksanakan selama lima tahun (2010-2014)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahun 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pembuatan rencana induk revitalisasi museum di Indonesia (blueprint)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelaksanaan pilot project (percontohan empat museum yang dipilih berdasarkan kriteria)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembuatan buku pedoman renovasi untuk museum yang lain (buku petunjuk)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahun 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Desain/perencanaan dan pelaksanaan 31 museum berikutnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahun 2012&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Desain/perencanaan dan pelaksanaan 12 museum berikutnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahun 2013&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Desain/perencanaan dan pelaksanaan 17 museum berikutnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahun 2014&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Desain/perencanaan dan pelaksanaan 15 museum berikutnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Selain museum yang direvitalisasi juga dilaksanakan pengembangan museum yang berskala nasional, yaitu pengembangan Museum Nasional Batik di Pekalongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-3027202462876097339?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/3027202462876097339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/kegiatan-gerakan-nasional-cinta-museum.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3027202462876097339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3027202462876097339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/kegiatan-gerakan-nasional-cinta-museum.html' title='Kegiatan Gerakan Nasional Cinta Museum melalui Tahun Kunjung Museum 2010'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-2439350704508580315</id><published>2010-02-08T06:05:00.003+07:00</published><updated>2010-02-08T06:11:40.115+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GNCM'/><title type='text'>Pelaksanaan Tahun Kunjung Museum 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Waktu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Kunjung Museum 2010 mengawali Gerakan Nasional Cinta Museum akan diselenggarakan dari tahun 2010 sampai dengan 2014&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Lokasi Penyelenggaraan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Tahun Kunjung Museum pada prinsipnya dilaksanakan di museum seluruh Indonesia, tetapi untuk prioritasnya akan diselenggarakan di tujuh propinsi, yaitu DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara. Sementara itu, Gerakan Nasional Cinta Museum akan dilaksanakan di museum-museum Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pihak Terkait&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah (Pusat dan Daerah)&lt;br /&gt;Asosiasi Museum&lt;br /&gt;Komunitas Cinta Museum&lt;br /&gt;Swasta&lt;br /&gt;Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-2439350704508580315?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/2439350704508580315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/pelaksanaan-tahun-kunjung-museum-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/2439350704508580315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/2439350704508580315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/pelaksanaan-tahun-kunjung-museum-2010.html' title='Pelaksanaan Tahun Kunjung Museum 2010'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-3534716307186089744</id><published>2010-02-08T05:29:00.006+07:00</published><updated>2010-02-08T05:43:13.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GNCM'/><title type='text'>Tagline, Logo, dan Jingle Tahun Kunjung Museum 2010</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tagline&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Museum di Hatiku&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Logo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S29BiW25vyI/AAAAAAAAADE/dw9cw8TtnK4/s1600-h/logo-bagus.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 140px; height: 177px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S29BiW25vyI/AAAAAAAAADE/dw9cw8TtnK4/s200/logo-bagus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435635333766692642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;MENYENANGKAN - LEKAT DI HATI&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Warna-warni sebagai representasi dunia baru yang menyenangkan yang akan didapat di museum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengarahkan persepsi masyarakat pada eksistensi museum untuk senantiasa dekat di hati.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan gambaran dinamika kehidupan baru museum yang akan datang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jingle&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masa terus berpacu takkan lelah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jejak-jejak sejarah, teruslah melangkah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peristiwa adalah anugerah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membawa berkah yang berlimpah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Museumku,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di sana temukan makna masa lalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang tak lapuk oleh waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menuju peradaban yang maju &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demi Indonesiaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Museumku di hatiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku berguru kepadamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menuju peradaban yang maju&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demi Indonesiaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Museum di hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-3534716307186089744?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/3534716307186089744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/tagline-logo-dan-jingle-tahun-kunjung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3534716307186089744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3534716307186089744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/tagline-logo-dan-jingle-tahun-kunjung.html' title='Tagline, Logo, dan Jingle Tahun Kunjung Museum 2010'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S29BiW25vyI/AAAAAAAAADE/dw9cw8TtnK4/s72-c/logo-bagus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-8341824557237362477</id><published>2010-02-08T05:18:00.002+07:00</published><updated>2010-02-08T05:21:48.315+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Edukasi: Agar Museum Menyenangkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;TIDAK mudah memang mendekatkan museum kepada masyarakat. Menurut Kartum Setiawan dari Komunitas Jelajah Budaya, salah satu komunitas yang gencar mengajak generasi muda berkunjung ke museum, orang enggan datang ke museum karena kemasannya kurang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung yang datang ke museum merasa punya jarak dengan koleksi yang dipajang di museum. ”Mereka kurang bersemangat karena tidak bisa merasakan pengalaman pada masa lalu,” kata Kartum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sekarang ini di beberapa museum mulai dibuat kegiatan yang bersifat memberikan pengalaman kepada pengunjung. Di Museum Tekstil, misalnya, pengunjung bisa merasakan pengalaman membatik dengan biaya Rp 35.000 dan hasilnya bisa dibawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Transportasi di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengajak pengunjung masuk ke ruang kokpit pilot pesawat DC-9 buatan 1980-an milik maskapai Garuda Indonesia dengan membayar Rp 2.500. Di museum ini, pengunjung juga bisa masuk ke rangkaian gerbong kereta luar biasa yang pernah membawa Bung Karno dan Bung Hatta hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta pada 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kiat lain. Komunitas Sahabat Museum, yang berdiri sejak 2002, mengemas acara kunjungan ke museum agar menarik perhatian masyarakat. Setiap mengunjungi museum, peserta akan mendapat cerita tidak hanya tentang museum dan koleksinya, tetapi juga tentang sejarah lingkungan museum tersebut. Misalnya tentang riwayat Tanah Abang, tempat berdirinya museum tekstil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Museum juga mengenalkan sejarah bangsa ini dengan berjalan-jalan. Salah satunya ke Kota Tua Jakarta, Januari 2009, yang menyedot sekitar 1.000 peserta. Untuk lebih menarik perhatian, peserta komunitas ini juga selalu mendapat penganan khas daerah yang dikunjungi. Saat jalan-jalan di daerah Betawi, misalnya, mereka mendapat roti buaya, bir pletok, dan es krim Ragusa. Intinya, publik diajak akrab dengan museum untuk mengenal peradaban bangsa pada masa lalu dan merefleksikannya dalam kehidupan kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(DHF/IND/IYA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Kompas, Minggu, 7 Februari 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-8341824557237362477?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/8341824557237362477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/edukasi-agar-museum-menyenangkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8341824557237362477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8341824557237362477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/edukasi-agar-museum-menyenangkan.html' title='Edukasi: Agar Museum Menyenangkan'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7679075156923962620</id><published>2010-02-08T05:12:00.004+07:00</published><updated>2010-02-08T05:22:12.470+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>NASIB MUSEUM Merana di Tengah Keramaian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Lusiana Indriasari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Perahu prawean yang dipakai masyarakat Madura sejak abad ke-17 ”terdampar” di halaman tengah Museum Bahari, Jakarta Utara. Banjir besar yang melanda Jakarta pada 2007 mengoyak salah satu koleksi museum yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta. Inilah potret buram kondisi museum kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S287H6_cyjI/AAAAAAAAAC0/9WD12O1CLSE/s1600-h/merana.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 251px; height: 169px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S287H6_cyjI/AAAAAAAAAC0/9WD12O1CLSE/s320/merana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435628282539985458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;KOMPAS / PRIYOMBODO&lt;br /&gt;Anggota Sahabat Museum membatik saat berkunjung ke Museum Tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (30/1).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banjir yang merendam museum hingga hampir 1 meter menyeret perahu prawean dari tempat penyimpanannya. Saat terseret banjir, perahu itu membentur tembok hingga beberapa pasaknya patah. Sebagian badan perahu juga ikut terkoyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perahu itu sengaja dibiarkan di halaman karena tanpa pasak perahu akan hancur kalau diangkat,” kata Sukma Wijaya (46), pemandu di Museum Bahari. Sudah hampir tiga tahun sejak banjir melanda, perahu Madura itu belum juga diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada informasi apa pun yang tertulis tentang perahu tadi. Namun, menurut Sukma, perahu prawean yang ornamennya berwarna-warni ini awalnya dipakai penduduk di pesisir utara Pulau Madura untuk berdagang rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Dengan perahu prawean, rempah-rempah itu dibawa ke kapal-kapal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan Belanda yang memiliki hak monopoli perdagangan di Asia, yang merapat di dekat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib perahu prawean hanya salah satu gambaran betapa muramnya kondisi beberapa museum yang ada di Jakarta. Keterbatasan dana menjadi alasan klasik kenapa museum yang menyimpan jejak peradaban manusia dan menjadi sumber ilmu pengetahuan ini terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi bangunan sebagian museum juga memprihatinkan. Sejak dibuka pada 1977, Museum Bahari kesulitan untuk merawat gedung tua yang ditempatinya, gedung bekas gudang rempah-rempah milik VOC yang dibangun pada 1652.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intrusi air laut merusak sebagian besar bangunan museum. Dinding di hampir seluruh bangunan museum mengelupas karena lembab. Catnya juga sudah kusam. Di beberapa bagian, lantai museum sering tergenang rembesan air laut dari dalam tanah, padahal elevasinya sudah ditinggikan. Kayu jati penopang bangunan mulai keropos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar museum, Menara Syahbandar yang menjadi bagian dari Museum Bahari rawan roboh. Menara ini miring sekitar 2,5 derajat dari garis tegak lurus karena tanah yang dipijaknya ambles. Pada beberapa kali kejadian gempa di Jakarta, petugas museum sampai harus menutup arus lalu lintas di depan menara karena khawatir menara akan roboh. Menara Syahbandar ini dulunya digunakan Belanda untuk mengawasi lalu lintas kapal yang akan keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Sejarah Jakarta, atau dikenal dengan nama Museum Fatahillah, di Jakarta Utara kondisinya jauh lebih bagus dari Museum Bahari. Hanya saja di beberapa bagian atap bangunan museum ini mulai bocor. ”Kami terpaksa menggeser-geser beberapa koleksi museum supaya tidak kebocoran jika hujan datang,” kata Rafael Nadapdap, Kepala Museum Sejarah Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafael mengatakan, anggaran yang diberikan kepada museum hanya cukup untuk perawatan rutin yang bersifat pembersihan ruangan dalam museum dan koleksinya. Pada 2008 dan 2009 bahkan tidak ada anggaran untuk merenovasi Museum Fatahillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sepi pengunjung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruknya kondisi museum, ditambah kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggali ilmu dari museum, membuat sumber informasi sejarah ini ditinggalkan masyarakat. Saking sepinya, Museum Reksa Artha milik Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) yang sudah 20 tahun lebih didirikan di Jalan Lebak Bulus I, Jakarta Selatan, lebih sering tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar, gedung museum yang berwarna hijau muda itu suasananya seperti sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Pagarnya berkarat. Pintu pagar menuju halaman ataupun pintu masuk gedung lebih sering terkunci rapat. Pos satpam dan menara penjaga di sudut halaman kosong melompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut warga sekitar museum, sebenarnya museum itu buka setiap hari. Hanya saja pengunjung harus lebih dulu mencari penjaga museum untuk minta dibukakan pintu. ”Habis, tidak setiap hari ada pengunjung yang datang ke museum,” kata Riswan, penjaga museum yang siang itu mengisi waktunya dengan nongkrong di sekitar lapangan futsal di dekat museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Reksa Artha menyimpan berbagai benda yang terkait dengan percetakan uang, seperti mesin kuno pencetak uang kertas dari awal abad ke-20 yang berukuran besar, alat pencetak uang logam, serta foto-foto yang menceritakan beratnya perjuangan pencetakan ORI (Oeang Republik Indonesia) untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi pada awal kemerdekaan RI. Berbeda dengan bagian luar museum yang tak terawat, bagian dalam ruangan besar yang dulunya berfungsi sebagai gudang tinta Perum Peruri itu bersih dan sangat terawat. Tidak terasa ada debu di lantai ataupun pada benda-benda pajangan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, museum pun terdesak oleh padatnya lingkungan. Museum Tekstil di Jalan KS Tubun Tanah Abang, Jakarta Pusat, sulit dicari pengunjung karena dikepung pedagang kaki lima. Akses masuk ke museum ini juga sulit karena sekitar 50 meter jalanan selalu dipadati kendaraan. Museum ini memiliki 1.872 koleksi kain dari seluruh wilayah Nusantara, antara lain kain batik, jumputan, tenunan, sulaman, dan produk tekstil lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Bahari juga kurang diminati pengunjung meski museum itu memiliki lebih dari 1.700 koleksi. Karena kekurangan tempat, museum ini hanya memamerkan sebagian koleksinya saja, antara lain miniatur kapal klasik dari zaman Kerajaan Majapahit hingga zaman VOC, miniatur kapal modern, serta beberapa perahu tradisional asli dari belahan Nusantara. Ada juga berbagai perlengkapan navigasi kapal pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, jumlah kunjungan di Museum Bahari rata-rata 30 orang. Menurut Sukma, pengojek sepeda onthel yang beroperasi di kawasan Kota Tua menambah ramai tamu yang datang ke Museum Bahari. Ironis memang. Budaya niaga maritim masa lalu berupa kapal itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berjumpa dengan ojek sepeda onthel dan pedagang kaki lima yang menjadi simbol parahnya perekonomian bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(Dahono Fitrianto/Yulia Sapthiani)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;(Kompas, Minggu, 7 Februari 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7679075156923962620?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7679075156923962620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/nasib-museum-merana-di-tengah-keramaian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7679075156923962620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7679075156923962620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/nasib-museum-merana-di-tengah-keramaian.html' title='NASIB MUSEUM Merana di Tengah Keramaian'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S287H6_cyjI/AAAAAAAAAC0/9WD12O1CLSE/s72-c/merana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4331961191267340093</id><published>2010-02-08T05:06:00.004+07:00</published><updated>2010-02-08T05:11:22.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Ke Museum Nonton "Hantu"?