Sambutan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata



Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata telah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik di tahun 2009. Setelah suksesnya program Visit Indonesia Year yang telah meningkatkan kepariwisataan Indonesia, di tahun 2010 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan melaksanakan program yang lebih optimis lagi antara lain Tahun Kunjung Museum yang memiliki peranan strategis sebagai wahana penguat program Revitalisasi Museum.

Guna meningkatkan wisatawan, baik domestik maupun asing pada 2010 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan mencanangkan program Tahun Kunjung Museum (Visit Museum Year). Program Tahun Kunjung Museum yang didukung dengan berbagai kegiatan di museum seluruh Indonesia tersebut, bertujuan untuk memperbesar jumlah pengunjung museum serta meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya bangsa. Dengan adanya program Tahun Kunjung Museum yang dibarengi dengan mereposisi museum, kita optimis bahwa masyarakat akan lebih bergairah untuk berkunjung ke museum, sehingga museum menjadi lebih semarak dan “hidup” dalam pengelolaannya.

Museum sebagai media yang universal untuk pelestarian warisan budaya, wahana pembelajaran masyarakat, serta objek wisata yang edukatif, perlu didorong agar menjadi dinamis serta dapat melayani masyarakat dengan memadai. Indonesia juga dikenal memiliki keragaman aset budaya dan tradisi yang sangat menarik serta bervariasi. Dengan adanya program Tahun Kunjung Museum tersebut, diharapkan dapat mengubah citra dan “wajah” museum Indonesia menjadi lebih menarik dan lebih prima sehingga dapat turut meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

Tahun Kunjung Museum 2010 merupakan sebuah momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang akan dilaksanakan selama lima tahun (2010-2014). Salah satu kegiatan dalam Program GNCM tersebut adalah kegiatan Revitalisasi Museum yang bertujuan untuk mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdayaguna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum. Dengan adanya program GNCM tersebut diharapkan pada 2014 akan terwujud museum Indonesia yang menarik dan informatif serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Semoga program Gerakan Nasional Cinta Museum melalui Tahun Kunjung Museum akan berjalan dengan sukses dan mencapai hasil sesuai dengan perencanaannya sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya bangsa serta menyejahterakan masyarakat Indonesia.


IR. JERO WACIK, SE

Sekilas Gerakan Nasional Cinta Museum Melalui Tahun Kunjung Museum 2010


Latar Belakang

Museum merupakan sarana untuk mengembangkan budaya dan peradaban manusia. Dengan kata lain, museum tidak hanya bergerak di sektor budaya, melainkan dapat bergerak di sektor ekonomi, politik, sosial, dll. Di samping itu, museum merupakan wahana yang memiliki peranan strategis terhadap penguatan identitas masyarakat termasuk masyarakat sekitarnya. Para ahli kebudayaan meletakkan museum sebagai bagian dari pranata sosial dan sebagai wahana untuk memberikan gambaran dan mendidik perkembangan alam dan budaya manusia kepada komunitas dan publik.

Tiga pilar utama permuseuman di Indonesia yaitu: 1) mencerdaskan kehidupan bangsa; 2) kepribadian bangsa; 3) ketahanan nasional dan wawasan nusantara. Ketiga pilar ini merupakan landasan kegiatan operasional museum yang dibutuhkan di era globalisasi ini. Pada saat masyarakat mulai kehilangan orientasi akar budaya atau jati dirinya, maka museum dapat mempengaruhi dan memberi inspirasi tentang hal-hal penting yang harus diketahui dari masa lalu untuk menuju ke masa depan. Oleh karena itu untuk menempatkan museum pada posisi sebenarnya yang strategis, diperlukan gerakan bersama penguatan pemahaman, apresiasi dan kepedulian akan identitas dan perkembangan budaya bangsa yang harus terbangun pada tataran semua komponen masyarakat bangsa Indonesia baik dalam skala lokal, regional maupun nasional. Gerakan bersama tersebut dinamakan Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM).

Gerakan Nasional Cinta Museum adalah upaya penggalangan kebersamaan antar pemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa. Gerakan ini bertujuan untuk membenahi peran dan posisi museum yang difokuskan pada aspek internal maupun eksternal. Aspek internal lebih kepada revitalisasi fungsi museum dalam rangka penguatan pencitraan melalui pendekatan konsep manajemen yang terkait dengan fisik dan non fisik. Aspek eksternal lebih kepada konsep kemasan program yaitu menggunakan bentuk sosialisasi dan kampanye pada masyarakat sebagai bagian dari stakeholder. Salah satu programnya adalah Tahun Kunjung Museum 2010 yang dicanangkan pada tanggal 30 Desember 2009 oleh Bapak Ir. Jero Wacik, SE selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Tahun Kunjung Museum 2010 merupakan sebuah momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum. Maka dapat dikatakan bahwa Tahun Kunjung Museum ini adalah upaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang didasarkan pada pemikiran bahwa museum merupakan bagian dari pranata sosial yang memiliki tanggung jawab mencerdaskan bangsa, menggalang persatuan dan kesatuan, memberikan layanan kepada masyarakat, melestarikan aset bangsa sebagai sumber penguatan pemahaman, apresiasi, dan kepedulian pada identitas bangsa. Hal ini untuk memperkuat posisi (reposisi) museum sebagai jendela budaya dan bagian dari pranata kehidupan sosial budaya Bangsa Indonesia.

Gerakan Nasional Cinta Museum ini akan dilaksanakan secara bertahap selama lima tahun dalam rangka menggalang kebersamaan antar pemangku dan pemilik kepentingan (share dan stakeholder) untuk memperkuat fungsi museum pada posisi yang dicita-citakan guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa. Pencapaian fungsionalisasi museum tersebut yang kemudian disebut sebagai Gerakan Nasional Cinta Museum.