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh Dahono Fitrianto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Museum katanya adalah etalase peradaban suatu bangsa. Tapi apa yang terjadi di Jakarta? Di museum orang berpacaran, arisan, temu fans, bahkan ada yang ingin melihat hantu bergentayangan. Wow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S285faGIBxI/AAAAAAAAACs/38iuIFB4swc/s1600-h/hantu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 259px; height: 174px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S285faGIBxI/AAAAAAAAACs/38iuIFB4swc/s200/hantu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435626487003219730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;KOMPAS / PRIYOMBODO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siswa SMP berfoto di atas perahu koleksi Museum Bahari, Jakarta, Kamis (4/2). Kurangnya kesadaran para siswa terhadap benda-benda peninggalan masa lalu yang menjadi koleksi museum menjadikan koleksi tersebut rentan terhadap kerusakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Bahari di Jakarta Utara suatu kali digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar acara reality show Scarry Job. Pada acara televisi itu digambarkan museum penuh hantu gentayangan. Maka, Museum Bahari pun ramai dikunjungi orang, bukan karena koleksi sejarahnya, melainkan karena mereka ingin melihat sang hantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu titik yang paling diminati pengunjung adalah lukisan Laksamana Malahayati di lantai dua. Konon, katanya, bagian matanya bisa melirik. ”Dari biasanya cuma 30 pengunjung per hari, melonjak jadi 200 pengunjung per hari. Saya sampai capek mengantar tamu ke atas melihat lukisan itu. Akhirnya lukisan itu saya umpetin saja,” kata Sukma Wijaya (46), salah seorang penjaga Museum Bahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa lain terjadi di Museum Bahari, hari Rabu (3/2). Saat itu sepasang remaja asyik pacaran di atas salah satu perahu kayu koleksi museum, yang seharusnya bahkan tak boleh disentuh. Begitu melihat petugas museum, mereka kocar-kacir berloncatan dari atas perahu bak bajak laut kalah perang. ”Sulit mengatur pengunjung agar tidak menyentuh koleksi yang dipamerkan,” kata Sukma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari beralih ke Museum Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Hari Minggu (31/1) siang, serombongan anak muda berkaus merah memadati museum. Di kaus mereka tertulis kalimat ”seperti aku, seperti jiwaku”. Rombongan pencinta museum? Sahabat museum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, kami memang bukan Sahabat Museum. Kami Sahabat Peterpan!” tutur seorang ibu , pemimpin rombongan serba merah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat ini rutin datang ke Museum Nasional untuk melihat patung Ariel dan kawan-kawan, yang saat ini tersimpan di lantai dasar Gedung Arca. Tahun 2008, sebagai bentuk penghargaan atas sukses mereka di dunia musik Indonesia, perusahaan rekaman Musica Studio membuatkan patung Peterpan yang dititipkan di Museum Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setiap bulan, Sahabat Peterpan wilayah Jabodetabek rutin bikin acara di Museum Nasional buat lihat patung Peterpan,” ungkap Udji, Koordinator Sahabat Peterpan Jabodetabek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada agenda lain di museum selain melihat patung Peterpan? ”Ya, bagi yang belum pernah ke sini sempat keliling-keliling sebentar. Tetapi itu tidak kami acarakan khusus,” tutur Udji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sahabat museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah nasib museum. Ia dikunjungi, tapi tidak dipelajari. Museum Transportasi di kompleks Taman Mini Indonesia Indah, milik Kementerian Perhubungan, bisa dikunjungi ribuan orang pada hari libur. Namun, tidak semua datang untuk menikmati koleksi sarana transportasi bersejarah di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Banyak yang hanya memanfaatkan lingkungan museum untuk kumpul-kumpul di hari libur, misalnya untuk arisan atau foto-foto pre-wedding,” tutur Kepala Seksi Penyajian dan Edukasi Museum Transportasi Suningsih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suningsih, saat para pengunjung itu ditanya, apakah sudah melihat koleksi museum di dalamnya, sebagian besar menjawab belum pernah dan tidak tahu ada apa di museum itu. Sebagian pengelola museum masih memaklumi perilaku masyarakat tersebut dan melihat itu dari sudut pandang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menurut saya, itu bukan berarti mereka menyepelekan arti museum,” tutur Hamim, salah seorang pemandu di Museum Tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum, yang memanfaatkan rumah antik bekas milik orang Perancis itu, memang sering dipakai untuk berbagai kegiatan yang tidak berkaitan dengan permuseuman, mulai dari foto pre-wedding sampai resepsi pernikahan dan pesta ulang tahun. ”Secara tidak langsung, acara seperti itu bisa menjadi promosi bagi museum,” kata Hamim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada pengunjung yang benar-benar datang untuk melihat koleksi museum, biasanya adalah rombongan karyawisata anak sekolah atau pegawai dari instansi tertentu. Ada pula Sahabat Museum, sebuah komunitas pemerhati museum. Sejak dibentuk pada tahun 2002, komunitas ini sudah 75 kali menggelar acara mengunjungi museum bersama dan tempat-tempat bersejarah lain. ”Tujuan kami memang mengenalkan museum dan tempat sejarah kepada masyarakat,” ungkap Ketua Sahabat Museum Ade Purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan dari Universitas Indonesia, Anhar Gonggong, mengkritik pola pengelolaan museum yang menempatkan museum sebagai obyek wisata belaka. Para pengelola museum di Indonesia, lanjut Anhar, umumnya baru memahami museum sebagai kumpulan barang, lalu mengundang orang untuk menonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pengunjung pun datang ke museum (buat) lari-larian. Pejabat dan pengelola museum tak memberikan sosialisasi secara benar dan tepat, apa museum, apa tujuannya,” tandas Anhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi wajar saja jika sebagian besar orang kemudian menganggap benda-benda di dalam museum sekadar sebagai benda mati dan tidak berkaitan dengan dinamika kekinian masyarakat. Padahal, lanjut Anhar, benda-benda di dalam museum itu akan ”bicara” saat kita mengajak mereka berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ketika Anda lihat anting-anting, misalnya, kita bisa membaca bagaimana kondisi kultural yang berkembang saat anting-anting itu dibuat,” tutur mantan Direktur Sejarah dan Museum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum pun menjadi tempat untuk mengembalikan imaji kebesaran masa lalu, sebagai inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik. ”Waktu saya ke Paris, Belanda, saya datangi museum untuk sekadar mau berimajinasi, bagaimana orang Belanda dan Perancis membangun peradaban mereka di masa lampau. Mereka bisa mencapai kejayaan dalam situasi kekinian karena mereka punya masa lampau yang gemilang,” tandas Anhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(LUSIANA INDRIASARI/YULIA SAPTHIANI/ilham khoiri)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Kompas, Minggu, 7 Februari 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4331961191267340093?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4331961191267340093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/ke-museum-nonton-hantu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4331961191267340093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4331961191267340093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/ke-museum-nonton-hantu.html' title='Ke Museum Nonton &quot;Hantu&quot;?'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S285faGIBxI/AAAAAAAAACs/38iuIFB4swc/s72-c/hantu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-230151766546483674</id><published>2010-02-08T04:57:00.002+07:00</published><updated>2010-02-08T05:02:56.192+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Museum Pribadi Dari Cincin Pelacur sampai Pispot Kaisar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh: Ilham Khoiri dan Yulia Sapthiani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di tengah Jakarta yang sumpek ternyata ada beberapa museum pribadi. Dengan sistem janjian, kita bisa menikmati koleksinya, mulai dari peninggalan budaya bersejarah, karya seni rupa, sampai produk mode. Apa maknanya bagi kaum urban di Ibu Kota?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S283n9F7P5I/AAAAAAAAACk/-Cl2h7goi2g/s1600-h/cincin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 252px; height: 168px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S283n9F7P5I/AAAAAAAAACk/-Cl2h7goi2g/s200/cincin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435624434813321106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;KOMPAS/ARBAIN RAMBEY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salah satu ruangan museum pribadi yang sekaligus rumah tinggal Sjahrial Djalil di Kemang Timur 66, Jakarta Selatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum di Tengah Kebun.” Begitu tulisan pada pintu gerbang kayu di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan. Begitu masuk, ada lorong panjang diapit tanaman hias. Di depannya, berdiri rumah joglo tua. Di samping kanan rumah terhampar kebun menghijau dengan pepohonan tumbuh subur. Di tengah kebun itu terdapat beberapa patung batu atau perunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk dalam ruangan, ada lebih banyak koleksi lagi. Ada patung, lukisan, keramik, perabot rumah tangga, atau kerajinan. Semuanya ditata rapi di ruang tamu, kamar-kamar, beranda, teras, kamar mandi, dapur, hingga ruang makan di rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada sekitar 1.800 koleksi di sini,” kata Sjahrial Djalil (70), pengusaha periklanan pemilik Museum di Tengah Kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda-benda seni budaya itu berasal dari berbagai peradaban dunia, mulai dari Asia, Eropa, Amerika, Afrika, sampai Australia. Masanya berasal dari zaman prasejarah, masa klasik, pertengahan, sampai modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa koleksi sangat unik. Sebut saja arca Ganesha setinggi sekitar 173 sentimeter diletakkan di tengah kebun. Arca dari Jawa Tengah ini adalah Ganesha terbesar pada periode klasik, sekitar abad ke-9 Masehi. Ada pispot dari Dinasti Ming, China (abad ke-15 Masehi). Juga cincin pelacur dari Shanghai, China, dari abad ke-20 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sjahrial, Shanghai pada masa itu adalah kota perdagangan yang sangat ramai dengan kehadiran masyarakat dari berbagai penjuru dunia. Cincin berwarna putih dengan ornamen rumit itu diciptakan khusus untuk dipakai perempuan yang bekerja sebagai pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum ini adalah salah satu dari sejumlah museum pribadi di Jakarta. Sebut saja, antara lain, Museum Harry Dharsono di Cilandak, Museum Layang-layang di Pondok Labu, Jakarta Selatan; Akili Museum of Art di Kedoya, Jakarta Barat; atau Museum Martha Tilaar di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Kini, museum-museum itu terbuka untuk umum—tentu dengan perjanjian lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Variasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan sejumlah museum pribadi di Jakarta ini memperkaya khazanah permuseuman di tengah kondisi museum pemerintah yang sebagian besar memprihatinkan. Koleksinya lebih bervariasi karena si pemilik bebas dalam berekspresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Museum Harry Dharsono Anda akan diajak untuk menyimak banyak koleksi berharga buatan sang perancang, mulai dari masa kecilnya saat masih mengidap attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)—yaitu anak hiperaktif dan sangat mengganggu. Dari barang-barang yang dipajang kita bisa menyelami perjalanan hidup Harry. Di dekat pintu masuk terdapat sketsa gedung yang digambar Harry saat berusia 9 tahun. Gambar inilah yang kemudian dijadikan desain museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaun-gaun haute couture yang pernah dipakai orang penting dari sejumlah negara, termasuk Putri Diana, menjadi koleksi yang paling menonjol. Di sini juga terdapat berbagai pahatan batu, kain dari pintalan benang, sampai peralatan makan dari keramik. Ribuan benda koleksi ini dirotasi pemajangannya setiap 6 bulan. Sebagai tuan rumah, Harry sebisa mungkin menemani tamu dan menceritakan riwayat koleksinya. Pada akhir kunjungan, tamu dijamu teh atau kopi dan cemilan sambil dihibur penyanyi opera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Akili Museum of Art yang terletak di Perumahan Mutiara Kedoya. Di bangunan cantik bergaya modern-minimalis ini tersimpan 400-an karya seni rupa, seperti lukisan, patung, dan instalasi. Koleksinya mencakup karya seniman modern dan kontemporer dari Indonesia dan mancanegara, seperti dari China, Spanyol, Belanda, dan Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tanah Air kita bisa melihat karya pelukis old masters, seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, atau Affandi. Dari kalangan pelukis kontemporer ada karya S Teddy D, Agus Triyanto BR, dan Eko Nugroho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa mereka mau membuat museum dan membukanya untuk umum? Simak saja alasan Rudy Akili, pengusaha biro perjalanan, pemilik museum itu. ”Saya punya banyak koleksi karya seni. Sayang, kalau semua itu hanya saya nikmati sendiri. Saya buat museum agar banyak orang bisa ikut melihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mandiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan museum negeri yang mendapat dana dari pemerintah, museum milik Sjahrial, Harry, dan Rudy adalah museum-museum privat yang mandiri. Pengadaan, pemeliharaan, dan pengelolaan koleksi sepenuhnya ditanggung sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sjahrial rela merogoh kocek hingga miliaran rupiah demi mengusung koleksi bagus. Dia berjibaku mengikuti lelang di luar negeri, terutama lewat Balai Lelang Christie’s di London, New York, Hongkong, Australia, atau Amsterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan informasi kepada pengunjung, Sjahrial menerbitkan buku berisi foto koleksi dan keterangan. Demi keamanan, museum dilengkapi CCTV dan dijaga sejumlah petugas keamanan. Benda-benda berharga itu juga rutin diurus agar tetap terpelihara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun di Museum Harry, meskipun sebagian besar koleksi adalah karya sendiri, Harry berusaha melacak keberadaan gaun yang pernah dipakai putri dari sejumlah negara. Gaun-gaun itu dia minta untuk ditukar dengan pakaian-pakaian baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip sejarawan dari Universitas Indonesia, Anhar Gonggong, benda-benda itu sangat penting untuk membangun kebudayaan masa depan. ”Dalam museum kita melihat proses kreatif peradaban di masa lampau untuk membangun peradaban ke depan,” katanya.&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Kompas, Minggu, 7 Februari 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-230151766546483674?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/230151766546483674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-pribadi-dari-cincin-pelacur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/230151766546483674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/230151766546483674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-pribadi-dari-cincin-pelacur.html' title='Museum Pribadi Dari Cincin Pelacur sampai Pispot Kaisar'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S283n9F7P5I/AAAAAAAAACk/-Cl2h7goi2g/s72-c/cincin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4588662903896656663</id><published>2010-02-07T14:41:00.035+07:00</published><updated>2010-03-15T16:03:02.568+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalender Kegiatan 2010'/><title type='text'>Kalender Kegiatan Museum, Asosiasi Museum, dan Komunitas Museum Tahun 2010</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Sumatera (12)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;table border="1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama Museum&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan Unggulan dan Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;th&gt;&lt;br /&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Aceh&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran temporer 'Senjata tradisional di Aceh' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010), &lt;/span&gt;Pameran temporer 'Perang kolonial Belanda di Aceh' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Nov 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Sumatera Utara&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sosialisasi Tahun Kunjung Museum ke daerah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pekan sejarah dan pameran bersama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010), &lt;/span&gt;Pameran se-Sumatera 'Warisan Budaya Islam' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Okt 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum TB Silalahi&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;January Fantastic &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan 2010), &lt;/span&gt;Seminar pengkajian nilai-nilai budaya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(27 Feb 2010), &lt;/span&gt;Pesta budaya tradisional Batak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(17-24 Apr 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rahmat International Wildlife Museum &amp;amp; Gallery&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peringatan ulang tahun galeri dengan mengadakan berbagai perlombaan dan pemberian diskon tiket masuk &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(14 Mei 2010), &lt;/span&gt;Penanaman pohon &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan, Jun, Agu, Nov 2010), &lt;/span&gt;Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Indonesia dengan mengadakan lomba foto bertemakan 'puspa dan satwa' Indonesia serta seminar sehari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(5 Nov 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diskusi/Sosialisasi: Pelestarian upacara adat di Minangkabau&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Jun-Jul 2010), &lt;/span&gt;Festival permainan tradisional anak se-Sumatera Barat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010), &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Atraksi budaya di museum&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Mar-Nov 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Goedang Ransoem Sumatera Barat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seminar permuseuman tingkat Sumatera Barat dengan tema 'Menyambut Tahun Kunjungan Museum' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Feb/Mar 2010), &lt;/span&gt;Museum keliling&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Feb/Mar 2010)&lt;/span&gt;, Historical game, museum berdialog, lomba kreativitas &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Jambi&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemeran khusus Suku Anak Dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Agu/Sep 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Lampung&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba melukis bersama pada 1001 buah Berenuk/Maja/Tabow Kayow dalam rangka mendapatkan penghargaan internasional rekor MURI &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(22 Mar 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran Festival Sriwijaya&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Selatan (Monpera)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penanaman nilai-nilai juang 45 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun-Jul 2010)&lt;/span&gt;, Festival paduan suara lagu-lagu perjuangan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Bengkulu&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran koleksi museum se-Sumatera dan Nusantara &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Sep-Okt 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DKI Jakarta (25)&lt;/span&gt; &lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama Museum&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan Unggulan dan Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Nasional&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran perunggu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr 2010)&lt;/span&gt;, Pameran alat musik Nusantara &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Okt 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Paramita Jaya&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Musyawarah Daerah Paramita Jaya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr 2010)&lt;/span&gt;, Pameran bersama museum se-DKI di TMII&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Apr 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Kebangkitan Nasional&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peringatan Hari Kebangkitan Nasional: Upacara peringatan Harkitnas, Pameran pemuda penggerak kebangkitan, Seminar Kebangkitan Nasional &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Mei-Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Sumpah Pemuda&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peringatan ulang tahun Sumpah Pemuda ke-82: Upacara peringatan Sumpah Pemuda, Peluncuran buku biografi tokoh Sumpah Pemuda Jusupadi Danuhadiningrat&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Okt 2010)&lt;/span&gt;, Pameran temporer tokoh Sumpah Pemuda Jusupadi Danuhadiningrat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Perumusan Naskah Proklamasi&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Napak tilas Proklamasi kemerdekaan RI&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Basoeki Abdullah&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran lukisan potret yang didukung kegiatan berupa diskusi atau sarasehan tentang 'Lukisan Potret Sejarah dan Perkembangannya di Indonesia' serta Lomba lukis potret siswa-siswi SMU se-DKI &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Sep 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Sejarah Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Batavia Art Festival &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Bank Mandiri&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran bank tempo doeloe (Feb 2010), Night time journey at museum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr dan Nov 2010)&lt;/span&gt;, Pekan Museum Bank Mandiri &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Okt 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Bank Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba/kuis dalam rangka HUT Bank Indonesia &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;, Lomba/kuis dalam rangka HUT RI&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Monumen Pancasila Sakti&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Sep-Okt 2010)&lt;/span&gt;, Lomba kreativitas dan seni dalam rangka Hari Pahlawan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Nov 