Gerakan Nasional Cinta Museum adalah upaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengembangkan museum-museum di Indonesia agar siap bersaing. Mari kita jadikan Gerakan Nasional ini sebagai momentum kebangkitan museum di Indonesia yang diawali dengan Tahun Kunjung Museum 2010.

Tujuan
  1. Terjadinya peningkatan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap nilai penting budaya bangsa
  2. Semakin kuatnya kepedulian dan peranserta pemangku kepentingan dalam pengembangan museum
  3. Terwujudnya museum sebagai media belajar dan kesenangan yang dinamis dan atraktif bagi pengunjung
  4. Terwujudnya museum sebagai kebanggaan publik
  5. Terwujudnya kualitas pelayanan museum
  6. Peningkatan jumlah kunjungan ke museum

Sasaran
  1. Menciptakan peran museum sebagai bagian dari pranata kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya bangsa
  2. Mewujudkan peningkatan kuantitas dan kualitas kunjungan ke museum-museum seluruh Indonesia
  3. Mewujudkan landasan yang kokoh bagi masyarakat untuk meningkatkan apresiasi kesejarahan dan kebudayaan dalam upaya memperkuat jatidiri bangsa
  4. Menciptakan kerja sama yang berimbang dan saling menguntungkan antara museum dengan pemangku kepentingan
  5. Membentuk rumusan kebijakan-kebijakan terkait dengan penyelenggaraan museum yang tidak saja menekankan kepada kepentingan ideologis dan kepentingan akademis, tetapi juga pada kepentingan lain dalam pemanfaatan museum
  6. Terbentuknya sinergisitas dari para pemangku kepentingan khususnya di bidang pariwisata untuk menempatkan museum sebagai lembaga yang memiliki daya tarik wisata budaya untuk dikunjungi

Strategi Program
Strategi mereposisi museum dalam menangkap peluang ke depan adalah:
  1. Meningkatkan keseimbangan antara kompleksitas fungsi museum yang diemban dengan sistem dan mekanisme pengelolaan yang profesional
  2. Mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengelola data dan informasi koleksi, kegiatan museum, mempromosikan atau kampanye/sosialisasi museum sebagai tempat yang atraktif dan memiliki daya tarik untuk dikunjungi
  3. Meningkatkan inovasi sistem peragaan koleksi museum yang ditata secara modern tanpa mengabaikan peran pendidikannya, misalnya melalui sentuhan teknologi komputer, presentasi audiovisual, serta pajangan video secara interaktif untuk lebih menarik dan lebih mendidik
  4. Museum sebagai jendela budaya harus lebih dikembangkan sebagai tempat pertemuan masyarakat atau komunitas yang nyaman, menyenangkan, akomodatif, dan lengkap
  5. Mengoptimalkan kreativitas program-program, aktivitas dan promosi kegiatan museum yang menarik, lebih mendidik sekaligus menghibur, yang dapat menggugah emosi atau imajinasi pengunjung untuk lebih tertarik, mengetahui, dan mengapresiasi pengalaman yang diperoleh selama berkunjung di museum sebagai bagian dari kehidupan budayanya
  6. Memperkuat data dan informasi terkait dengan koleksi, aktivitas dan promosi kegiatan museum yang dapat diakses dengan mudah oleh para pemangku kepentingan khususnya masyarakat dan pengunjung
  7. Meningkatkan kenyamanan dan kepuasan bagi para pengunjung terhadap kualitas dan kelengkapan fasilitas, sarana pendukung dan layanan yang disediakan oleh museum
  8. Mengintegrasikan fungsi museum dengan sistem pendidikan nasional yang ada, khususnya pada tingkat daerah (provinsi dan kabupaten) yang tidak memiliki museum
  9. Memperkuat jaringan kerja museum sebagai lembaga nonprofit


Tampilkan postingan dengan label Media Cetak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Cetak. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Gema Gamelan Bali di Royal Museum Belgia


mediaindonesia.com, Minggu, 13 Maret 2011
- Gamelan Bali menggema dan tampil memukau di Royal Museum of Arts and History Musee du Cinquantenaire di Brussel, milik Kerajaan Belgia, dalam Festival Asia Tenggara.

Alunan musik Gamelan Bali yang dibawakan Grup Saling Asah, binaan KBRI Brussel, yang dipimpin I Made Wardana, staf Sosial Budaya KBRI Brussel tersebut tampil dalam pertunjukan solo selama 1,5 jam non-stop, ujar Sekretaris Tiga Pensosbud KBRI Brusel Royhan N Wahab, Minggu (13/3).

Permainan apik dan kompak anggota Saling Asah yang merupakan gabungan warga Belgia dan Indonesia, menjadi daya tarik tersendiri bagi penampilan grup yang telah berdiri selama 13 tahun tersebut. Saling Asah menampilkan alunan musik gamelan Gong Kebyar milik KBRI Brussel yang mengiringi Tari Pendet, Tari Cenderawasih, Tari Margapati, Tari Legong Keraton, dan Tari Janger.

Selain itu, permainan solo suling Bali, Rindik, Sinom Ladrang, maupun Gender Wayang menciptakan suasana Indonesia di dalam teater gedung museum yang sesak dipenuhi oleh sekitar 200 penonton yang antusias menunggu sejak siang hari untuk menonton.

Dubes RI Brussel Arif Havas Oegroseno menyampaikan bahwa penampilan musik dan tari Indonesia ini baru pertama kalinya tampil di gedung Museum milik Kerajaan Belgia tersebut. Ini merupakan kebanggaan dan terutama Indonesia.

"Sangat membanggakan melihat seni Indonesia ditampilkan di sebuah tempat yang sangat prestisius di Belgia bahkan di Eropa", imbuh Dubes Havas.