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Jendral AH Nasution&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran koleksi benda-benda yang berhubungan dengan pengabdian Jendral Besar AH Nasution &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Joang 45&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pekan Museum Joang 45: Pameran, Lomba cerdas cermat, Napak tilas, Seminar/diskusi&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;13&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum MH Thamrin&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pekan Museum MH Thamrin: Pameran, Pentas seni, Lomba-lomba &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;14&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Tekstil&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran tekstil batik Betawi, Pementasan budaya Betawi, Workshop batik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;15&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Monumen Nasional&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wisata budaya Monas&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (akhir pekan Jun-Des 2010)&lt;/span&gt;, Festival Monumen Proklamator/malam puisi merah putih&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;16&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Taman Mini Indonesia Indah&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Festival Museum Nusantara TMII&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;17&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Pusaka&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Parade Wira Budaya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Agu 2010)&lt;/span&gt;, Seminar 'Keris sebagai Warisan Budaya' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Des 2010)&lt;/span&gt;, Kirab pusaka tradisional&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (6 Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;18&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Penerangan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ceramah sosialisasi budaya tradisional &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(17 Jan 2010)&lt;/span&gt;, Kedai Film Nusantara &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;19&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Olahraga Nasional&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Workshop permuseuman, Lomba lari 5 K&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;20&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Bayt Al Qur'an&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran kaligrafi&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (6 Des 2009-31 Mar 2010)&lt;/span&gt;, Aneka lomba Qurani &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr dan Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;21&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Transportasi&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran mobil antik, Pameran perangko bergambar alat transportasi, Lomba fotografi bertema perkeretaapian&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;22&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Listrik dan Energi Baru&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba karya tulis hemat energi dan listrik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr 2010)&lt;/span&gt;, Seminar mengenai listrik dan energi untuk guru-guru SMA &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;, Lomba kendaraan tenaga surya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(26 Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;23&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Perangko&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba menulis surat dan membuat kartupos Imlek &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Feb 2010)&lt;/span&gt;, Pameran benda pos dari masa ke masa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(HUT Museum Perangko)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;24&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pusat Peragaan Iptek&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kampanye hemat air &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(22 Mar 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;25&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Minyak dan Gas Bumi&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba karya tulis hemat energi dan listrik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(26 Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (31)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;table border="1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama Museum&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan Unggulan dan Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Jawa Barat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Festival museum di Museum Sri Baduga, Museum KAA, dan Museum Geologi, dikoordinasi asosiasi museum bekerja sama dengan biro perjalanan. Kegiatan ini ditujukan terutama menjaring wisatawan mancanegara&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Bertepatan dengan Hari Museum Internasional 2010)&lt;/span&gt;, Kunjungan anak-anak berkebutuhan khusus ke Museum Sri Baduga, Museum KAA, dan Museum Geologi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Mei 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Geusan Ulun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran benda-benda keraton pada Festival Keraton Nusantara di Palembang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun-Jul 2010)&lt;/span&gt;, Acara Ngumbah Pusaka (pencucian koleksi pusaka) dan Kirab Pusaka &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(15-28 Feb 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Konferensi Asia Afrika&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran 'Menatap ke Sebelah Timur Sunda Kecil' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(21 Des 2009-22 Jan 2010)&lt;/span&gt;, Seminar 'Menatap ke Sebelah Timur Sunda Kecil' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(11 Jan 2010)&lt;/span&gt;, Festival Asia Afrika &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(18-24 Apr 2010)&lt;/span&gt;, Pameran mengenai wilayah perbatasan di Indonesia &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Des 2010-Jan 2011)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Pangeran Cakrabuwana Kab. Cirebon&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Launching Museum Pangeran Cakrabuwana &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr 2010)&lt;/span&gt;, Pagelaran kesenian sintren &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Mei 2010)&lt;/span&gt;, Pagelaran kesenian tari topeng &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BARAHMUS Jawa Tengah&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran bersama se-Jawa Tengah&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Jawa Tengah&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pagelaran wayang kulit 'Ringgit Purwo' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Setiap bulan/Selasa Kliwon)&lt;/span&gt;, Pagelaran wayang wong/wayang tonil/drama klasik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Setiap bulan/Sabtu Kliwon)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Radyapustaka&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Festival Pinjung Kencong &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Feb 2010)&lt;/span&gt;, Arak-arakan pemindahan arca dari tempat Go Tik Swan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Okt 2010)&lt;/span&gt;, Jamasan Pusaka (Rajamala) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(18 Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Soesilo Soedarman&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pentas seni dalam rangka perayaan Tahun Baru &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan 2010)&lt;/span&gt;, Pentas kuda lumping &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Sep 2010)&lt;/span&gt;, Gerak jalan sehat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Okt 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Tosan Aji Kab. Purworejo&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jamasan tosan aji dan ruwatan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Batik Pekalongan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemilihan Putra-Putri Batik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan 2010)&lt;/span&gt;, Pameran batik kontemporer &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Mar 2010)&lt;/span&gt;, Pemilihan Duta Museum Batik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr 2010)&lt;/span&gt;, HUT Museum Batik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Kereta Api Ambarawa&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kirab budaya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Mei 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Kretek Kudus&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba giling rokok &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Sep 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;13&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Mangkunegaran Surakarta&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;City Tour Ladies Program &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;, International Conference of Museum Curator &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;14&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Suaka Budaya Kasunanan, Museum Batik Danarhadi, Museum Samanhudi&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Haritage Trail 3 Museum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Juli 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;15&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Seni Rupa H. Widayat, Magelang&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba lukis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;16&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Sudirman Magelang&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sarasehan tokoh seni dan budaya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Feb 2010)&lt;/span&gt;, Sarasehan bidang kebudayaan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;17&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BARAHMUS Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karnaval 30 museum bersama komunitas seni budaya yang ada di DIY dan sekitarnya di Jalan Malioboro, Lomba marching band tingkat SD, SMP, dan SLTA se-DIY yang diselenggarakan di museum, Sepeda gembira bagi masyarakat dengan rute museum-museum di DIY&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;18&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pagelaran wayang kulit durasi singkat episode 'Ramayana' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;, Gelar Wisata Museum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(6-20 Nov 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;19&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Benteng Vredeburg&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba karya tulis ilmiah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr 2010)&lt;/span&gt;, Kemah budaya pelajar &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;20&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Pusat TNI AD 'Dharma Wiratama Yogyakarta'&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran koleksi benda-benda yang berhubungan dengan Sejarah TNI AD &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;21&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jendral Soedirman Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran koleksi benda-benda yang berhubungan dengan pengabdian dan perjuangan Panglima Besar Jendral Soedirman &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;22&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dewantara Kirti Griya&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peringatan HUT Taman Siswa dengan kegiatan jalan sehat dan wisata museum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;, Diskusi buku koleksi Ki Hajar Dewantara &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Okt 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;23&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Keraton Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gelar pentas/pertunjukan macapat, wayang golek, wayang kulit, beksan/tari dan karawitan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;, Lomba busana adat keraton &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;24&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rumah Budaya "Tembi" Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Macapatan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Setiap malam Rabu Pon sepanjang tahun)&lt;/span&gt;, Pameran seni rupa artis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr dan Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;25&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Jendral Ahmad Yani&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran koleksi benda-benda yang berhubungan dengan pengabdian dan perjuangan Jendral Ahmad Yani &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;26&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Jawa Timur&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Festival Tantular: Pagelaran kesenian tradisional, Apresiasi dan spontanitas seni, Lomba edukatif kultural, Seminar bagi pemerhati budaya dan guru bidang studi, Pasar seni &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Nov 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;27&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pusat Informasi Majapahit&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gerebeg Suro &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;28&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Surahmat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Theme Tour (Museum to Museum) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Mei 2010)&lt;/span&gt;, Pameran desain grafis 'Promosi Museum' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;, Heritage in Frame &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Okt 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;29&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Jawa Barat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Milangkala Museum Sri Baduga ke-30 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;, Festival permainan anak-anak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;, Ngabuburit di museum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;30&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Pati Ayam Kudus&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wisata sejarah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;, Mountain Tracking Patiayam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;31&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Prajurit&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Parade Wira Budya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bali, NTT, dan NTB (8)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama Museum&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan Unggulan dan Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HIMUSBA&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran besar Sanggar Dewata Indonesia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(20 Feb 2010)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, Festival Wayang Bali &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(10 Okt 2010)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, Penampilan konser musik ISI se-Indonesia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(10 Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Bali&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sosialisasi ke sekolah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(Mei/Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, Workshop &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(Sep 2010)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Monumen Perjuangan Rakyat Bali&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba lagu-lagu perjuangan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(Jul 2010)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, Lomba drama perjuangan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Subak Sanggulun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lomba Jegeg Bagus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, Utsawa Dharma Gita &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Nyoman Gunarsa&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Soft opening open stage 'Surya Candra Murti' NGM dan Pameran lukisan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(Jan 2010)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi NTT&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran 'Pengumpul Madu dari Ampoang'; Lontar yang bercerita tentang alam, manusia, dan kreasi; Seminar tentang pentingnya kehadiran sebuah museum &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Alor&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran bahari; Lomba desain motif tenun Alor; Lomba membuat alat penggilingan benang; Pembersihan moko secara adat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi NTB&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pertemuan museum se-Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Museum &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;(Mei 2010)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulawesi (3)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama Museum&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan Unggulan dan Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Sulawesi Selatan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran temporer &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Agu 2010)&lt;/span&gt;, Ceramah dan diskusi museum di kabupaten se-Sulawesi Selatan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr-Sep 2010)&lt;/span&gt;, Sosialisasi museum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr-Sep 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Sulawesi Tengah&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran budaya lokal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Sulawesi Utara&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran bersama tenun tradisional &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Sep 2010 bersamaan dengan Sail Bunaken)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalimantan (4)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama Museum&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan Unggulan dan Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Kalimantan Barat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran keliling museum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jun 2010)&lt;/span&gt;, Pameran regional Borneo (Kalimantan) dengan materi 'Khazanah Manik-manik Khatulistiwa' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jul-Agu 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Kapuas Raya 'Sintang'&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Workshop pembuatan tenun ikat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jan-Mar 2010)&lt;/span&gt;, Pembuatan anyaman khas Sintang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apr-Jun 2010)&lt;/span&gt;, Pembuatan tenun Klengkang dan Tekat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Okt-Des 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Upacara adat 'Mengayun Anak', Pameran 'Kerajinan Tradisional Kalimantan Selatan' &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Mar/Apr 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Negeri Propinsi Kalimantan Tengah&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengelolaan dan pengembangan pelestarian peninggalan sejarah purbakala museum bawah air; Pameran keliling dalam daerah di Kabupaten (Kotawaringin Barat) Pangkalan Bun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Istana (5)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama Museum&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan Unggulan dan Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Istana Negara dan Merdeka&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Istana untuk Rakyat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Setiap Sabtu dan Minggu)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Istana Kepresidenan Bogor&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Istana untuk Rakyat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Setiap Sabtu dan Minggu)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Istana Kepresidenan Cipanas&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Istana untuk Rakyat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Setiap Sabtu dan Minggu)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Istana untuk Rakyat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Setiap Sabtu dan Minggu)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Museum Istana Kepresidenan Tampak Siring Bali&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Istana untuk Rakyat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Setiap Sabtu dan Minggu)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komunitas Museum (5)&lt;/span&gt; &lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama Komunitas&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan&lt;/span&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Komunitas Hijau&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gelang "I Love Museum"&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lopian&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Animasi tentang museum&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Komunitas Film Nusantara Doc&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Festival film dokumenter di 15 kota&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sahabat Museum&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Komunitas Historia&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4588662903896656663?