Penampilan Saling Asah ini merupakan penampilan yang berbeda dari biasanya. Penampilan ini dilakukan 1 hari setelah teman-teman umat Hindu merayakan Nyepi. Tahun-tahun sebelumnya, 1 hari setelah Nyepi biasanya dipergunakan oleh umat Hindu untuk saling bersilaturahim. Dalam kesempatan tersebut, Dubes Havas berkesempatan melakukan peninjauan di dalam museum sesaat sebelum pementasan dilakukan.

Koleksi dari Indonesia yang diperlihatkan pihak museum kepada Dubes RI terdiri dari antara lain kain batik, topeng Bali, patung Ganesha, keris maupun miniatur rumah Toraja. Koleksi Indonesia yang berada di sana umumnya merupakan koleksi pribadi kolektor yang dihibahkan maupun dipinjamkan kepada pihak museum.

Pihak museum menyatakan bangga dapat bekerjasama dengan Indonesia khususnya KBRI Brussel. Ke depannya, diharapkan adanya kerja sama seni dan budaya lainnya yang dapat dikembangkan antara KBRI Brussel dengan pihak museum. (Ant/OL-2)

Sebagian Koleksi Museum Sultra Rusak



mediaindonesia.com, Jumat, 4 Maret 2011
- Sekitar 10% dari 5.000 koleksi benda bersejarah yang ada di museum Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini rusak karena hampir dua tahun terakhir tidak terpelihara.

"Kita tidak dapat melakukan pemeliharaan benda-benda sejarah di dalam museum, karena dua tahun terakhir kita kesulitan biaya," kata Kepala Museum Sultra Munir Herman di Kendari, Jumat (4/3).

Menurut Munir, untuk memelihara 5.000 koleksi benda bersejarah di dalam museum itu,memerlukan dana sekitar Rp2 miliar per tahun. Namun sejauh ini, Museum Sultra belum pernah mendapat anggaran pemeliharaan benda-benda bersejarah, terutama dari APBN.

"Idealnya, perawatan benda bersejarah harus dilakukan setiap satu tahun sekali, sehingga benda koleksi yang ada terus awet dan tidak mudah rusak," katanya.

Munir berharap Pemerintah Provinsi Sultra dapat memberi perhatian terhadap pemeliharaan benda-benda bersejarah dengan mengalokasikan dana perawatan dalam APBD. "Koleksi yang rusak itu kami tetap pergunakan dan disimpan di gudang agar dapat diperbaiki kembali setelah ada dana pemelirahaan dari APBD," katanya.

Menurut Munir, tahun anggaran 2011 Museum Sultra mendapat biaya pemeliharaan dan pembersihan koleksi benda bersejarah melalui Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan Sultra.

"Selama pembersihan, museum tetap menerima kunjungan dan benda koleksi yang akan diperlihatkan kepada pengunjung hanya benda koleksi yang sudah dibersihkan," kata Munir tanpa merinci biaya pemeliharaan tersebut. (Ant/OL-01)



Senin, 23 Agustus 2010

Museum Swasta Butuh Perhatian


Kompas Jawa Barat, Rabu, 18 Agustus 2010
- Museum yang dikelola swasta membutuhkan perhatian pemerintah. Keberadaannya menjadi salah satu tempat apresiasi kreativitas masyarakat.

"Museum bukan sekadar tempat penyimpanan benda mati. Museum bisa menjadi salah satu motor penggerak kegiatan kreatif masyarakat," ujar Kepala Museum Barli, Sanga Priagana, Selasa (17/8) di Bandung.

Museum Barli didirikan tahun 1992 oleh pelukis ternama, Barli Sasmitawinata, untuk menyimpan memorabilia dan lukisannya. Dalam perkembangannya, museum yang terletak di Jalan Sutami Nomor 91, Bandung, ini tidak sekadar menjadi tempat pameran karya seni, tetapi juga ruang diskusi, pameran, dan beragam pelatihan karya kreatif. Sanga mengatakan, perkembangan Museum Barli tak bisa lepas dari kebutuhan masyarakat terhadap ruang apresiasi publik. Sebelumnya, masyarakat mengeluhkan sulitnya mencari tempat beraktivitas dan mengapresiasi seni serta kegiatan lain.

Akan tetapi, masalah yang kerap muncul adalah tingginya biaya operasional. Menurut dia, Museum Barli harus mengeluarkan Rp 8 juta tiap bulan dari kantong pribadi untuk biaya operasional. Pembiayaan terbesar untuk listrik, air, dan honor bagi empat pegawai.

"Untuk menutupinya, kami membuka diri sebagai tuan rumah beragam kegiatan dan pelatihan, seperti tari dan melukis," ujarnya. Pelukis Andi Sopiandi mengatakan, biaya mengadakan pameran di Kota Bandung terbilang tinggi. Dalam sekali pameran perlu minimal Rp 10 juta. Jumlah itu termasuk biaya publikasi, terutama pembuatan poster dan pamflet. Keberadaan tempat publik, seperti museum swasta, sangat membantu kiprah dan kreativitas seniman.

Sanga berharap pihak swasta dan pemerintah ikut melirik keberadaan museum swasta. Pihak swasta bisa memanfaatkan museum sebagai tempat penyelenggaraan acara tertentu. Adapun pemerintah diminta memerhatikan eksistensi museum swasta dalam menyimpan sejarah kota dan meningkatkan kualitas masyarakat.

Sementara itu, Museum Geologi akan meluncurkan Forum Peduli Museum dengan anggota masyarakat pencinta museum pada Sabtu (21/8). Kepala Museum Geologi Yunus Kusumabrata mengatakan, masyarakat bisa terlibat dalam beragam program museum. Contohnya, membersihkan museum dan berdiskusi rutin tentang berbagai hal di museum. (CHE)

Sabtu, 24 Juli 2010

Tempat Terbaik bagi Penggemar Mainan


Mainan tak hanya menjadi kesukaan anak-anak. Ia juga bisa memikat kaum dewasa dengan desainnya yang menawan. Karena itulah di berbagai belahan dunia, museum mainan menjadi salah satu tempat wisata yang menarik bagi pengunjung.

Indonesia mungkin hanya punya Istana Boneka di Ancol. Tapi di beberapa negara, termasuk di Malaysia, mereka membangun museum untuk menaruh berbagai koleksi mainan, mulai mainan berbentuk lucu untuk anak perempuan sampai robot-robotan untuk anak lelaki. Berikut beberapa museum mainan di dunia.

Doll and Puppet Museum, Vienna (Austria)

Museum ini memiliki koleksi hingga 30.000 mainan. Koleksi ini juga bukan mainan sembarangan karena mayoritas mainan asli yang diproduksi di Eropa disimpan di sini. Salah satu koleksi yang dipamerkan ialah mainan karya seniman Gabriella Falk Stall dan vintage toys dari Vienna’s History Museum. Selain itu boneka dari porselen atau boneka yang desainnya sangat rumit, juga dipamerkan di sini. Kebanyakan adalah boneka buatan Jerman dan Prancis. Doll and Puppet Museum dibangun pada 1728, dengan desain ala rumah Baroque. Ia mulai dibuka untuk publik pada 1989. Tak hanya memamerkan koleksi bonekanya, museum ini juga bisa memperbaiki mainan yang rusak. Jadi jika Anda punya mainan kesayangan yang sulit diperbaiki, coba saja dibawa ke museum ini.

Pollock Museum, London (Inggris)

Pollock Museum menjadi salah satu museum mainan tertua di dunia, dibangun pada 1956. Awalnya, museum ini hanyalah satu ruangan kecil. Namun kini, museum yang juga dikenal dengan nama London Toy and Model Museum ini berkembang sangat besar dan menempati ruangan di London’s Scala Street, salah satu wilayah populer di London. Pollock Museum memiliki ribuan koleksi mainan, dari mainan robot hingga boneka dari seluruh penjuru dunia. Tak heran, pencinta mainan banyak yang berkunjung di sini. Museum ini juga memiliki toko mainan yang menjual berbagai suvenir museum.

Prague Toy Museum, Praha (Republik Ceko)

Datang ke museum yang ada di Praque Castle ini akan sangat menyenangkan. Bayangkan saja, ada begitu banyak koleksi mainan di sini. Ada mainan Yunani kuno, koleksi boneka Barbie sejak tahun ‘60-an sampai sekarang, mainan tradisional Ceko, mainan bohemian, sampai mobil-mobilan dan pesawat. Ada pula koleksi mainan asli karya ilustrator dan kartunis hebat Ivan Steiger yang dibuat dari kayu dan timah. Praque Toy Museum disebut-sebut sebagai museum mainan terbesar kedua di dunia. Mereka memiliki tujuh ruang pameran dengan lebih dari dua lantai gedung.

Penang Toy Museum, Penang (Malaysia)

Siapa sangka museum mainan terbesar justru ada di negara tetangga, Malaysia. Dengan luas hingga 650 m2, museum ini memiliki lebih dari 100.000 koleksi mainan, kebanyakan adalah mainan modern seperti robot-robotan. Museum ini juga dilengkapi dengan teknologi suara-suara yang aneh dan motion effect, sehingga pengunjung bisa menemukan suasana yang menarik dan atraktif saat mengunjunginya. Penang Toy Museum dibangun Loh Leun Cheng, pencinta mainan yang mengagumi Pollock Museum di London. Saat mengunjungi museum tersebut pada usia 19 tahun, Loh berjanji untuk membangun museum mainan. Dia pun melakukan perjalanan mencari mainan-mainan modern di seluruh dunia untuk disimpan di museumnya. Sekarang ini, museum milik Loh dikunjungi lebih dari 2.000 orang tiap harinya.



House on the Hill Toy Museum, Essex (Inggris)

Museum ini unik karena menyimpan begitu banyak mainan dari berbagai bidang, dari yang berkaitan dengan TV dan film, musik rock ‘n roll, sampai buku. Salah satunya ialah memorabilia Beatles dan beberapa mesin musik kuno. Ada pula mainan boneka Barbie dan Sindy,Teddy Bear, mainan kereta, sepeda Putri Diana, sampai replika mahkota kerajaan. Totalnya, ada 80.000 koleksi yang bisa dilihat di museum ini dan umumnya memang mainan khas laki-laki. Museum ini juga mencakup mainan dari zaman Victorian sampai era terkini. Jadi tak heran jika mengunjungi House on the Hill Museum, pengunjung bisa menyaksikan evolusi dunia mainan dari sisi desain dan kemodernannya. (herita endriana)

(Koran Sindo, Sabtu, 24 April 2010)

Jumat, 23 Juli 2010

Punjulharjo Pertanyakan Keseriusan Pemerintah


Pemerintah dan warga Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, mempertanyakan keseriusan pemerintah membangun Museum Budaya Bahari dan menjadikan Desa Punjulharjo sebagai desa wisata. Rancangan utama desa telah dibuat, tetapi pemerintah tak kunjung menanggapinya.

Kepala Desa Punjulharjo Nursalim, Senin (19/7), di Rembang, mengatakan, tokoh masyarakat dan perangkat Desa Punjulharjo telah membuat rancangan pengembangan desa. Pusatnya berada di Situs Perahu Kuno Punjulharjo.