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4588662903896656663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/kalender-kegiatan-museum-asosiasi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4588662903896656663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4588662903896656663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/kalender-kegiatan-museum-asosiasi.html' title='Kalender Kegiatan Museum, Asosiasi Museum, dan Komunitas Museum Tahun 2010'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-3871062215868808469</id><published>2010-02-07T05:12:00.003+07:00</published><updated>2010-02-22T05:06:55.840+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Gula'/><title type='text'>Mengenal Gula di Museum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penulis: Adinda Putri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S23p3nIeO1I/AAAAAAAAACM/V1qURnQOkdk/s1600-h/museum-gula.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 249px; height: 165px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S23p3nIeO1I/AAAAAAAAACM/V1qURnQOkdk/s200/museum-gula.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435257466912652114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;MI/DJOKO S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INGIN mengetahui bagaimana proses membuat gula dan segala hal informasi mengenai gula, silahkan mampir ke Museum Gula di Klaten, Jawa Tengah. Museum ini menempati salah satu bangunan bekas tempat tinggal yang berada di kompleks Pabrik Gula Gondang Baru, Jogonalan, Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum ini berdiri atas prakarsa Gubernur Jawa Soepardjo Roestam dan mendapat dukungan penuh dari Direktur Utama PTP XV-XVI (Persero) pada 11 September 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercetusnya membuat museum ini karena pertimbangan bahwa perkembangan industri gula negara perlu ditunjang dengan data sejarah sebagai data untuk pengembangan lebih lanjut. Pertimbangan tersebut rupanya menjadi dasar perlunya museum gula didirikan sebagai tempat penelitian dan resmi beroperasi sejak 22 Agustus 1986 bertepatan dengan konggres International Society of Sugar Cane Technologist (ISSCT) XIX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koleksi museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi yang dimiliki terdiri dari peralatan tradisional, penanaman tebu, bibit tebu dan peralatan tradisional pemeliharaan tanaman tebu. Selain itu juga ada alat-alat mekanisme atau fabrikasi dari pabrik gula, serta beberapa foto penunjang antara lain: foto pabrik gula lama, foto upacara gilung pertama serta tiruan visualisasi ruang administrasi lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu ruangannya, kita dapat menyaksikan maket pabrik gula Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatra Selatan. Masih di ruang yang sama, dipajang koleksi yang berhubungan dengan proses produksi gula, sejak dari masa penanaman hingga pembuatan gula. Tak hanya alat pertanian yang digunakan dalam bercocok tanam tebu, bahkan sejumlah hama pengganggu tanaman juga dipajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada mesin-mesin yang digunakan di sebuah pabrik gula (manual-modern) dan alat laboratorium. Terlebih lagi di ruang berikutnya dipamerkan berbagai jenis perangkat kerja seperti mesin ketik, mesin hitung, juga alat hitung manual yang semuanya terlihat antik. Beberapa diantaranya dibuat tahun 1900-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah menariknya, adalah koleksi yang ada di sebelah kiri bangunan museum. Di sini ada lokomotif kuno yang dibuat Backer dan Rubb Prada Nederland tahun 1889 lalu ada loko buatan Jerman produksi tahun 1901, pedati (semacam gerobak yang digerakkan dengan sapi/kerbau), yang digunakan sebagai pengangkut tebu dari ladang ke pabrik, dan alat transportasi untuk inspeksi di perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jam Buka Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin-Kamis : pukul 07.00 - 14.00 WIB&lt;br /&gt;Jumat           : pukul 07.00 - 11.00 WIB&lt;br /&gt;Sabtu           : pukul 07.00 - 14.00 WIB&lt;br /&gt;Minggu         : pukul 08.00 - 12.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harga Karcis Masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dewasa : Rp 3.500,-&lt;br /&gt;b. Anak-anak : Rp 3.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lokasi Museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d/a. Pabrik Gula Gondang Baru Jalan Raya Jogja - Solo Km. 25, Klaten - Jawa Tengah. (*/OL-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(mediaindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-3871062215868808469?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/3871062215868808469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/mengenal-gula-di-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3871062215868808469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3871062215868808469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/mengenal-gula-di-museum.html' title='Mengenal Gula di Museum'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S23p3nIeO1I/AAAAAAAAACM/V1qURnQOkdk/s72-c/museum-gula.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-8743906137099946291</id><published>2010-02-06T12:11:00.002+07:00</published><updated>2010-02-06T12:14:37.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>TANAH AIR Getaran Gempa di Museum Merapi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh Mohamad Final Daeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebagai negeri dengan jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia, sangatlah pantas kiranya jika Indonesia memiliki ilmu pengetahuan dan wahana informasi seputar kegunungapian yang dapat diakses publik luas. Museum Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, menjawab kebutuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dari lebih kurang 500 gunung api yang terdapat di seluruh Nusantara, sebanyak 129 di antaranya dikategorikan sebagai gunung api aktif. Itu mencakup sekitar 13 persen dari jumlah gunung api aktif di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu tercipta karena tatanan geologi Indonesia yang berada di tumbukan tiga lempeng aktif dunia, yakni Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Semua gunung api aktif itu membentuk ”busur” yang terbentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, menjadi bagian dari apa yang disebut ”Cincin Api Pasifik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merapi (2.968 meter di atas permukaan laut/dpl), yang posisinya berada di simpul empat kabupaten, yakni Klaten, Magelang, dan Boyolali (Jawa Tengah) serta Sleman (DIY), merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Karena itu, wahana informasi dan edukasi publik terkait kegunungapian dan Gunung Merapi menjadi sangat diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terletak di Dusun Banteng, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Museum Gunung Merapi (MGM) berdiri. Lokasinya di lereng selatan Merapi yang berjarak sekitar 20 kilometer arah utara Kota Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa maksud. Selain merepresentasikan isi museum yang ”jualan” utamanya seputar kegunungapian, suasana alam pegunungan yang sejuk dan rindang menjadi daya tarik penting bagi pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, status Kabupaten Sleman sebagai daerah pariwisata sekaligus sentra pendidikan di DIY menjadikannya lokasi yang sangat strategis karena sejalan dengan tujuan pembangunan MGM, yakni sarana pariwisata dan edukasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Patungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MGM merupakan proyek patungan antara pemerintah pusat, Pemprov DI Yogyakarta, dan Pemkab Sleman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, 5 Desember 2005, dan diresmikan penggunaannya 1 Oktober 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum yang tergolong baru ini menempati lahan 3,5 hektar dengan luas bangunan 4.470 meter persegi, terdiri atas dua lantai. Desain bangunan merupakan kombinasi limas dan segitiga yang merepresentasikan bentuk gunung dan berbagai unsur budaya lokal, seperti rumah joglo, candi, dan Tugu Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki museum, tepatnya di pelataran utama, pengunjung akan langsung disuguhi replika raksasa Gunung Merapi. Replika itu tidak sekadar pajangan, tetapi juga menyajikan simulasi letusan Merapi tahun 1969, 1994, dan 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menekan salah satu tombol pilihan, asap buatan dari pucuk gunung dan efek cahaya merah yang menandakan jalur letusan akan muncul. Jika membutuhkan keterangan, pengunjung cukup menekan tombol ”narasi” yang menyajikan penjelasan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pamer museum di lantai satu terdiri atas dua bagian utama, yakni area umum dan khusus. Area umum menyuguhkan berbagai informasi berupa dokumentasi foto, gambar, dan data terkait gunung api secara umum, baik di dunia maupun di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun area khusus ditujukan spesifik untuk membahas Merapi secara lengkap. Di antaranya, informasi seputar evolusi kubah sejak tahun 1786 hingga 2006, mitos-mitos lokal seputar Merapi, berbagai peralatan pemantauan aktivitas vulkanik, dan dokumentasi dampak letusan Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipajang juga berbagai peralatan rumah tangga dan sebuah sepeda motor warga Dusun Kaliadem yang menjadi korban keganasan awan panas Merapi saat letusan tahun 2006. Sebagai bagian dari tujuan mitigasi bencana, MGM juga memuat informasi cara-cara penyelamatan diri dan deteksi dini bahaya letusan gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu atraksi menarik lain di lantai satu adalah plaza tematik Merapi. Ruangan berukuran sekitar 7 x 15 meter itu dibuat sebagai simulasi lingkungan yang serupa dengan kondisi di puncak Merapi. Pengunjung dapat merasakan proses erupsi Merapi melalui efek suara gemuruh dan tanah yang bergetar serta asap sulfat yang menyeruak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan (29), salah seorang pengunjung MGM yang ditemui hari Sabtu (23/1), mengaku puas dengan berbagai materi dan koleksi yang disajikan. ”Materi yang disajikan sarat informasi dan visualisasi. Saya jadi mudah menyerap pengetahuannya dan kemudian menjelaskannya kepada anak saya,” kata Ivan yang datang bersama istri dan putranya yang berusia tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung lainnya, Purnomo, guru di SD Muhammadiyah Turi, Sleman, tengah menyurvei MGM untuk rencana kunjungan murid-muridnya dalam waktu dekat. ”Pengetahuan dari sini sangat penting buat pembelajaran anak-anak. Masak mereka tinggal dekat Merapi, tetapi tidak tahu apa-apa soal gunung berapi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum mainan anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Yogyakarta juga ada museum dolanan anak. Museum yang bernama Kolong Tangga ini diklaim sebagai museum mainan anak tradisional pertama dan satu-satunya di Indonesia. Museum ini terletak di bawah kolong tangga masuk Gedung Konser Taman Budaya Yogyakarta. Diresmikan tahun 2008, museum tersebut setia memamerkan sekitar 400 mainan anak tradisional hingga kini walaupun ruang pameran seluas 4 x 15 meter persegi itu lebih sering sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah mainan asli Indonesia yang dimiliki Museum Kolong Tangga, di antaranya, adalah topeng kertas, replika merpati dari daun lontar, dan boneka-boneka kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas mainan berasal dari tahun 1940 sampai 1960 sehingga sudah sulit dijumpai pada masa kini. Tak hanya dari Indonesia, museum itu memiliki beragam mainan tradisional dari negara- negara di Eropa dan Asia, seperti India, China, dan Finlandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma di Jakarta ada museum kebaharian. Di Yogyakarta juga ada Museum Bahari, Museum Perjuangan, Museum Dewantara Kirti Griya (museum khusus tentang tokoh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara), Museum Dirgantara, Museum Seni Lukis Affandi, Museum Kontemporer Nyoman Gunarsa, Museum Sasmitaloka Pangsar Sudirman, Museum Benteng Yogyakarta, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, museum-museum ini layak menjadi salah satu kajian dan perhatian terkait dengan Tahun Kunjungan Museum yang dicanangkan pemerintah tahun 2010 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(Eny Prihtiyani dan Irene Sarwindaningrum)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Kompas, Sabtu, 6 Februari 2010)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-8743906137099946291?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/8743906137099946291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/tanah-air-getaran-gempa-di-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8743906137099946291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/8743906137099946291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/tanah-air-getaran-gempa-di-museum.html' title='TANAH AIR Getaran Gempa di Museum Merapi'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-341445745735283518</id><published>2010-02-06T12:03:00.007+07:00</published><updated>2010-02-22T05:19:46.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>TANAH AIR Melihat Sejarah Peradaban Manusia dari Yogyakarta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh Eny Prihtiyani dan Irene Sarwindaningrum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2z4kMxHjCI/AAAAAAAAACE/wS2yyJijltk/s1600-h/museum-sonobudoyo-a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 271px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2z4kMxHjCI/AAAAAAAAACE/wS2yyJijltk/s200/museum-sonobudoyo-a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434992151115566114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Busana adat Jawa dan berbagai peralatan nelayan menjadi bagian dari koleksi Museum Sonobudoyo Unit II, Jalan Wijilan, Yogyakarta, Jumat (5/2). Museum ini merupakan perluasan dari Museum Sonobudoyo di Alun-alun Utara, Yogyakarta, yang merupakan museum tertua di Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran puluhan museum di Yogyakarta telah menjadi magnet pariwisata. Museum-museum itu sekaligus mengukuhkan gelar Yogyakarta sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang menyandang gelar Kota Bersejarah bersama 88 kota besar lain di dunia, seperti Kyoto, Paris, dan London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada 37 museum yang saat ini eksis di Yogyakarta. Jumlah tersebut sekitar 15 persen dari total museum di Indonesia yang tercatat sebanyak 272 buah. Padahal, luas daratannya hanya sekitar 0,5 persen dari luas daratan di Nusantara. Tak berlebihan jika Yogyakarta mendapat julukan ”Kota Museum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predikat ”Kota Museum” pula yang membuat Yogyakarta sangat berkepentingan dalam pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010. ”Secara kuantitas kami memiliki banyak museum. Dari sisi kualitasnya, museummuseum tersebut juga layak dikunjungi. Bila daya tarik museum diperbesar, saya yakin museum menjadi idola baru. Tahun ini seharusnya menjadi milik Yogya,” kata Ketua Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DIY Thomas Haryonagoro. Thomas adalah pemilik Museum Ullen Sentalu, museum budaya di Kaliurang, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, museum-museum di Yogyakarta bisa dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni museum sejarah (misalnya Museum Yogya Kembali dan Museum Dirgantara), museum budaya (misalnya Museum Keraton dan Museum Sonobudoyo), serta museum pendidikan (misalnya Museum Biologi UGM dan Museum Ki Hajar Dewantara). Dari ketiga jenis tersebut, sebagian besar berupa museum budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir di setiap ruas jalan utama Kota Yogyakarta ada museum. Sebutan ”Kota Museum” semakin menemukan maknanya ketika kita melihat proses terjadinya museum di Yogyakarta yang bukan semata-mata lahir dari ide pemerintah. Banyak yang muncul justru dari spirit masyarakat atau komunitas tertentu. Museum Tani Jawa di Desa Kebonagung, Imogiri Bantul, misalnya, lahir dari kehendak segenap warga desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lahan seluas 1.000 meter persegi, setidaknya ada 260 koleksi alat-alat pertanian sumbangan dari para petani sekitar. Bangunan museum juga mirip rumah petani Jawa yang bercorak joglo. Sederhana, tetapi dari dalam bangunan ini orang bisa menyaksikan perjalanan budaya pertanian di pedesaan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Museum Tani Jawa Kristya Bintara mengatakan, pembangunan museum untuk mendukung pengembangan desa wisata Kebonagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Batik di Jalan Sutomo, Yogyakarta, juga lahir dari inisiatif pribadi, yakni dari keluarga Hadi Nugroho. Koleksi tertua Museum Batik adalah batik-batik tahun 1700-an, koleksi Van Zuylen dari Belanda, dan Oey Soe Thoen dari China. Koleksi-koleksi lainnya meliputi sekitar 5.000 kain batik gaya Pekalongan, Surakarta, ataupun Lasem. Tak ketinggalan 124 canting serta 35 peralatan membatik, seperti wok dan pewarna alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta Djoko Dwiyanto mengatakan, museum Yogyakarta mempunyai sejumlah koleksi bernilai budaya dan sejarah tinggi, mulai dari koleksi purbakala, Hindu-Buddha, Islam, kolonial, hingga zaman modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari zaman Hindu-Buddha, terdapat koleksi prasasti perunggu dari abad ke-8. Prasasti yang tersimpan di Museum Sonobudoyo merupakan sumber utama penulisan sejarah kuno Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, terdapat pula sejumlah koleksi dan karya raja-raja Jawa yang terus-menerus menjadi kajian nilai budaya pada masa lalu. Di antara serat berharga itu adalah Serat Ambya dari abad ke-16. Serat yang masih tertulis di lembaran-lembaran lontar itu berisi kisah para nabi dalam perspektif masyarakat pada masa lalu. Terdapat pula lima salinan Serat Jati Pusaka Makuta Raja dari zaman Sultan Hamengku Buwono V yang sudah tertulis di kertas, tetapi masih dengan tulisan tangan. Serat ini sering dikaji karena sarat akan ilmu kepemimpinan yang masih relevan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu koleksi unggulan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;masterpiece&lt;/span&gt;) Museum Sonobudoyo adalah Genta Pemanggil Dewa peninggalan abad ke-4 sebelum Masehi &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(catatan administrator: wartawan bersangkutan salah info, seharusnya bukan abad ke-4 SM tetapi abad ke-8 M)&lt;/span&gt;. Foto genta perunggu itu digunakan sebagai ikon Museum Sonobudoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan bagian dari biara Candi Kalasan, diduga genta digunakan dalam upacara-upacara keagamaan Buddha untuk mengusir roh jahat. ”Ini masterpiece karena bentuknya yang lebih besar dari genta-genta lain dengan hiasan yang rumit dan indah,” ujar Kepala Seksi Bimbingan Informasi dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo Diah Tutuko Suryandaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain koleksi-koleksi itu, terdapat pula sejumlah koleksi emas, seperti topeng wajah sebagai lambang keabadian sesudah kematian, cincin stempel tipe Dieng berhuruf Pranegari, kalung dan liontin, serta sirkam (sisir kulit penyu dengan kepala emas). Piranti-piranti emas dengan hiasan berukir ini menunjukkan tingginya peradaban pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan 42.598 koleksi benda bersejarah, Sonobudoyo tengah digagas menjadi museum internasional. Sonobudoyo dikukuhkan menjadi museum dengan jumlah koleksi terbanyak setelah Museum Nasional (Museum Gajah, Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam alur besar, keberadaan museum di Yogyakarta seperti kehadiran sebuah mozaik kehidupan yang lengkap, mulai dari kehidupan purba hingga modern. Dari museum-museum di Yogyakarta itu kita bisa belajar tentang perjalanan sejarah peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ungkapan seorang pengunjung Museum Ullen Sentalu ada benarnya, ”Mengunjungi museum membuat kita menemukan dunia baru, yakni pemahaman sejarah dan spirit yang muncul dari benda-benda koleksinya. Ternyata, kehidupan di keraton sudah ada sikap Gusti Nurul yang antipoligami bisa menjadi sumber informasi wacana kesetaraan jender.