Situs tersebut bakal dibangun menjadi Museum Budaya Bahari yang memperkenalkan kekayaan bahari Indonesia, khususnya Rembang. Untuk mendukung kawasan tersebut sekaligus memberdayakan perekonomian warga, npemerintah desa telah merintis budidaya buah kawis dan kelapa gading.

"Kami telah menanam bibit-bibit kawis dan kelapa di jalan-jalan kampung. Harapannya, para pengunjung dapat menikmati museum dan setelahnya mencicipi minuman khas Rembang dari buah kawis," kata Nursalim.

Menurut Nursalim, rancangan tersebut mengarah pada perwujudan Desa Punjulharjo sebagai pusat penelitian maritim dan industri olahan rakyat. Untuk mendukung penelitian tersebut, dalam waktu dekat pemerintah desa akan mengupayakan hot spot di sekitar lokasi temuan perahu.

Pemerintah dan warga desa juga berkeinginan mendirikan perpustakaan digital. Perpustakaan itu akan merangkum data sejarah, budaya, dan potensi sumber daya alam di Rembang. "Saya berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat merealisasikan rancangan kami," kata Nursalim.

Namun, hal yang paling mendesak dan perlu segera ditindaklanjuti, Nursalim menambahkan, adalah konservasi perahu. Pasalnya, kalau tidak segera dikonservasi, perahu akan semakin lapuk dan rusak.

Ketua Tim Peneliti Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Nahar Cahyandaru mengemukakan, dalam penataan kawasan bersejarah perlu memerhatikan sejumlah kaidah. Salah satunya adalah membagi kawasan tersebut ke dalam zona inti dan pendukung. "Jangan sampai zona inti, yaitu situs perahu kuno, bercampur dengan zona-zona lain. Hal itu dapat mengakibatkan kerusakan zona inti," kata Nahar.

Nahar juga mengusulkan supaya kawasan Punjulharjo dikoneksi dengan kawasan-kawasan sejarah lain terdekat, seperti Lasem, Plawangan, dan Petilasan Sunan Bonang. Tujuannya adalah mengenalkan dan menghidupkan kawasan-kawasan lain yang merupakan aset sejarah dan wisata Rembang. (HEN)

(Kompas edisi Jawa Tengah, Rabu, 21 Juli 2010)

Memimpikan Museum di Kabupaten Kediri


Oleh Runik Sri Astuti


Sinar matahari terik di Jumat (16/7) siang di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Di desa yang setiap tahun ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah inilah, Pemerintah Kabupaten Kediri berencana mendirikan museum atau tempat menyimpan benda purbakala peninggalan nenek moyang.

Kepala Bidang Pemberitaan Humas Pemkab Kediri Edhi Purwanto mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan lahan seluas 10 hektar di Desa Menang saat ini. Lokasinya tidak jauh dari kompleks Petilasan Sri Aji Joyoboyo yang di dalamnya terdapat pendapa, lokasi moksa Sang Prabu dan sendang atau pemandian.

"Lokasi persisnya ya di tanah kosong sekitar petilasan, yang saat ini masih dikelola masyarakat dengan ditanami berbagai tanaman komoditas pertanian seperti cabai, jagung, dan padi," ujarnya memberikan gambaran lokasi museum kelak.

Jika tidak ada halangan, lanjut Edhi, proyek pembangunan dilakukan bertahap dan dimulai pada 2011. Setelah menetapkan lokasi, pemerintah akan menyiapkan desain bangunan. "Untuk menentukan desain arsitektur yang tepat untuk bangunan museum, Pemkab Kediri bekerja sama dengan Desain Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta," katanya.

Sesuai dengan keinginan Pemkab Kediri, di atas lahan seluas 10 hektar itu nantinya tidak hanya berdiri sebuah bangunan museum, melainkan kompleks wisata budaya.


Benda bersejarah

Apa yang mendasari pembangunan museum di Kabupaten Kediri serta mengapa ide itu harus direalisasikan sekarang, setelah 10 tahun Bupati Sutrisno berkuasa? Apalagi Sutrisno akan berakhir jabatannya sebagai bupati pada Agustus mendatang.

Berdasarkan data Dinas Periwisata Kabupaten Kediri dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur, jumlah benda bersejarah yang ditemukan di Kediri sepanjang 1988-2003 mencapai 378. Bentuknya beragam mulai dari arca, guci, mangkuk, batu relief, batu candi, gandik, lingga, yoni, miniatur candi, sampai perhiasan emas zaman kerajaan dan lempengan emas kuno.

Sayangnya kondisinya mengenaskan. Benda-benda purbakala itu bahkan sebagian besar terpaksa disimpan di luar daerah, di rumah-rumah penduduk, dan di balai desa.

Hanya sebagian kecil yang disimpan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri. Itu pun tempat penyimpanannya tidak representatif. Benda-benda itu hanya digeletakkan begitu saja di sebuah ruang mirip gudang di belakang gedung DPRD Kabupaten Kediri.

Sejak tahun 2005 sampai 2009, banyak ditemukan benda purbakala baru, seperti situs Patirtan Jala Dwara di Desa Sukorejo yang kemudian disimpan di Museum Mpu Tantular Surabaya.

Pada tahun 2008, kembali ditemukan sedikitnya 12 benda bersejarah dari Situs Tondowongso di Desa Tondowongso. Keseluruhan benda tersebut sekarang disimpan di Museum Trowulan.

Selanjutnya tahun 2008, kembali ditemukan sedikitnya tujuh benda bersejarah di Desa Sumbercangkring. Benda-benda itu juga ditaruh begitu saja di gudang Pemkab. Data terbaru tahun 2009, masyarakat Desa Semen, Kecamatan Pagu, menemukan sebuah situs yang di dalamnya terdapat beragam benda purbakala seperti arca berikut fragmen-fragmen.

Berangkat dari fakta itulah, niat pemerintah membangun museum harus dihargai walaupun langkah tersebut sangat terlambat. Namun, membangun museum saja juga tidak cukup, tanpa ada niat untuk melestarikan barang-barang purbakala peninggalan nenek moyang itu. Jangan sampai bangunan museum tak lebih dari sebuah gudang penyimpanan barang bekas.

(Kompas edisi Jawa Timur, Sabtu, 17 Juli 2010)

Museum Jateng Harus Dibenahi


Koleksi yang dimiliki Museum Jawa Tengah Ronggowarsito selama ini belum mampu mendongkrak jumlah pengunjung secara signifikan. Oleh karena itu, untuk menarik minat wisatawan dan meningkatkan jumlah pengunjung, harus ada pembenahan.

Museum tidak bisa lagi hanya mengandalkan koleksi benda-benda kuno untuk menyedot pengunjung tetapi harus melakukan inovasi seperti menampilkan berbagai atraksi budaya.

"Hal itu memang menjadi tantangan untuk kami. Jika tidak, museum akan semakin ditinggalkan," ujar Kepala Seksi Pelayanan dan Tata Pameran Museum Ronggowasito Puji Suci Indiah, di Kota Semarang, Rabu (21/7).

Indiah mengakui, jumlah pengunjung masih fluktuatif dan biasanya terkonsentrasi di bulan-bulan tertentu. "Atraksi budaya memang masih minim karena keterbatasan biaya," kata Indiah.

Tingkat kunjungan di Museum Ronggowarsito periode Januari-Juni 2010 mencapai 27.799 orang atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2009 yang berjumlah 26.191 orang dan periode Januari-Juni 2008 yang mencapai 26.545 orang.

Kebanyakan pengunjung Museum Ronggowarsito siswa sekolah dasar. Sebagai gambaran, dari 40.448 pengunjung sepanjang tahun 2009, 13.641 di antaranya siswa SD. Hal ini menunjukkan museum belum menjadi destinasi wisata bagi warga.

Maman Suparman, salah satu seniman Kota Semarang, mengakui museum dapat dijadikan sebagai alternatif ruang pamer karya seni lukis selain galeri dan ruang publik lainnya.

Untuk itu, Maman dan 10 seniman lainnya memanfaatkan Pendopo Museum Jawa Tengah Ronggowarsito untuk menggelar pameran lukisan. (ILO)

(Kompas edisi Jateng, Kamis, 22 Juli 2010)

Selasa, 09 Februari 2010

Mendesak, Program Pendidikan Museologi


Jakarta, Kompas - Sekitar 300 museum di seluruh Indonesia selama ini dikelola tanpa kurator yang benar-benar mengerti ilmu permuseuman atau museologi. Akibatnya, museum, yang sebagian besar milik pemerintah itu, hanya menjadi tempat menyimpan dan memajang benda-benda bersejarah tanpa ada susunan kronologi ataupun penjelasan konteks bagi pengunjungnya.

Demikian terungkap dalam perbincangan Kompas dengan guru besar Ilmu Arkeologi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Mundardjito, di Jakarta, Minggu (7/2).

?”Sebagian besar kepala museum negeri hanya mengelola masalah administrasi dan bukan orang yang memiliki latar belakang pendidikan formal museolog,” kata Mundardjito, yang menambahkan bahwa hingga kini belum ada satu lembaga pendidikan pun di Indonesia yang membuka program pendidikan ilmu permuseuman ini.

Menurut dia, wajar saja jika masyarakat awam yang mengunjungi museum-museum itu bingung dan merasa tidak mendapatkan apa-apa karena penataan benda koleksi museum saat ini belum mampu menampilkan nilai informatif yang penting dan perlu diketahui berbagai lapisan masyarakat.

Ditemui terpisah, sejarawan Universitas Indonesia dan mantan Direktur Sejarah dan Museum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Anhar Gonggong, mengatakan, pemerintah dan sebagian orang yang menangani museum saat ini tak mengerti betul apa itu museum dan bagaimana fungsinya.

? Akibatnya, lanjut Anhar, benda-benda koleksi museum hanya dianggap sebagai sekumpulan benda mati yang tidak berbicara apa-apa tentang sejarah dan museum pun dikelola hanya dengan pendekatan pariwisata belaka.

Secara terpisah, Direktur Museum Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Intan Mardiana mengatakan, pada Tahun Kungjung Museum 2010 ini diharapkan setiap museum daerah di Indonesia mempunyai kreativitas sehingga museum menjadi lebih menarik dikunjungi oleh sejumlah kalangan. (DHF/IAM/LAM)

(Kompas, Selasa, 9 Februari 2010)

Senin, 08 Februari 2010

Edukasi: Agar Museum Menyenangkan


TIDAK mudah memang mendekatkan museum kepada masyarakat. Menurut Kartum Setiawan dari Komunitas Jelajah Budaya, salah satu komunitas yang gencar mengajak generasi muda berkunjung ke museum, orang enggan datang ke museum karena kemasannya kurang menarik.

Pengunjung yang datang ke museum merasa punya jarak dengan koleksi yang dipajang di museum. ”Mereka kurang bersemangat karena tidak bisa merasakan pengalaman pada masa lalu,” kata Kartum.

Karena itu, sekarang ini di beberapa museum mulai dibuat kegiatan yang bersifat memberikan pengalaman kepada pengunjung. Di Museum Tekstil, misalnya, pengunjung bisa merasakan pengalaman membatik dengan biaya Rp 35.000 dan hasilnya bisa dibawa pulang.

Museum Transportasi di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengajak pengunjung masuk ke ruang kokpit pilot pesawat DC-9 buatan 1980-an milik maskapai Garuda Indonesia dengan membayar Rp 2.500. Di museum ini, pengunjung juga bisa masuk ke rangkaian gerbong kereta luar biasa yang pernah membawa Bung Karno dan Bung Hatta hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta pada 1946.