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Kompas, Sabtu, 6 Februari 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-341445745735283518?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/341445745735283518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/tanah-air-melihat-sejarah-peradaban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/341445745735283518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/341445745735283518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/tanah-air-melihat-sejarah-peradaban.html' title='TANAH AIR Melihat Sejarah Peradaban Manusia dari Yogyakarta'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2z4kMxHjCI/AAAAAAAAACE/wS2yyJijltk/s72-c/museum-sonobudoyo-a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4809063008832057351</id><published>2010-02-06T07:18:00.003+07:00</published><updated>2010-02-06T12:17:21.439+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Optimis Dengan Tahun Kunjungan Museum 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sukses program Visit Indonesia Year yang telah meningkatkan kepariwisataan Indonesia, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2010 melaksanakan program yang lebih optimistis lagi, yaitu Tahun Kunjung Museum 2010. Program ini memiliki peranan strategis sebagai wahana pengguat program revitalisasi museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian diungkapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Direktur Museum Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Intan Mardiana, yang dihubungi secara terpisah hari Jumat (1/1) di Jakarta. "Program Tahun Kunjungan Museum 2010 dicanangkan 31 Desember 2009 guna meningkatkan wisatawan, baik domestik maupun asing tahun 2010," kata Jero Wacik. Data sementara kunjungan wisata mancanegara (wisman) ke Indonesia sebesar 6.459.665 wisatawan, mengalami peningkatan sebesar 0,4 persen dibandingkan dengan kunjungan wisman pada tahun 2008 yang sebesar 6.429.027 wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devisa dari wisman ke Indonesia pada tahun 2009 berdasarkan data sementara sebesar 6,4 miliar dollar AS, mengalami penurunan sebesar 12,3 persen dibandingkan dengan penerimaan devisa pada tahun 2008 sebesar 7 ,3 miliar dollar AS. Penurunan disebabkan menurunnya pengeluaran per wisman per kunjungan pada tahun 2009 sebesar 995,93 dollar AS dan lama tinggal 7,69 hari dibandingkan tahun 2008 yang masing-masing 1.178,54 dollar AS dan 8,58 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jero Wacik menjelaskan, program Tahun Kunjung Museum yang didukung dengan berbagai kegiatan di museum seluruh Indonesia tersebut, bertujuan untuk memperbesar jumlah pengunjung museum serta meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Program yang dibarengi dengan mereposisi museum, gairah masyarakat berkunjung ke museum akan semakin meningkat, sehingga museum menjadi lebih semarak dan hidup dalam pengelolaannya," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Museum Intan Mardiana mengatakan, Tahun Kunjung Museum 2010 merupakan momentum awal memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang dilaksanakan selama 5 tahun (2010-2014). Salah satu kegiatan dalam program GNCM adalah revitalisasi museum untuk mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum. Dengan program GNCM, tahun 2014 akan terwujud museum Indonesia yang menarik dan informatif serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gerakan Nasional Cinta Museum adalah upaya penggalangan kebersamaan antarpemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan tahun Kunjung Museum pada prinsipnya dilaksanakan di museum seluruh Indonesia, tetapi untuk prioritasnya akan diselenggarakan di tujuh provinsi, yaitu di DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara. Sepanjang tahun 2010, sebanyak 89 museum di Indonesia sudah mengagendakan kegiatan unggulan, selain pameran budaya lokal, upacara adat, pagelaran kesenian dan diskusi, juga ada workshop. (acandra/kompas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(disbudpar.jatimprov.go.id)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4809063008832057351?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4809063008832057351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/optimis-dengan-tahun-kunjungan-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4809063008832057351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4809063008832057351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/optimis-dengan-tahun-kunjungan-museum.html' title='Optimis Dengan Tahun Kunjungan Museum 2010'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-455735698774064739</id><published>2010-02-06T07:00:00.003+07:00</published><updated>2010-02-06T12:17:41.620+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Puluhan Ribu Koleksi Museum Teronggok di Gudang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Museum Nasional Indonesia saat ini memiliki koleksi tak kurang dari 145.000 benda, yang meliputi koleksi prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik dan heraldik, relik sejarah, etnografi dan geografi. Namun yang bisa dipamerkan kepada umum, baru sekitar 50 persen dari jumlah  koleksi. Sisanya, 50 persen, lainnya masih tersimpan di gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keberadaan museum adalah untuk menyelamatkan dan melestarikan benda warisan budaya bangsa Indonesia. Sekaligus pusat studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif," kata Kepala Museum Nasional Retno Sulistianingsih S di Jakarta, Jumat (5/2/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung museum nasional rata-rata sekitar 1.000 orang per bulan, dan 80 persen di antaranya para pelajar. Sedangkan pengunjung asing kebanyakan peneliti yang tertarik dengan warisan budaya Indonesia. Pada Tahun Kunjung Museum 2010, Museum Nasional menargetkan pengunjung kelas menengah ke atas lebih banyak berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retno menjelaskan, dari kunjungannya ke sejumlah museum nasional di luar negeri seperti Singapura, China, dan Belanda, museum nasional Indonesia tidak kalah ramai dan hebat dari museum nasional luar negeri. Bedanya, di luar n egeri masyarakat dan publik turut membiayai operasional museum, sesuatu yang belum pernah ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadikan museum nasional di luar negeri itu lebih menarik dan banyak pengunjung, mereka bekerja sama dengan berbagai museum negara lain dan menggelar pameran. Semua biaya, baik pengepakan, pengiriman barang-barang dan asuransi ditanggung oleh mereka dan biayanya dari publik, bukan dibiayai pemerintah. "Kalau kondisi seperti di luar negeri terjadi di Indonesia, Museum Nasional diyakini bisa menggaet pengunjung kelas menengah ke atas," papar Retno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sejumlah koleksi Museum Nasional Indonesia asal Sumatera, sedang dipamerkan di Museum Nasional Belanda di Leiden, Belanda, sejak 13 Oktober 2009 hingga 18 April 2010. Usai dipamerkan di Belanda, koleksi Museum Nasional Indonesia dipamerkan di Singapura, mulai Agustus 2010 untuk jangka waktu tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama seperti ini tidak hanya menguntungkan pihak Belanda atau Singapura, tetapi juga Indonesia, karena dipromosikan di luar negeri, tanpa keluar biaya dari kita. Pengalaman museum nasional asing itu akan dicobakan di Indonesia. "Kerjasama dengan Museum Nasional Iran, Museum Indonesia akan memamerkan sejumlah koleksi unik dan menarik dari Iran, seperti mummi," kata Retno Sulistianingsih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihubungi terpisah, Direktur Museum Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Intan Mardiana, mengatakan, pada Tahun Kungjung Museum 2010 ini diharapkan masing-masing museum daerah di Indonesia mempunyai kreativitas sehingga museum menjadi lebih menarik dikunjungi oleh berbagai kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Kunjung Museum 2010 adalah momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum, yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan. "Salah satu kegiatan dalam Gerakan Nasional Cinta Museum adalah revitalisasi museum, yang bertujuan untuk mewujud kan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan, lanjut Intan, dengan program Gerakan Nasional Cinta Museum tahun 2014 akan terwujud museum Indonesia yang menarik dan informatif, serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(kompas.com, Jumat, 5 Februari 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-455735698774064739?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/455735698774064739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/puluhan-ribu-koleksi-museum-teronggok.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/455735698774064739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/455735698774064739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/puluhan-ribu-koleksi-museum-teronggok.html' title='Puluhan Ribu Koleksi Museum Teronggok di Gudang'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-3228849573918218468</id><published>2010-02-05T08:05:00.008+07:00</published><updated>2010-02-22T05:08:53.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Taman Mini'/><title type='text'>Museum-museum di Taman Mini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Asmat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t1-6YwnQI/AAAAAAAAAAk/GunxX76IeVs/s1600-h/museum-asmat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 201px; height: 86px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t1-6YwnQI/AAAAAAAAAAk/GunxX76IeVs/s320/museum-asmat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434567099038080258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Asmat berlokasi di atas lahan Taman Bunga Keong Emas. Museum ini dapat dicapai melalui dua pintu masuk: berjalan kaki melalui Taman Bunga Keong Emas atau melewati jembatan Taman Aquarium Air Tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung museum mencontoh model rumah kariwari, yakni rumah pemujaan suku Tobati-Enggros, penduduk asli di tepi Danau Sentani, Papua, namun dikembangkan menjadi bangunan berarsitektur modern. Gedung terdiri atas tiga bangunan utama dan dua bangunan penghubung yang masing-masing berbentuk segi delapan, diberi kesan rumah panggung. Atap berbentuk kerucut tiga setinggi 25 meter berbahan GRC dan pada permukaannya diberi kesan daun rumbia. Di berbagai bagian bangunan diberi ragam hias dengan warna khas Asmat, yakni merah, putih, dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga bangunan utama digunakan untuk ruang pameran tetap koleksi museum, sedangkan dua bangunan penghubung sebagian dimanfaatkan untuk ruang pameran tetap dan sebagian lagi untuk ruang administrasi, serta ruang pimpinan museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda-benda pameran berupa benda-benda budaya yang mengandung nilai keperkasaan dan mencerminkan pandangan hidup orang Asmat yang selalu berkait dengan nenek moyang. Ikatan batin dengan nenek moyang itu diwujudkan dalam ukiran perlambang di berbagai benda keseharian. Untuk memudahkan pengunjung memahami kehidupan suku Asmat secara keseluruhan, tata pameran disusun berdasar tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema pameran bangunan pertama berupa Manusia dan Lingkungannya, memamerkan bermacam pakaian adat dan perhiasan, diorama mata pencaharian hidup (menokok sagu), perahu arwah kendaraan roh nenek moyang (wuramon), patung nenek moyang (mbis pole), dan berbagai hiasan perlambang yang menceritakan gejala kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran pada bangunan kedua bertema Manusia dan Kebudayaannya, memamerkan peralatan untuk membuat sagu, peralatan berburu, senjata, benda budaya dan upacara, perkusi (tifa), alat musik tiup dari bambu (fu), dan kapak batu (si).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema pameran pada bangunan ketiga adalah Manusia dan Hasil Kreativitasnya, memamerkan seni kontemporer yang merupakan hasil pengembangan pola-pola rancangan seni tradisional. Benda-benda yang dipamerkan berupa hasil seni modern orang Asmat yang mengacu pada permintaan pasar tetapi masih berpijak pada pola rancangan tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping pameran tetap, Museum Asmat juga menyelenggarakan kegiatan secara berkala dengan tema khusus, misalnya Gelar Lomba Kreasi Tari Gerak Asmat dan Lomba Mewarnai Gambar Ragam Hias Asmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t2sDvCHTI/AAAAAAAAAAs/pohtwWGCJ-Q/s1600-h/museum-indonesia-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 201px; height: 222px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t2sDvCHTI/AAAAAAAAAAs/pohtwWGCJ-Q/s320/museum-indonesia-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434567874641534258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gedung Museum Indonesia berarsitektur Bali tiga lantai dikembangkan dari filosofi tri hita karana, yang menjelaskan adanya tiga sumber kebahagiaan manusia, yakni hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Indonesia menjalankan fungsinya melalui pameran tetap dengan tiga tema. Lantai I bertema Bhinneka Tunggal Ika, menampilkan pakaian adat dan pakaian pengantin secara lengkap yang meliputi 27 provinsi, sesuai dengan jumlah provinsi di Indonesia pada saat peresmiannya. Koleksi pakaian pengantin dan pakaian adatnya paling lengkap dan tidak dijumpai di museum lain di Indonesia, bahkan di dunia. Pameran keanekaragaman pakaian adat dan pakaian pengantin sekaligus merupakan cermin kemajemukan budaya masyarakat Indonesia, baik dilihat dari sisi agama, pakaian, kesenian, maupun adat istiadatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran di lantai II bertema Manusia dan Lingkungan, menampilkan benda-benda budaya di lingkungan sekitar yang diwujudkan dalam bentuk rumah tradisional berupa rumah tinggal, rumah ibadat, dan lumbung padi. Bangunan-bangunan tersebut disesuaikan dengan keadaan lingkungan, misalnya rumah di dataran rendah, di atas pohon, dan di atas sungai. Selain itu ditampilkan ruang/bagian rumah, antara lain kamar pengantin Palembang, ruang dalam Jawa Tengah, dan ruang dapur Batak. Benda budaya dan peralatan mata pencaharian yang dipamerkan meliputi alat perikanan, alat berburu dan meramu, alat pertanian, serta upacara-upacara daur hidup (life cycle rites) yang ditampilkan dalam bentuk diorama, meliputi upacara tujuh bulan (mitoni), upacara turun tanah, upacara khitanan, upacara potong gigi (mapedes), upacara penobatan datuk, dan pelaminan Sumatera Barat yang mewakili upacara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran di lantai III bertema Seni dan Kriya, menampilkan hasil seni garapan dan seni ciptaan baru, antara lain aneka kain yang meliputi songket, tenun, dan batik; berbagai benda kerajinan dari bahan logam perak, kuningan, dan tembaga; seni ukir dari bahan kayu gaya Jepara, Bali, Toraja, dan Asmat. Pohon hayat—yang diilhami gunungan dalam pertunjukkan wayang sebagai pembuka, pergantian, dan penutup suatu adegan dalam pertunjukan wayang—berdiri megah setinggi delapan meter dan lebar empat meter, lambang alam semesta yang mengandung unsur udara, air, angin, tanah, dan api. Penempatan Pohon hayat di lantai III sekaligus menutup rangkaian cerita atas seluruh tema pameran secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pameran tetap, secara berkala Museum Indonesia juga menyelenggarakan pameran dengan tema khusus, antara lain pameran topeng, kain, senjata, dan lukisan yang didukung oleh peragaan yang berkait dengan tema, misalnya peragaan membatik dan menatah wayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum dilengkapi fasilitas Bale Panjang, Bale Bundar, dan bangunan Soko Tujuh yang dapat disewa oleh masyarakat umum untuk keperluan pesta pernikahan, seminar, ataupun pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Keprajuritan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t3TlwTJiI/AAAAAAAAAA0/E9Heqc7aG2g/s1600-h/museum-keprajuritan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 201px; height: 135px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t3TlwTJiI/AAAAAAAAAA0/E9Heqc7aG2g/s320/museum-keprajuritan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434568553788548642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di jalur luar bagian selatan terdapat sebuah bangunan megah Museum Keprajuritan Indonesia berbentuk benteng bersegi lima yang dikelilingi perairan. Perairan sekeliling benteng ini menggambarkan negara kepulauan dengan doktrin Wawasan Nusantara. Misinya adalah melestarikan bukti dan rekaman sejarah perjuangan bangsa pada masa-masa perjuangan sejak abad ketujuh sampai abad kesembilanbelas. Oleh karena itu setiap segi bangunan dan benda yang ditampilkan memiliki makna perlambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang utama berbentuk model bangunan abad keenambelas, mencerminkan sifat keterbukaan dan keramahtamahan rakyat Indonesia. Di setiap sudut bangunan terdapat menara pengintai atau bastion, menyiratkan kewaspadaan nasional. Dua kapal tradisional—yaitu kapal Banten dan kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan—bersandar di danau, melambangkan kekuatan maritim dari barat sampai ke timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyajian pameran dalam bentuk diorama, fragmen patung, dan relief, baik bagian luar maupun bagian dalam. Pameran bagian luar berupa paduan relief yang menyatu ke dinding gedung bagian luar, meliputi 19 adegan kisah panjang perjuangan bangsa dari abad VII sampai abad XIX, antara lain sewaktu Raden Wijaya mengusir tentara Cina tahun 1292, pertempuran di Benteng Sao Paolo tahun 1575 di Maluku dan Sultan Ageng menyerang Kastel Batavia tahun 1628.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pamer bagian dalam menyajikan 14 diorama yang menggambarkan cerita perlawanan terhadap penjajah untuk mempertahankan tanah air. Juga terdapat tiruan senjata, meriam, pakaian perang, panji-panji, formasi tempur serta boneka peraga yang mengenakan busana prajurit tradisional. Di samping itu juga dipamerkan 23 patung pahlawan dari perunggu berukuran 1¼ kali besar manusia yang ditempatkan mengelilingi panggung di dalam gedung, di antaranya Gajah Mada, Cut Nyak Dien, dan Pattimura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bulan Oktober, dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, museum menyelenggarakan kegiatan pawai prajurit tradisional yang diikuti oleh berbagai daerah provinsi di Indonesia. Panggung terbuka yang dimiliki dapat digunakan untuk pentas musik atau kegiatan lain baik siang maupun malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Komodo dan Taman Reptilia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t3vSD8RfI/AAAAAAAAAA8/0hND_JZJf2k/s1600-h/museum-komodo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t3vSD8RfI/AAAAAAAAAA8/0hND_JZJf2k/s320/museum-komodo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434569029538563570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Fauna Indonesia “Komodo” dan Taman Reptilia menampilkan pesona satwa langka dalam bentuk awetan dan reptilia hidup. Arsitektur bangunannya mengambil bentuk komodo, satwa yang hanya hidup di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, berdiri di atas lahan seluas 10.120 m² dengan luas bangunan 1.500 m².