Ada kiat lain. Komunitas Sahabat Museum, yang berdiri sejak 2002, mengemas acara kunjungan ke museum agar menarik perhatian masyarakat. Setiap mengunjungi museum, peserta akan mendapat cerita tidak hanya tentang museum dan koleksinya, tetapi juga tentang sejarah lingkungan museum tersebut. Misalnya tentang riwayat Tanah Abang, tempat berdirinya museum tekstil.

Sahabat Museum juga mengenalkan sejarah bangsa ini dengan berjalan-jalan. Salah satunya ke Kota Tua Jakarta, Januari 2009, yang menyedot sekitar 1.000 peserta. Untuk lebih menarik perhatian, peserta komunitas ini juga selalu mendapat penganan khas daerah yang dikunjungi. Saat jalan-jalan di daerah Betawi, misalnya, mereka mendapat roti buaya, bir pletok, dan es krim Ragusa. Intinya, publik diajak akrab dengan museum untuk mengenal peradaban bangsa pada masa lalu dan merefleksikannya dalam kehidupan kekinian.

(DHF/IND/IYA)

(Kompas, Minggu, 7 Februari 2010)

NASIB MUSEUM Merana di Tengah Keramaian


Oleh Lusiana Indriasari

Perahu prawean yang dipakai masyarakat Madura sejak abad ke-17 ”terdampar” di halaman tengah Museum Bahari, Jakarta Utara. Banjir besar yang melanda Jakarta pada 2007 mengoyak salah satu koleksi museum yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta. Inilah potret buram kondisi museum kita.

KOMPAS / PRIYOMBODO
Anggota Sahabat Museum membatik saat berkunjung ke Museum Tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (30/1).

Banjir yang merendam museum hingga hampir 1 meter menyeret perahu prawean dari tempat penyimpanannya. Saat terseret banjir, perahu itu membentur tembok hingga beberapa pasaknya patah. Sebagian badan perahu juga ikut terkoyak.

”Perahu itu sengaja dibiarkan di halaman karena tanpa pasak perahu akan hancur kalau diangkat,” kata Sukma Wijaya (46), pemandu di Museum Bahari. Sudah hampir tiga tahun sejak banjir melanda, perahu Madura itu belum juga diperbaiki.

Tidak ada informasi apa pun yang tertulis tentang perahu tadi. Namun, menurut Sukma, perahu prawean yang ornamennya berwarna-warni ini awalnya dipakai penduduk di pesisir utara Pulau Madura untuk berdagang rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Dengan perahu prawean, rempah-rempah itu dibawa ke kapal-kapal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan Belanda yang memiliki hak monopoli perdagangan di Asia, yang merapat di dekat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Nasib perahu prawean hanya salah satu gambaran betapa muramnya kondisi beberapa museum yang ada di Jakarta. Keterbatasan dana menjadi alasan klasik kenapa museum yang menyimpan jejak peradaban manusia dan menjadi sumber ilmu pengetahuan ini terbengkalai.

Kondisi bangunan sebagian museum juga memprihatinkan. Sejak dibuka pada 1977, Museum Bahari kesulitan untuk merawat gedung tua yang ditempatinya, gedung bekas gudang rempah-rempah milik VOC yang dibangun pada 1652.

Intrusi air laut merusak sebagian besar bangunan museum. Dinding di hampir seluruh bangunan museum mengelupas karena lembab. Catnya juga sudah kusam. Di beberapa bagian, lantai museum sering tergenang rembesan air laut dari dalam tanah, padahal elevasinya sudah ditinggikan. Kayu jati penopang bangunan mulai keropos.

Di luar museum, Menara Syahbandar yang menjadi bagian dari Museum Bahari rawan roboh. Menara ini miring sekitar 2,5 derajat dari garis tegak lurus karena tanah yang dipijaknya ambles. Pada beberapa kali kejadian gempa di Jakarta, petugas museum sampai harus menutup arus lalu lintas di depan menara karena khawatir menara akan roboh. Menara Syahbandar ini dulunya digunakan Belanda untuk mengawasi lalu lintas kapal yang akan keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.

Museum Sejarah Jakarta, atau dikenal dengan nama Museum Fatahillah, di Jakarta Utara kondisinya jauh lebih bagus dari Museum Bahari. Hanya saja di beberapa bagian atap bangunan museum ini mulai bocor. ”Kami terpaksa menggeser-geser beberapa koleksi museum supaya tidak kebocoran jika hujan datang,” kata Rafael Nadapdap, Kepala Museum Sejarah Jakarta.

Rafael mengatakan, anggaran yang diberikan kepada museum hanya cukup untuk perawatan rutin yang bersifat pembersihan ruangan dalam museum dan koleksinya. Pada 2008 dan 2009 bahkan tidak ada anggaran untuk merenovasi Museum Fatahillah.


Sepi pengunjung


Buruknya kondisi museum, ditambah kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggali ilmu dari museum, membuat sumber informasi sejarah ini ditinggalkan masyarakat. Saking sepinya, Museum Reksa Artha milik Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) yang sudah 20 tahun lebih didirikan di Jalan Lebak Bulus I, Jakarta Selatan, lebih sering tutup.

Dari luar, gedung museum yang berwarna hijau muda itu suasananya seperti sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Pagarnya berkarat. Pintu pagar menuju halaman ataupun pintu masuk gedung lebih sering terkunci rapat. Pos satpam dan menara penjaga di sudut halaman kosong melompong.

Menurut warga sekitar museum, sebenarnya museum itu buka setiap hari. Hanya saja pengunjung harus lebih dulu mencari penjaga museum untuk minta dibukakan pintu. ”Habis, tidak setiap hari ada pengunjung yang datang ke museum,” kata Riswan, penjaga museum yang siang itu mengisi waktunya dengan nongkrong di sekitar lapangan futsal di dekat museum.