&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema pameran adalah keanekaragaman satwa di Indonesia, dari barat sampai timur, dan dari pantai sampai pegunungan, ditata dalam dua lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi lantai I berupa berjenis-jenis binatang mamalia dan reptilia lengkap dengan kondisi lingkungan alamnya. Jenis-jenis yang hampir mengalami kepunahan ditampilkan, antara lain harimau, gajah dan beruang. Di dalam vitrin-vitrin disajikan berbagai macam kupu-kupu yang terdapat di seluruh Indonesia; berjenis keong, kerang, kepiting, dan udang; serta binatang beruas, meliputi kaki seribu, laba-laba, dan kala jengking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi lantai II berupa berjenis-jenis burung yang diopset dan ditata sesuai dengan habitatnya, meliputi yang hidup di laut, pantai, rawa, persawahan, lapangan, perkebunan, dasar rimba, hutan, dan pegunungan dengan daerah asal Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Reptilia yang menghadirkan koleksi reptilia hidup dibangun di sekitar gedung museum pada 20 April 2001. Pengunjung dapat mengenali satu per satu satwa unik tersebut mulai dari komodo, biawak, kadal, ular berkaki, ular sanca, king kobra, penyu, kura-kura leher ular, kura-kura buaya, kodok, buaya, iguana, dan binatang reptil lainnya. Anak-anak yang memiliki rasa keingintahuan lebih dapat bebas memegang dan bercengkerama dengan ular sanca di Taman Sentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Minyak dan Gas Bumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t4D26M_aI/AAAAAAAAABE/k9Gj-PcBX8w/s1600-h/museum-migas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 199px; height: 113px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t4D26M_aI/AAAAAAAAABE/k9Gj-PcBX8w/s320/museum-migas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434569383027211682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Minyak dan Gas Bumi “Graha Widya Patra” (Gawitra) terletak di bagian timur TMII berdekatan dengan Taman Burung dan Museum LEB. Pembangunan Museum Migas menandai peringatan 100 tahun industri minyak dan gas bumi Indonesia, merupakan sumbangan masyarakat perminyakan Indonesia demi melestarikan dan mewariskan nilai-nilai juang kepada generasi penerus untuk peningkatan ilmu dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung utama berbentuk anjungan lepas pantai dengan dua bangunan pendukung berbentuk gilig menyerupai tangki minyak, disebut Anjungan Eksplorasi dan Anjungan Pengolahan. Ruang pamer terdapat di gedung utama dan di anjungan eksplorasi. Pameran di gedung utama mengenai sejarah industri perminyakan. Di ruang ini terdapat Teater Minyak yang memutar film pendek dan multislide mengenai asal-mula serta hasil pengolahan minyak dan gas bumi di Indonesia. Selain itu terdapat ruang untuk pameran berbagai benda dan bahan mengenai minyak dan gas bumi yang ada di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjungan eksplorasi mengetengahkan eksplorasi minyak dan gas bumi, termasuk peragaan sejarah terjadinya cekungan minyak dan gas bumi serta penerapan teknologi di masa yang lalu, sekarang, dan yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar gedung dipamerkan peralatan pengeboran minyak dan peragaan benda-benda eksplorasi berupa menara bor tahun 1930-an, berbagai pompa angguk, sebuah truk logging tua, pompa bensin engkol, dan sebuah kilang minyak tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Olahraga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t4VjG-6qI/AAAAAAAAABM/dD66ACHWvng/s1600-h/museum-olahraga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 201px; height: 87px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t4VjG-6qI/AAAAAAAAABM/dD66ACHWvng/s320/museum-olahraga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434569686949751458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bentuk bangunan Museum Olahraga sungguh unik, yakni berbentuk bola menghadap ke arah Teater Keong Emas. Berdiri di atas tanah 1,5 hektar dengan luas bangunan 3.000 m2, museum ini bertujuan memberikan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya olah raga bagi kesehatan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lobi lantai dasar menampilkan motto yang mencerminkan nilai hakiki olahraga, antara lain sportivitas dan perjuangan. Pameran meliputi sejarah olahraga antarbangsa, menampilkan perjuangan bangsa Indonesia dalam mengikuti kegiatan olahraga di dunia internasional, seperti Olimpiade Helsinki dan Asian Games; tokoh olahraga, menampilkan para pejuang olahraga yang telah mengharumkan nama bangsa di bidang keolahragaan dan para tokoh yang berkecimpung dalam bidang olahraga; sejarah olahraga nasional, menampilkan sejarah berdirinya stadion pertama Indonesia dan pelaksanaan PON I tahun 1948 di Solo; serta keberhasilan tim Everest, menampilkan perjuangan Tim Kopassus dalam menaklukkan Gunung Himalaya dan Tim Dewaruci yang menampilkan maket kapal Dewaruci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai dua terdiri atas ruang pamer olahraga berprestasi, menampilkan pelbagai alat olahraga dan penghargaan berupa medali dan piala para atlet yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia; permainan tradisional, menampilkan sejumlah alat permainan tradisional dari berbagai provinsi; serta Pekan Olah Raga Nasional (PON), menampilkan berbagai hal mengenai PON-I sampai dengan PON-9, dan alat perwasitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai tiga terdiri atas ruang pamer diorama yang menampilkan permainan tradisional dari berbagai provinsi dalam bentuk lukisan dan patung dengan ukuran sebenarnya, antara lain lompat batu dari Pulau Nias, pasola dari Nusa Tenggara Timur, karapan sapi dari Madura, dan dayung berdiri dari Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum juga memaparkan sejarah singkat olahraga nasional, antara lain anggar, atletik, bulutangkis, panahan, pencak silat, sepakbola, tenis lapangan, dan bola voli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas pendukung berupa auditorium, ruang serba guna, ruang fitnes, lapangan tenis, dan kantin dapat dimanfaatkan masyarakat umum. Setiap Minggu pagi pengunjung dapat mengikuti senam ‘aerobik bersama’ dalam program Minggu Ria di halaman museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Perangko Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t43VeFOZI/AAAAAAAAABU/2DRyJKqQPtc/s1600-h/museum-prangko.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 201px; height: 154px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t43VeFOZI/AAAAAAAAABU/2DRyJKqQPtc/s320/museum-prangko.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434570267404089746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Prangko dihiasi sejumlah ukiran dan patung gaya Bali dan Jawa, dikelilingi pagar tembok dengan dua pintu gerbang yang mengambil model dasar candi bentar. Di sayap kanan dan kiri terdapat dua bangunan yang luas masing-masing 402 m2, sayap kanan digunakan kantor pengelola dan tempat pertemuan, sedangkan sayap kiri untuk kantor pos. Museum ini memamerkan koleksi aneka perangko Indonesia dan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu masuk berdiri patung Hanoman, yang dalam pewayangan dikenal sebagai dhuta dharma pembawa berita, misinya sama dengan tugas pos. Di samping kiri dan kanan pintu masuk ada dua lukisan gaya Bali karya pelukis Wayan Sutha yang merupakan cuplikan cerita pewayangan versi Bali, menggambarkan bahwa pada masa sebelum kertas dikenal seperti sekarang surat-menyurat menggunakan daun ‘ron’ tal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pamer I menyajikan berbagai koleksi, antara lain foto bahan dan alat yang digunakan untuk menulis surat pada daun tal (ron tal); miniatur alat angkut surat tahun 1602 sampai tahun 1864; serta foto-foto perangko pertama di dunia yang dikenal dengan The Penny Black, tokoh pencetus perangko Sir Rowland Hill, Kantor Pos pertama di Batavia, perangko pertama Belanda yang terbit tahun 1852, dan klise perangko Belanda pertama bergambar Raja Willem III yang diterbitkan 1864.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pamer II menampilkan materi berupa patung seorang perancang perangko, sejumlah slide proses pembuatan prangko dan proses melukis hingga menjadi perangko, silinder cetak yang digunakan untuk mencetak perangko seri lukisan Raden Saleh, dan penampang fiber glass mesin cetak perangko lima warna yang digunakan oleh Perum Peruri dilengkapi dengan motor penggerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ruang pamer III dapat dilihat sejumlah perangko yang terbit tahun 1864-1950 pada masa pemerintahan Belanda, Jepang, dan masa perang kemerdekaan, slide perangko Belanda dan Jepang bertema kebudayaan dan pariwisata, slide perangko peringatan 10 tahun Kemerdekaan RI, dan dua foto perangko bergambar Bung Karno dan Bung Hatta sebagai latar belakang perangko perjuangan yang dicetak di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pamer IV menyajikan perangko dan carik kenangan (souvenir sheet) yang diterbitkan sejak 1950 dengan lima masa penerbitan: tahun 1950-1959, tahun 1959-1966, tahun 1966-1973, tahun 1973-1983, dan tahun 1983-1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pamer V terdapat perangko yang disusun berdasarkan periode dan tema tertentu. Dalam ruang ini disajikan perangko bertema sosial, pariwisata, taru dan satwa, lingkungan hidup, dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pamer VI memperagakan perangko tematik, khususnya kepramukaan dan olahraga, di dalam beberapa kotak penyajian, termasuk slide Ibu Tien Soeharto dengan seragam Pramuka ketika menandatangani Sampul Hari Pertama Perangko Jambore Internasional ke-IV di Cibubur pada Juli 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Pusaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t5IeoLWDI/AAAAAAAAABc/HUjN22CIcdE/s1600-h/museum-pusaka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 201px; height: 87px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t5IeoLWDI/AAAAAAAAABc/HUjN22CIcdE/s320/museum-pusaka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434570561920129074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Pusaka berada di jalur selatan di antara Museum Keprajuritan Indonesia dan Museum Serangga, berupa bangunan khas karena di atas atapnya terdapat bentuk keris yang menjulang. Museum ini bertujuan melestarikan, merawat, mengumpulkan, serta menginformasikan benda-benda budaya berupa senjata tradisional kepada generasi penerus agar merasa bangga terhadap bangsanya dan dapat dimanfaatkan bagi yang ingin melakukan studi dan penelitian mengenai senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya koleksi museum merupakan koleksi pribadi Mas Agung, kemudian dihibahkan oleh Sri Lestari Mas Agung kepada Ibu Tien Soeharto selaku ketua Yayasan Harapan Kita. Setelah ditambah dengan pembelian, Museum Pusaka memiliki koleksi senjata tradisional paling lengkap, mewakili 26 provinsi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum dengan dua lantai seluas 1.535 m² di atas lahan 3.800 m² ini memiliki beberapa ruang sebagai sarana dan pendukung, yakni ruang pameran, ruang informasi, ruang pengelola, ruang sarasehan, ruang perpustakaan, ruang konservasi dan preservasi, ruang bursa, dan ruang cenderamata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memeragakan benda-benda koleksi senjata seluruh nusantara, ruang pameran juga menginformasikan berbagai hal mengenai pusaka, misalnya rincian pusaka, ragam bentuk pusaka, zaman pembuatan pusaka, ragam hias bilah pusaka, berbagai pusaka khas daerah, pusaka dari zaman ke zaman, dan pusaka hasil temuan. Jenis-jenis kayu untuk membuat pusaka serta ruang besalen (tempat kerja empu pembuat keris) dan peralatannya melengkapi pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keris Nagasasra Sabuk Inten zaman Mataram, kujang zaman Pajajaran, keris Singa Barong tinatah mas, karih dari Sumatera, belati zaman Kerajaan Mataram, kudi zaman kerajaan Tuban, pedang zaman Hamengku Bowono IX, dan keris Naga Tapa dari Yogyakarta dipajang sebagai benda-benda pusaka unggulan karena langka dan melegenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pameran tetap, museum juga melaksanakan pameran berkala baik di dalam maupun bekerja sama dengan pihak luar. Kegiatan lain yang ditawarkan kepada umum adalah penjamasan pusaka, konsultasi pusaka, dan bursa pusaka bagi yang berminat mengoleksi benda-benda pusaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Serangga dan Taman Kupu-kupu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t5juk4q8I/AAAAAAAAABk/b5UWJMBSL18/s1600-h/museum-serangga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 199px; height: 82px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t5juk4q8I/AAAAAAAAABk/b5UWJMBSL18/s320/museum-serangga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434571030057757634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pengurus Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) dan Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dengan restu Ibu Tien Soeharto mendirikan Museum Serangga dengan tujuan mengenalkan keanekaragaman khasanah serangga serta merangsang keinginan dan kepedulian masyarakat terhadap peran dan potensinya di alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum ini menempati areal seluas 500 m2 mengambil bentuk tubuh belalang dan diresmikan oleh Presiden Soeharto tanggal 20 April 1993. Pada tahun 1998, atas bantuan Dr. Soedjarwo melalui Yayasan Sarana Wana Jaya, menambah wahana baru berupa Taman Kupu beserta kebun pakan, kandang penangkaran, dan laboratorium yang diharapkan menjadi usaha penangkaran dan pelestarian kupu-kupu yang dilindungi dan langka. Kemudian tahun 2004 bertambah lagi sarana koleksi binatangnya selain serangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis serangga dunia diperkirakan sekitar 16% ada di Indonesia. Sebanyak 500 jenis, terdiri atas kupu-kupu (sekitar 250 jenis), kumbang (sekitar 150 jenis), dan kelompok serangga yang lain (sekitar 100 jenis) menjadi koleksi Museum Serangga dan Taman Kupu (MSTK). Diorama-diorama yang dapat dilihat meliputi pesona kumbang nusantara, peranan serangga tanah dalam ekosistem dan pelestarian ekosistem, peta serangga Indonesia, serangga-serangga perombak, peta kupu-kupu Indonesia, kupu-kupu Bantimurung, dan serangga-serangga di pekarangan, serta kotak-kotak koleksi yang menampilkan kelompok serangga lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain koleksi serangga mati, juga mempunyai koleksi serangga hidup yang dapat dilihat langsung oleh pengunjung, antara lain kumbang tanduk, kumbang air, lebah madu, belalang ranting, belalang daun, dan kumbang badak. Di dalam Taman Kupu terdapat sekitar 20 jenis tanaman berbunga yang sering dikunjungi kupu-kupu. Selain itu juga dipelihara beberapa jenis binatang, antara lain tupai Sumatera, tupai Bali, oppusum layang, kadal lidah biru, kancil, dan tarsius. Laboratorium digunakan sebagai sarana penangkaran dan terbuka bagi mahasiswa dan pelajar yang ingin belajar bagaimana mengoleksi, membuat awetan serangga, identifikasi, serta memelihara serangga hidup dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum juga menyediakan layanan untuk menambah pengetahuan mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan serangga, misalnya bimbingan umum tentang serangga dan kehidupannya, pemutaran film tentang kehidupan serangga dan penjelasan di ruang audio visual, bimbingan mengawetkan serangga, dan penangkaran serangga (kupu, belalang ranting dan belalang daun), yang dilengkapi dengan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Telekomunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t57E0JEEI/AAAAAAAAABs/mx4x9MvUmiI/s1600-h/museum-telekomunikasi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 201px; height: 86px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t57E0JEEI/AAAAAAAAABs/mx4x9MvUmiI/s320/museum-telekomunikasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434571431164317762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Telekomunikasi berada di bagian depan kawasan TMII berdampingan dengan Museum Olah Raga dan Bayt al-Quran di dekat pintu utama. Ciri khas museum ini beratap kubah warna biru dengan keberadaan di depannya sebuah Monumen Sumpah Palapa Maha Patih Gajah Mada yang berdiri tegak sambil mengacungkan keris. Adegan ini mengingatkan pada satelit komunikasi pertama Indonesia yang diberi nama Palapa, sesuai jiwa Sumpah Palapa menyatukan nusantara. Gedung museum meliputi bangunan induk untuk ruang pameran dan pengelolaan serta ruang penerima tamu di bagian depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Telekomunikasi memamerkan berbagai koleksi dan informasi mengenai perkembangan pertelekomunikasian di Indonesia pada masa sebelum-masa perang-awal kemerdekaan, Orde Baru, dan masa depan telekomunikasi dunia, termasuk alat komunikasi dari masa ke masa. Alat telekomunikasi pra elektrik antara lain meliputi alat komunikasi tiup, kentongan/gendering, bedug, gong, dan lonceng. Alat telekomunikasi masa elektrik antara lain telegraph morse, sentral telepon manual lokal baterai, dan diorama pemancar radio perjuangan YBJ-6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat komunikasi sekarang dibagi menjadi analog dan digital. Alat komunikasi analog meliputi pesawat teleprinter/teleks, sentral telepon otomat analog, maket jaringan telekomunikasi nasional dan maket SKGM, serta hambur tropos. Alat komunikasi digital meliputi planet konfigurasi STKB konvensional dan STKB cellular, sampel produk PT. INTI, panel STDI-K, panel stasiun bumi kecil, peluncuran satelit, maket GSO (Geo Statistik Orbit) panel konfigurasi SKI, panel Intelsat/Inmarsat, serta Pasopati (Paduan Solusi Pelayanan Teknologi Informasi) atau ISDN (Integrated System Digital Network).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi komunikasi yang pesat semakin memperpendek jarak. Kehadiran videophone dan internet mempertegas fungsi alat komunikasi yang tidak hanya terbatas sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai multimedia. Museum ini juga menampilkan diorama dan maket pemanfaatan multimedia, meliputi Solution for Enterprise Network, Elektronik Mega Mall (EMM), dan System Satelit Iridium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat umum dapat memanfaatkan museum ini sebagai sarana belajar dengan dilengkapi sarana teater dengan koleksi film dokumenter perkembangan teknologi  telekomunikasi dan film animasi si Ponix; ruang elshop, ruang Info dan demo produk barang/jasa telekomunikasi, ruang rapat, warung telekomunikasi, dan warung internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Transportasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t6NWe8I6I/AAAAAAAAAB0/hLsCed1olis/s1600-h/museum-transportasi-a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t6NWe8I6I/AAAAAAAAAB0/hLsCed1olis/s320/museum-transportasi-a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434571745144873890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Transportasi merupakan lembaga milik Departemen Perhubungan dengan maksud mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan bukti sejarah dan perkembangan transportasi, serta peranannya. Tujuannya memberikan informasi dan tambahan pengetahuan kepada para pengunjung mengenai transportasi dan sejarah perkembangan teknologi transportasi sekaligus sebagai tempat rekreasi yang edukatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran diselenggarakan di dalam dan di luar ruang. Pameran di dalam ruang dibagi dalam beberapa ruangan yang seolah-olah merupakan bangunan tersendiri, disebut modul; terdiri atas modul pusat, modul darat, modul laut, dan modul udara; baik dengan benda asli, tiruan, miniatur, foto, maupun diorama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modul pusat menggambarkan keberadaan transportasi tradisional masa lampau, mencakup transportasi darat dan laut dari berbagai daerah di Indonesia, berupa alat transportasi sederhana dengan menggunakan tenaga manusia, hewan, atau angin; antara lain cikar, andong, bendi, becak, perahu layar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modul darat menggambarkan keberadaan dan layanan transportasi darat, mencakup transportasi jalan raya, jalan baja, sungai, danau, dan penyeberangan, berupa alat transportasi yang sudah mulai menggunakan tenaga mesin awal sampai sekarang; antara lain cikar DAMRI yang merupakan armada pertama DAMRI dan berperan pada masa kemerdekaan (tahun 1946) sebagai alat angkut logistik militer di wilayah Surabaya dan Mojokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modul laut menggambarkan keberadaan dan layanan jasa transportasi laut yang telah menggunakan mesin, mencakup berbagai kapal penumpang, container, dok terapung, serta peralatan penunjangnya; dilengkapi paparan teknologi kelautan dengan berbagai jenis kapal laut, prasarana yang ada dewasa ini, serta peralatan penunjang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modul udara menggambarkan keberadaan dan layanan jasa transportasi udara serta perkembangannya dan teknologi peralatan transportasi udara, mencakup pesawat terbang, peralatan transportasi udara, dan peralatan bandar udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran luar statis menampilkan berbagai jenis lokomotif generasi pertama Perusahaan Kereta Api Indonesia, termasuk rel kereta api dan terowongan, Kereta Api Luar Biasa (KLB) yang digunakan Presiden dan Wakil Presiden Rl Pertama Soekarno-Hatta pada waktu Pemerintah RI hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, bis yang pernah dioperasikan di Indonesia, serta pesawat udara jenis DC-9 PK-GNT milik Garuda Indonesia yang pernah melayani penerbangan ke negara-negara Asean dan Australia. Di samping itu terdapat sebuah rangkaian kereta api, terdiri atas lokomotif dan dua gerbong kayu, sebagai sarana hiburan bagi pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Penerangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t6wuMhHZI/AAAAAAAAAB8/GyFLmFngDZI/s1600-h/museum-penerangan.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t6wuMhHZI/AAAAAAAAAB8/GyFLmFngDZI/s320/museum-penerangan.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434572352805477778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rancang-bangun Museum Penerangan berbentuk bintang bersudut lima yang melambangkan Pancasila dan lima unsur penerangan. Museum ini mengumpulkan, mempelajari,  menggelar, dan merawat objek sejarah penerangan dan komunikasi sekaligus sebagai media komunikasi massa keenam setelah tatap muka, radio, TV, film, dan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman depan terdapat tugu yang menyangga lambang penerangan "Api Nan Tak Kunjung Padam" dikelilingi oleh lima patung juru penerang serta air mancur, pertemuan air dari atas tugu dengan air yang memancar dari bawah, melambangkan hubungan timbal balik antara pemerintah, masyarakat, dan media massa. Bangunan terdiri atas tiga lantai berbentuk silinder, mencitrakan kentongan sebagai unsur penerangan tradisional, menyangga menara antena sebagai unsur modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ditata di luar dan di dalam gedung, yang secara keseluruhan menggambarkan sejarah penerangan sejak pergerakan nasional hingga masa Indonesia modern. Koleksi di luar gedung antara lain empat mobil Siaran Luar TVRI (Televisi Republik Indonesia), mobil Panggung Penerangan, mobil unit Sinerama PFN (Perusahaan Film Negara), mobil siaran luar RRI (Radio Republik Indonesia), serta mobil Siaran Luar TVRI pertama untuk meliput Asian Games IV di Jakarta tahun 1962 yang mencatat sebagai awal berdirinya TVRI, dan mesin cetak tiga zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi lantai satu berupa benda-benda yang mempunyai nilai sejarah informasi dan komunikasi dari film, radio, televisi, media tatap muka, termasuk wayang suluh, serta perkembangan media pers dan grafika berikut 17 patung setengah badan tokoh informasi dan komunikasi. Selain itu terdapat empat diorama kecil operasional penerangan di bidang pependes, pencerdasan kehidupan bangsa, penanggulangan bencana alam, dan kelompencapir. Koleksi lain berupa mesin ketik huruf Jawa yang digunakan sejak tahun 1917 oleh Kraton Surakarta, kamera Perekam Rapat Kabinet Rl pertama, Radio Oemoem tahun 1940, dan sebagainya. Di sini juga terdapat perpustakaan dan teater mini berdaya tampung 60 pengunjung, dilengkapi tata suara modern, dan dapat digunakan untuk menyampaikan informasi secara audio visual serta pernutaran film dokumenter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai dua meliputi relief sepanjang 150 meter yang menggambarkan sejarah penerangan Indonesia selama lima periode, peran penerangan dalam membangun kesatuan dan persatuan bangsa, dan penyampaian informasi melalui media cetak dan elektronik baik tradisional maupun modern. Di sini terdapat juga tujuh diorama yang menggambarkan kegiatan penerangan dalam membangkitkan nasionalisme, menyatukan bangsa, dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, termasuk percetakan koran Retno Dhoemilah. Di samping itu terdapat lukisan wajah Dr. Wahidin Soedirohusodo karya Sumidjo, berukuran 8 m x 7 m, yang merupakan lukisan terbesar di Indonesia dan memperoleh sertifikat MURI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi lantai tiga meliputi tiga studio mini PFN, studio mini RRI, studio mini TVRI, dan display foto transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bayt al Qur'an dan Museum Istiqlal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya unggulan para ulama dan intelektual muslim Nusantara sejak abad ke-17 sampai abad ke-20 yang bernilai historis dapat disaksikan di sini. Warisan budaya berupa mushaf, manuskrip Al Qur’an, arsitektur, seni rupa islami yang memiliki keindahan seni juga tersimpan. Bayt al Qur’an &amp;amp; Museum Istiqlal, memang menghadirkan pesona untuk direnungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayt al Qur’an &amp;amp; Museum Istiqlal merupakan kesatuan dari dua lembaga yang berbeda namun dalam kesatuan konsep. Bayt al Qur’an, yang berarti rumah Al Qur’an, dengan materi pokok berupa peragaan yang berkaitan dengan Al Qur’an, sedangkan Museum Istiqlal menampilkan hasil-hasil kebudayaan Islam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayt al-Qur’an &amp;amp; Museum Istiqlal (BQ&amp;amp;MI) yang menempati areal seluas 20.013 m2 dibuka untuk umum tanggal 20 April 1997 bersamaan dengan peresmian oleh Presiden Soeharto. Tujuannya untuk menampilkan Islam sebagai pemersatu bangsa dari berbagai etnik di Indonesia dengan menampilkan ajaran dan kebudayaan Islam Indonesia yang berkualitas dan kreatif dalam upaya untuk memantapkan jatidiri bangsa, menampilkan wajah Indonesia yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia dalam percaturan internasional melalui kajian sejarah perkembangan ajaran Islam dan implementasinya dalam seni dan budaya, menyampaikan makna yang lebih dalam tentang ajaran Islam dan karakter kebudayaannya yang bersifat terbuka, otentik, toleran, progresif dan kosmopolitan; dan sebagai pemicu (trigger) untuk pengkajian ajaran dan kebudayaan Islam secara lebih dalam khususnya di Indonesia dan umumnya di Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pamer Bayt al-Qur’an menghadirkan beragam seni mushaf dari dalam dan luar negeri, seperti Mushaf Istiqlal yang menjadi primadona pada Festival Istiqlal II 1995, Mushaf Wonosobo, yang merupakan terbesar hasil kreasi dua orang santri Pondok Pesantren al- Asy’ariah, Wonosobo, Jawa Tengah, Mushaf Sundawi yang menampilkan iluminasi ragam hias khas Jawa Barat, dan Mushaf Malaysia yang menampilkan iluminasi ragam khas Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditampilkan pula al-Qur’an standar Departemen Agama RI, al-Qur’an biasa dan al-Qur’an Braille untuk umat Islam tunanetra. Disajikan juga al-Qur’an Interaktif dalam bentuk software (perangkat lunak) computer yang dapat dioperasikan secara digital seperti program-program aplikasi komputer lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang peraga Museum Istiqlal menyimpan dan memamerkan benda-benda budaya yang telah berabad lamanya, menembus peradaban suku, bahasa, daerah, dan adat istiadat di Indonesia. Kejayaan historis masa lalu dan masa kini berbaur dalam suatu peristiwa. Manuskrip al-Qur’an, benda-benda tradisi dan warisan, arsitek, seni rupa kontemporer, serta benda islami lainnya, semua tersimpan di sini, sebagai hasil implementasi dan implikasi budaya yang bersumber dari al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan Bayt al-Qur’an &amp;amp; Museum Istiqlal berlantai 4 dengan lingkungan yang jauh dari polusi memiliki fasilitas ruangan yang lengkap seperti, serba guna (main hall), auditorium, audiovisual, ruang kelas, pameran, balkon, dan lain-lain. Semua itu dapat digunakan untuk mengadakan kegiatan seperti, seminar, pertunjukkan, pameran, perlombaan, forum ilmiah, syukuran, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Museum Timor Timur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Timor Timur terletak di sebelah utara Istana Anak-Anak Indonesia, menghadap ke selatan arah Museum Prangko. Semula Museum Timor Timur adalah Anjungan Daerah Timor-Timur yang dibangun tahun 1979 dan diresmikan 20 April 1980 oleh Presiden Soeharto. Setelah Provinsi Timor Timur berpisah dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membentuk negara sendiri, anjungan ini menjadi suatu monumen dan menjadi tanggung jawab pengelola TMII. Sebagai monumen, Anjungan Timor Timur kemudian berstatus museum di bawah pengelolaan Istana Anak Anak Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum seluas 4.988 m² menampilkan rumah penduduk Los Palos, terdiri atas sebuah bangunan utama dan beberapa bangunan pendukung. Bangunan utama disebut uma lautem atau dagada, berupa rumah panggung dengan empat tiang tiga meter di atas permukaan tanah, berbentuk segi empat dengan atap ramping menjulang. Atap berlapis ijuk, berdinding kayu, dan dilengkapi banyak jendela yang berfungsi sebagai penerangan di siang hari. Aslinya, balok utama menggunakan kayu besi, sedangkan tiang menggunakan kayu eucalyptus yang diikat dengan tali dari rotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam uma lautem dipamerkan barang-barang khas Timor Timur, berupa peralatan makan, busana adat, senjata tradisional, alat musik tradisional, hasil kerajinan, serta perlengkapan lain seperti anyaman dari daun tal, keramik atau manatutu, kain tenun khas Timor Timur (tais), serta aneka keong dari Pulau Atauro. Juga dipajang foto-foto yang memperlihatkan keindahan alam, antara lain pantai pasir putih dan sebuah monumen berupa patung Kristus Raja dan foto-foto lain yang mengingatkan bahwa Timor Timur pernah menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan pendukung uma laku berupa bangunan panggung kembar beratap bulat dan tidak berdinding. Kedua bangunan ini mengapit bangunan induk, berfungsi sebagai balai pertemuan adat, namun di Museum Timor Timur digunakan sebagai tempat istirahat bagi pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan pendukung lain berupa panggung yang digunakan untuk pergelaran seni yang dapat digunakan oleh umum untuk acara-acara yang memerlukan pentas dan penonton duduk di lantai dasar uma lautem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Timor Timur, pada saat berstatus anjungan daerah, pernah menerima kunjungan Perdana Menteri India Naelam Sanjiva Reddy dan Nyonya pada tanggal 4 Desember 1981 dan berkenan melakukan penanaman pohon beringin persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karcis Masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Indonesia&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 5.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Keprajuritan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 1.500&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Prangko Indonesia&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Pusaka&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 5.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Transportasi&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Listrik dan Energi&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 5.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Telekomunikasi&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Penerangan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Olahraga&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Asmat&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 4.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Museum Komodo&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rata-rata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 7.500&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Bayt Al-Qur'an dan&lt;br /&gt;Museum Istiqlal&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Anak-anak&lt;br /&gt;Dewasa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp 1.000&lt;br /&gt;Rp 2.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi karcis masuk: telepon 021-8409210, 8409217, 8409270&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(tamanmini.com)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-3228849573918218468?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/3228849573918218468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-museum-di-taman-mini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3228849573918218468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/3228849573918218468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-museum-di-taman-mini.html' title='Museum-museum di Taman Mini'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQvUTvdn6dc/S2t1-6YwnQI/AAAAAAAAAAk/GunxX76IeVs/s72-c/museum-asmat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-7884212647596190231</id><published>2010-02-04T12:02:00.002+07:00</published><updated>2010-02-06T12:18:11.000+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>VMY 2010, Menuju ''Center of Excellent''</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jakarta (Bali Post)- Tahun Kunjungan Museum yang juga dikenal dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Visit Museum Year&lt;/span&gt; (VMY) yang dicanangkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata merupakan upaya pengembangan  pengetahuan serta pembangunan kebudayaan bangsa. Program yang merupakan kelanjutan dari Visit Indonesia Year 2009 ini bertujuan bukan hanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, melainkan juga sebagai sarana guna lebih menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian seni-budaya bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Di samping itu, VIY 2010 yang dicanangkan pada 30 Desember 2009 lalu juga dapat menjadi wahana penguat program revitalisasi museum. Dengan menggelar aneka program yang dibarengi dengan mereposisi museum, diharapkan gairah masyarakat berkunjung ke museum semakin meningkat, sehingga museum menjadi lebih semarak dan hidup dalam pengelolaannya," ungkap Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, Tahun Kunjungan Museum 2010 merupakan momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang dilaksanakan selama lima tahun ke depan (2010-2014). Salah satu dari kegiatan dalam program GNCM yakni revitalisasi museum yang bertujuan mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadangkan Ketua IV Asosiasi Museum Indonesia yang membidangi Informasi, Komunikasi dan Publikasi, Putu Supadma Rudana, MBA, menyebutkan, peran museum, terlebih di era kompetisi global ini, boleh dikata amatlah strategis. Museum bukan hanya sebagai wadah untuk menyimpan berbagai hasil karya manusia yang sarat dengan muatan sejarah dan estetika, melainkan juga bisa diolah menjadi suatu laboratorium kebudayaan, di mana para ahli serta generasi muda mampu mengembangkan aneka gagasan yang kreatif berdasarkan beragam karya peninggalan para leluhur yang sungguh adiluhung itu. ''Dengan kata lain, museum dapat menjadi center of excellent, suatu wahana pembelajaran yang penting bagi semua pihak,'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putu Supadma Rudana (PSR) juga salut dan bangganya kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI yang mencanangkan suatu program yang amat strategis ini. ''Penghargaan yang sebesarnya juga saya tujukan kepada Menbudpar yang berkenan menerima gagasan dari semua pihak demi turut bersama-sama membangun kebudayaan bangsa yang unggul dan luhur,'' tambah Managing Director of Museum Rudana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa yang dilakukan oleh Budpar sungguh tepat. Di tengah percepatan perubahan ini, perubahan masyarakat akan museum telah terasa makin kuat dalam kehidupan masyarakat. Museum kini memperoleh tantangan dan juga persaingan dari media-media lain, terutama terkait bagaimana masyarakat mengisi waktu luangnya. Pendeknya, dapatlah disimpulkan bahwa museum kini mulai ditinggalkan, bahkan juga tak dianggap mewakili kekinian kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, selayaknya museum mulai mengembangkan suatu pola pengelolaan yang berbasis quality oriented, bukan quantity oriented. Yang mesti ditingkatkan adalah mutu dan kualitas, baik dari sisi infrastruktur serta sarana dan prasarana maupun program kegiatan yang dilakukan. Dengan demikian, giliran berikutnya, masyarakat akan jadi lebih tertarik mendatangi museum, yang kemudian dapat meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat,'' kata Putu Rudana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dikata, jauh sebelum pemerintah mencanangkan Tahun Kunjungan Museum 2010, Museum Rudana yang dipimpinnya telah berulang mengadakan sebagai event seni budaya yang menegaskan bahwa museum dapat pula menjadi wadah aktivitas yang turut menggelorakan upaya-upaya pencapaian seni yang memiliki semangat kekinian, sekaligus tanpa tercerabut dari akal kultur warisan leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kegiatan yang telah digelar sebelumnya adalah Lomba Esai Populer 2009 yang bertemakan ''Harapan Masyarakat Indonesia terhadap Pemimpin Masa Depan Indonesia'', berbagai pameran dan pergelaran seni budaya, hingga Pesamuan Budaya, suatu program diskusi yang membahas berbagai masalah di seputar kebudayaan dan kepariwisataan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dalam acara Pesamuan Budaya, selain menghadirkan berbagai narasumber yang memiliki visi yang luar biasa dalam bidang kebudayaan dan pariwisata, semisal Mantan Menparpostel, Joop Ave, serta guru besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Wiendu Nuryanti, kami juga melibatkan para akademisi serta pemerhati budaya di Bali yang tentunya memiliki tujuan serta harapan yang besar bagi tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Bali,'' papar PSR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan bahwa Museum Rudana juga mempunyai misi untuk terus mendorong generasi muda untuk senantiasa memiliki budaya kritis dan kreatif, yang pada giliran selanjutnya dapat turut berdiskusi bersama dan saling bertukar gagasan demi terwujudnya tatanan kehidupan seni-budaya Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tentu saja, apa yang kita lakukan ini memerlukan suatu sinergi yang menyeluruh, baik antara museum, para pelaku kebudayaan, maupun juga pemerintah. Kita pun tak boleh mengabaikan peran penting media, yang kini bukan hanya semata sebagai sarana penyebaran informasi, melainkan juga memiliki misi penting dalam pembangunan pekerti dan karakter bangsa (nation and character building),'' tegas Putu Rudana yang baru-baru ini menerbitkan sebuah buku bertajuk ''Menuju Visi Sempurna'', sebuah wujud sinergi yang dilakukannya dengan berbagai media lokal, nasional maupun internasional terkait visinya tentang seni-budaya bangsa. (kmb/*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(balipost.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-7884212647596190231?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/7884212647596190231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/vmy-2010-menuju-center-of-excellent.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7884212647596190231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/7884212647596190231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/vmy-2010-menuju-center-of-excellent.html' title='VMY 2010, Menuju &apos;&apos;Center of Excellent&apos;&apos;'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-4962936793464502232</id><published>2010-02-04T11:51:00.002+07:00</published><updated>2010-02-06T12:18:58.266+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Gerakan Nasional Cinta Museum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Museum merupakan tempat yang sangat bernilai dalam perjalanan hidup sebuah bangsa. Di sana juga tersimpan berbagai karya luhur nenek moyang kita. Sayangnya, tak banyak masyarakat yang senang berkunjung ke museum. Padahal, di Indonesia ini ada sekitar 281 museum yang bisa dikunjungi. Bahkan, hampir semua biaya masuk ke museum sangat murah dan ada juga yang tidak memungut biaya alias gratis lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data pemerintah, setiap tahunnya masyarakat yang berkunjung ke berbagai museum di Tanah Air hanya 2 persen dari jumlah penduduk. Karena itu, untuk mendorong kesadaran masyarakat terhadap arti pentingnya museum dan meningkatkan jumlah pengunjung museum, pemerintah mencanangkan tahun 2010 sebagai Tahun Kunjungan Museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program yang diluncurkan pada Rabu (30/12), merupakan bagian dari Gerakan Nasional Cinta Museum. Program yang bertema “Museum di Hatiku” ini dilaksanakan mulai tahun 2010 hingga tahun 2014. Diharapkan dengan adanya program ini minat masyakat untuk berkunjung ke museum semakin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Wisata Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi ke museum, kini bisa menjadi salah satu tujuan wisata kamu. Selain murah, jalan-jalan ke museum juga bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Kalau kita rajin mengunjungi museum, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang bangsa melalui teori dalam pelajaran di sekolah. Tapi, juga bisa melihat langsung benda-benda peninggalan sejarah yang menjadi koleksi museum itu. Dengan begitu, museum bisa menjadi bagian dari wisata pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, belum semua museum yang ada di Indonesia menjadi tempat tujuan wisata, terutama untuk pelajar. Padahal, ratusan museum yang ada di Indonesia bisa menjadi wisata pendidikan yang menarik untuk dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya museum yang namanya sudah dikenal saja yang menjadi tujuan wisatawan. Di Jakarta misalnya, ada Museum Gajah dan Museum Fatahillah. Sementara di Yogyakarta ada Museum Benteng Vredeburg dan Monumen Jogja Kembali. Nah, apakah kamu tertarik untuk mengunjungi museum lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(berani.co.id)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-4962936793464502232?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/4962936793464502232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/gerakan-nasional-cinta-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4962936793464502232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/4962936793464502232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/gerakan-nasional-cinta-museum.html' title='Gerakan Nasional Cinta Museum'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-1982208546372280559</id><published>2010-02-04T11:45:00.003+07:00</published><updated>2010-02-06T12:19:20.425+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media Cetak'/><title type='text'>Museum Sulteng di Tahun Kunjung Museum 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Target 20 Ribu Pengunjung, Manfaatkan Facebook sebagai Ajang Promosi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini ditetapkan pemerintah sebagai Tahun Kunjung Museum 2010. Awal Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM), yang akan berlanjut hingga 2014. Pemerintah pun menjadikan museum sebagai salah satu andalan wisata di tahun 2010 ini. Bagaimana dengan Museum Sulteng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIR Desember lalu, tepatnya pada 29 Desember 2009, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir Jero Wacik SE, menetapkan dengan resmi Tahun Kunjungan Museum 2010. Sebuah momentum awal dari program lima tahunan yang lebih besar, yakni Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM). Salah satu gerakannya yakni kegiatan revitalisasi museum yang bertujuan mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun GNCM rupanya bukanlah tujuan akhir. Sebab pada tahun 2014 dengan GNCM diharapkan terwujud museum di Indonesia yang menarik dan informatif serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Baik dari sisi pendidikan, kebudayaan, penelitian, hingga rekreasi. Layaknya museum di negara-negara maju, seperti museum di Eropa dan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewujudkan kondisi ideal museum seperti itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebaliknya, merupakan pekerjaan rumah yang cukup besar dan menantang. Begitu pun dengan museum Sulteng dengan potensi sekaligus kelemahannya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut dimulakannya Tahun Kunjungan 2010, instansi yang dipimpin oleh Dra Zaitun Fadjar itu, rupanya telah memiliki program dan target sendiri dalam menyukseskan GNCM. Ditemui kemarin (14/1), wanita berkerudung itu, mengaku tidak berdiam diri dalam merespons Tahun Kujungan Museum 2010. di 2010 ini, Zaitun menargetkan 20 ribu pengunjung datang ke museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun lalu ada 12 ribu pengunjung. Tentunya tahun ini harus lebih banyak dari pencapaian itu. Pokoknya kami berupaya kunjungan meningkat. Karena itu ayo datang, datang, dan datang ke museum. Rugi kalau tidak,” jelas Zaitun sekaligus berpromosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target 20 ribu pengunjung tersebut, diakui Zaitun harus didukung dengan berbagai program yang tepat sekaligus efektif untuk mewujudkannya. Zaitun mengungkapkan untuk setahun mendatang ada sejumlah program yang sudah terjadwal. Misalnya program sosialisasi serta promosi museum untuk mengenalkan dan meningkatkan arus pengunjung ke Museum Sulteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus program promosi itu, museum Sulteng tidak lagi hanya menggunakan media konvensional saja. Seperti memampang barner berukuran besar, membuat pin unik bergambar hati dengan tulisan Museum di Hatiku atau melakukan pertemuan sosialisasi semata. Namun juga merambah ke dunia maya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs jejaring sosial yang sedang populer saat ini, yakni Facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di laman Facebook, Museum Sulteng memiliki akun khusus. Sejak dibuat pada 29 Desember 2009 hingga pukul 19.00 WITA kemarin, Museum Sulteng sudah memiliki 705 penggemar. Para penggemar tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Sulteng saja. Namun juga berasal dari luar daerah. Seperti Makassar, Jakarta dan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal penggunaan Facebook itu, Zaitun mengaku pihaknya ingin merangkul seluruh kalangan. Tidak hanya kaum pelajar, peneliti maupun peminat seni dan budaya, yang selama ini mendominasi kunjungan ke museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bilang ke staf, kalau kita belum bisa (buat) situs khusus di internet, apa saja yang penting bisa mengenalkan museum. Nah, jadilah promosi lewat Facebook itu,” ungkap Zaitun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan museum, boleh jadi mengambil porsi besar dalam program untuk menyukseskan Tahun Kunjungan Museum 2010. Sebut saja pelaksanaan Pameran Budaya Lokal pada April mendatang, pameran khusus, pameran kreativitas siswa, yang seluruhnya dilaksanakan di lingkungan Museum Sulteng. Zaitun mengaku hal itu ditujukkan agar masyarakat dapat berkunjung dan akhirnya mengenal museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Prioritas kami (masyarakat) datang dulu. Soal mereka paham atau tidak tentang koleksi-koleksi museum itu hal yang lain lagi. Yang penting datang dan kenal dulu. Jadi kenali museum-mu, cintai museum-mu,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaitun juga mengungkapkan pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010 tingkat Provinsi Sulteng, nantinya akan dipusatkan di Museum Kabupaten Banggai. Museum yang terletak di Kota Luwuk itu menjadi titik awal dimulakannya seluruh kerja keras pihak Museum Sulteng untuk menyukseskan Tahun Kunjungan Museum 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencanangan akan dilakasanakan pada 27 hingga 30 Januari mendatang. Sejumlah rangkaian kegiatan seperti pameran dan pergelaran seni-budaya juga akan digelar. Soal pecanangan yang mengambil tempat di Museum Kabupaten Banggai tersebut, diakui Zaitun ditujukan untuk mengeliatkan arus kunjungan di museum yang dibuka sejak 2007 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami harapkan pemerintah setempat juga memberikan perhatiannya terhadap museum. Dengan pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010 di sana nantinya, semua itu bisa terwujud,” tandas Zaitun.(LAPORAN: Nur Soima Ulfa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(radarsulteng.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-1982208546372280559?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/1982208546372280559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-sulteng-di-tahun-kunjung-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1982208546372280559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/1982208546372280559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/museum-sulteng-di-tahun-kunjung-museum.html' title='Museum Sulteng di Tahun Kunjung Museum 2010'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727603188713905087.post-2201173880733629600</id><published>2010-02-03T20:34:00.004+07:00</published><updated>2010-02-06T12:19:48.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Museum'/><title type='text'>Sejarah Perkembangan Museum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pengertian tentang museum dari zaman ke zaman selalu berubah. Hal ini disebabkan museum senantiasa mengalami perubahan tugas dan kewajibannya. Museum merupakan suatu gejala sosial atau kultural dan mengikuti sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang menggunakan museum itu sebagai prasarana sosial atau kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum berakar dari kata Latin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;museion&lt;/span&gt;, yaitu kuil untuk sembilan dewi Muse, anak-anak Dewa Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur. Dalam perkembangannya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;museion&lt;/span&gt; menjadi tempat kerja ahli-ahli pikir zaman Yunani kuna, seperti Pythagoras dan Plato. Mereka menganggap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;museion&lt;/span&gt; adalah tempat penyelidikan dan pendidikan filsafat, sebagai ruang lingkup ilmu dan kesenian. Dengan kata lain tempat pembaktian diri terhadap ke sembilan Dewi Muse tadi. Museum yang tertua sebagai pusat ilmu dan kesenian terdapat di Iskandarsyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan gedung museum tersebut, yang pada mulanya tempat pengumpulan benda-benda dan alat-alat yang diperlukan bagi penyelidikan ilmu dan kesenian, berubah menjadi tempat mengumpulkan benda-benda yang dianggap aneh. Perkembangan ini meningkat pada abad pertengahan. Kala itu yang disebut museum adalah tempat benda-benda pribadi milik pangeran, bangsawan, para pencipta seni dan budaya, serta para pencipta ilmu pengetahuan. Kumpulan benda (koleksi) yang ada mencerminkan minat dan perhatian khusus pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda-benda hasil seni rupa ditambah benda-benda dari luar Eropa merupakan modal yang kelak menjadi dasar pertumbuhan museum-museum besar di Eropa. "Museum" ini jarang dibuka untuk masyarakat umum karena koleksinya menjadi ajang prestise dari pemiliknya dan biasanya hanya diperlihatkan kepada para kerabat atau orang-orang dekat. Museum juga pernah diartikan sebagai kumpulan ilmu pengetahuan dalam karya tulis seorang sarjana. Ini terjadi di zaman ensiklopedis yaitu zaman sesudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Renaissance&lt;/span&gt; di Eropa Barat, ditandai oleh kegiatan orang-orang untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan mereka tentang manusia, berbagai jenis flora maupun fauna serta tentang bumi dan jagat raya di sekitarnya. Gejala berdirinya museum tampak pada akhir abad ke-18 seiring dengan perkembangan pengetahuan di Eropa. Negeri Belanda yang merupakan bagian dari Eropa dalam hal ini juga tidak ketinggalan dalam upaya mendirikan museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan museum di Belanda sangat mempengaruhi perkembangan museum di Indonesia. Diawali oleh seorang pegawai VOC yang bernama G.E. Rumphius yang pada abad ke-17 telah memanfaatkan waktunya untuk menulis tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ambonsche Landbeschrijving&lt;/span&gt; yang antara lain memberikan gambaran tentang sejarah kesultanan Maluku, di samping penulisan tentang keberadaan kepulauan dan kependudukan. Memasuki abad ke-18 perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan, baik pada masa VOC maupun Hindia-Belanda, makin jelas.  Pada  24 April 1778 berdiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen&lt;/span&gt;. Lembaga tersebut berstatus setengah resmi, dipimpin oleh dewan direksi. Pasal 3 dan 19 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Statuten&lt;/span&gt; pendirian lembaga tersebut menyebutkan bahwa salah satu tugasnya adalah memelihara museum  yang meliputi: pembukuan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;boekreij&lt;/span&gt;); himpunan etnografis; himpunan kepurbakalaan; himpunan prehistori; himpunan keramik; himpunan muzikologis; himpunan numismatik, pening dan cap-cap; serta naskah-naskah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;handschriften&lt;/span&gt;), termasuk perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga tersebut mempunyai kedudukan penting bukan saja sebagai perkumpulan ilmiah, tetapi juga karena para anggota pengurusnya terdiri dari tokoh-tokoh penting dari lingkungan pemerintahan, perbankan dan perdagangan. Yang menarik dalam pasal 20 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Statuten&lt;/span&gt; menyatakan bahwa benda yang telah menjadi himpunan museum atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Genootschap&lt;/span&gt; tidak boleh dipinjamkan dengan cara apapun kepada pihak ketiga dan anggota-anggota atau bukan anggota untuk dipakai atau disimpan, kecuali mengenai perbukuan dan himpunan naskah-naskah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;handschiften&lt;/span&gt;) sepanjang peraturan membolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu Inggris mengambil alih kekuasan dari Belanda, Raffles sendiri yang langsung mengepalai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Batavia Society of Arts and Sciences&lt;/span&gt;. Kegiatan perkumpulan itu tidak pernah berhenti, bahkan Raffles memberi tempat yang dekat dengan istana Gubernur Jendral yaitu di sebelah Harmoni (Jl. Majapahit No. 3 sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kolonial Inggris nama lembaga diubah menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Literary Society&lt;/span&gt;. Namun ketika Belanda berkuasa kembali, diganti pada nama semula, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Watenschappen&lt;/span&gt;  dan memusatkan perhatian pada ilmu kebudayaan, terutama ilmu bahasa, ilmu sosial, ilmu bangsa-bangsa, ilmu purbakala, dan ilmu sejarah. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam mendorong berdirinya lembaga-lembaga lain. Di Batavia anggota lembaga bertambah terus, perhatian di bidang kebudayaan berkembang dan koleksi meningkat jumlahnya, sehingga gedung di Jl. Majapahit menjadi sempit. Pemerintah kolonial Belanda membangun gedung baru di Jl. Merdeka Barat No. 12 pada 1862. Karena lembaga tersebut sangat berjasa dalam penelitian ilmu pengetahuan, maka pemerintah Belanda memberi gelar "Koninklijk Bataviaasche Genootschap Van Kunsten en Watenschappen". Lembaga yang menempati gedung baru tersebut telah berbentuk museum kebudayaan yang besar dengan perpustakaan yang lengkap (sekarang Museum Nasional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pendirian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen&lt;/span&gt;  untuk pengisian koleksi museumnya telah diprogramkan antara lain berasal dari koleksi benda-benda bersejarah dan kepurbakalaan baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat. Semangat itu telah mendorong untuk melakukan upaya pemeliharaan, penyelamatan, pengenalan bahkan penelitian terhadap peninggalan sejarah dan purbakala. Kehidupan kelembagaan tersebut sampai masa Pergerakan Nasional masih aktif bahkan setelah Perang Dunia I. Masyarakat setempat didukung Pemerintah Hindia Belanda menaruh perhatian terhadap pendirian museum di beberapa daerah di samping yang sudah berdiri di Batavia, seperti Lembaga Kebun Raya Bogor yang terus berkembang di Bogor. Von Koenigswald mendirikan Museum Zoologi di Bogor pada 1894. Lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang bernama Radyapustaka (sekarang Museum Radyapustaka) didirikan di Solo pada 28 Oktober 1890, Museum Geologi didirikan di Bandung pada 16 Mei 1929, lembaga bernama Yava Instituut didirikan di Yogyakarta pada 1919 dan dalam perkembangannya pada 1935 menjadi Museum Sonobudoyo. Mangkunegoro VII di Solo mendirikan Museum Mangkunegoro pada 1918. Ir. H. Maclaine Pont mengumpulkan benda purbakala di suatu bangunan yang sekarang dikenal dengan Museum Purbakala Trowulan pada  1920. Pemerintah kolonial Belanda mendirikan Museum Herbarium di Bogor pada 1941.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar Pulau Jawa, atas prakarsa Dr.W.F.Y. Kroom (asisten residen Bali) dengan raja-raja, seniman dan pemuka masyarakat, didirikan suatu perkumpulan yang dilengkapi dengan museum yang dimulai pada 1915 dan diresmikan sebagai Museum Bali pada 8 Desember 1932. Museum Rumah Adat Aceh didirikan di Nanggroe Aceh Darussalam pada 1915, Museum Rumah Adat Baanjuang didirikan di Bukittinggi pada 1933, Museum Simalungun didirikan di Sumatera Utara pada 1938 atas prakarsa raja Simalungun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah kemerdekaan Indonesia 1945 keberadaan museum diabadikan pada pembangunan bangsa Indonesia. Para ahli bangsa Belanda yang aktif di museum dan lembaga-lembaga yang berdiri sebelum 1945, masih diizinkan tinggal di Indonesia dan terus menjalankan tugasnya. Namun di samping para ahli bangsa Belanda, banyak juga ahli bangsa Indonesia yang menggeluti permuseuman yang berdiri sebelum 1945 dengan kemampuan yang tidak kalah dengan bangsa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memburuknya hubungan Belanda dan Indonesia akibat sengketa Papua Barat mengakibatkan orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia, termasuk orang-orang pendukung lembaga tersebut. Sejak itu terlihat proses Indonesianisasi terhadap berbagai hal yang berbau kolonial, termasuk pada 29 Februari 1950 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen&lt;/span&gt; yang diganti menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). LKI membawahkan dua instansi, yaitu museum dan perpustakaan. Pada 1962 LKI menyerahkan museum dan perpustakaan kepada pemerintah, kemudian menjadi Museum Pusat beserta perpustakaannya. Periode 1962-1967 merupakan masa sulit bagi upaya untuk perencanaan mendirikan Museum Nasional dari sudut profesionalitas, karena dukungan keuangan dari perusahaan Belanda sudah tidak ada lagi. Di tengah kesulitan tersebut, pada 1957 pemerintah membentuk bagian Urusan Museum. Urusan Museum diganti menjadi Lembaga Urusan Museum-Museum Nasional pada 1964, dan diubah menjadi Direktorat Museum pada 1966. Pada 1975, Direktorat Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 17 September 1962 LKI dibubarkan, Museum diserahkan pada pemerintah Indonesia dengan nama Museum Pusat di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Museum Pusat diganti namanya menjadi Museum Nasional pada 28 Mei 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerahan museum ke pemerintah pusat diikuti oleh museum-museum lainnya. Yayasan Museum Bali menyerahkan museum ke pemerintah pusat pada 5 Januari 1966 dan langsung di bawah pengawasan Direktorat Museum. Begitu pula dengan Museum Zoologi, Museum Herbarium, dan museum lainnya di luar Pulau Jawa mulai diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sejak museum-museum diserahkan ke pemerintah pusat, museum semakin berkembang. Bahkan museum baru pun bermunculan, baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh yayasan-yayasan swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan politik akibat gerakan reformasi yang dipelopori oleh para mahasiswa pada 1998, telah mengubah tata negara Republik Indonesia. Perubahan ini memberikan dampak terhadap permuseuman di Indonesia. Direktorat Permuseuman diubah menjadi Direktorat Sejarah dan Museum di bawah Departemen Pendidikan Nasional pada 2000. Pada  2001, Direktorat Sejarah dan Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman.  Susunan  organisasi diubah menjadi Direktorat Purbakala dan Permuseuman di bawah Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata pada 2002. Direktorat Purbakala dan Permuseuman diubah menjadi Asdep Purbakala dan Permuseuman pada 2004. Akhirnya pada 2005, dibentuk kembali Direktorat Museum di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Tim Direktorat Museum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727603188713905087-2201173880733629600?l=cinta-museum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-museum.blogspot.com/feeds/2201173880733629600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/sejarah-perkembangan-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/2201173880733629600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727603188713905087/posts/default/2201173880733629600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-museum.blogspot.com/2010/02/sejarah-perkembangan-museum.html' title='Sejarah Perkembangan Museum'/><author><name>Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06409649196651807185</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