Museum Reksa Artha menyimpan berbagai benda yang terkait dengan percetakan uang, seperti mesin kuno pencetak uang kertas dari awal abad ke-20 yang berukuran besar, alat pencetak uang logam, serta foto-foto yang menceritakan beratnya perjuangan pencetakan ORI (Oeang Republik Indonesia) untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi pada awal kemerdekaan RI. Berbeda dengan bagian luar museum yang tak terawat, bagian dalam ruangan besar yang dulunya berfungsi sebagai gudang tinta Perum Peruri itu bersih dan sangat terawat. Tidak terasa ada debu di lantai ataupun pada benda-benda pajangan di dalamnya.

Di Jakarta, museum pun terdesak oleh padatnya lingkungan. Museum Tekstil di Jalan KS Tubun Tanah Abang, Jakarta Pusat, sulit dicari pengunjung karena dikepung pedagang kaki lima. Akses masuk ke museum ini juga sulit karena sekitar 50 meter jalanan selalu dipadati kendaraan. Museum ini memiliki 1.872 koleksi kain dari seluruh wilayah Nusantara, antara lain kain batik, jumputan, tenunan, sulaman, dan produk tekstil lain.

Museum Bahari juga kurang diminati pengunjung meski museum itu memiliki lebih dari 1.700 koleksi. Karena kekurangan tempat, museum ini hanya memamerkan sebagian koleksinya saja, antara lain miniatur kapal klasik dari zaman Kerajaan Majapahit hingga zaman VOC, miniatur kapal modern, serta beberapa perahu tradisional asli dari belahan Nusantara. Ada juga berbagai perlengkapan navigasi kapal pada masa lalu.

Setiap hari, jumlah kunjungan di Museum Bahari rata-rata 30 orang. Menurut Sukma, pengojek sepeda onthel yang beroperasi di kawasan Kota Tua menambah ramai tamu yang datang ke Museum Bahari. Ironis memang. Budaya niaga maritim masa lalu berupa kapal itu

berjumpa dengan ojek sepeda onthel dan pedagang kaki lima yang menjadi simbol parahnya perekonomian bangsa ini.

(Dahono Fitrianto/Yulia Sapthiani)

(Kompas, Minggu, 7 Februari 2010)


Ke Museum Nonton "Hantu"?


Oleh Dahono Fitrianto


Museum katanya adalah etalase peradaban suatu bangsa. Tapi apa yang terjadi di Jakarta? Di museum orang berpacaran, arisan, temu fans, bahkan ada yang ingin melihat hantu bergentayangan. Wow!

KOMPAS / PRIYOMBODO
Siswa SMP berfoto di atas perahu koleksi Museum Bahari, Jakarta, Kamis (4/2). Kurangnya kesadaran para siswa terhadap benda-benda peninggalan masa lalu yang menjadi koleksi museum menjadikan koleksi tersebut rentan terhadap kerusakan.



Museum Bahari di Jakarta Utara suatu kali digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar acara reality show Scarry Job. Pada acara televisi itu digambarkan museum penuh hantu gentayangan. Maka, Museum Bahari pun ramai dikunjungi orang, bukan karena koleksi sejarahnya, melainkan karena mereka ingin melihat sang hantu.

Salah satu titik yang paling diminati pengunjung adalah lukisan Laksamana Malahayati di lantai dua. Konon, katanya, bagian matanya bisa melirik. ”Dari biasanya cuma 30 pengunjung per hari, melonjak jadi 200 pengunjung per hari. Saya sampai capek mengantar tamu ke atas melihat lukisan itu. Akhirnya lukisan itu saya umpetin saja,” kata Sukma Wijaya (46), salah seorang penjaga Museum Bahari.

Peristiwa lain terjadi di Museum Bahari, hari Rabu (3/2). Saat itu sepasang remaja asyik pacaran di atas salah satu perahu kayu koleksi museum, yang seharusnya bahkan tak boleh disentuh. Begitu melihat petugas museum, mereka kocar-kacir berloncatan dari atas perahu bak bajak laut kalah perang. ”Sulit mengatur pengunjung agar tidak menyentuh koleksi yang dipamerkan,” kata Sukma.

Mari beralih ke Museum Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Hari Minggu (31/1) siang, serombongan anak muda berkaus merah memadati museum. Di kaus mereka tertulis kalimat ”seperti aku, seperti jiwaku”. Rombongan pencinta museum? Sahabat museum?

”Oh, kami memang bukan Sahabat Museum. Kami Sahabat Peterpan!” tutur seorang ibu , pemimpin rombongan serba merah tersebut.

Para sahabat ini rutin datang ke Museum Nasional untuk melihat patung Ariel dan kawan-kawan, yang saat ini tersimpan di lantai dasar Gedung Arca. Tahun 2008, sebagai bentuk penghargaan atas sukses mereka di dunia musik Indonesia, perusahaan rekaman Musica Studio membuatkan patung Peterpan yang dititipkan di Museum Nasional.

”Setiap bulan, Sahabat Peterpan wilayah Jabodetabek rutin bikin acara di Museum Nasional buat lihat patung Peterpan,” ungkap Udji, Koordinator Sahabat Peterpan Jabodetabek.

Apakah ada agenda lain di museum selain melihat patung Peterpan? ”Ya, bagi yang belum pernah ke sini sempat keliling-keliling sebentar. Tetapi itu tidak kami acarakan khusus,” tutur Udji.


Sahabat museum

Begitulah nasib museum. Ia dikunjungi, tapi tidak dipelajari. Museum Transportasi di kompleks Taman Mini Indonesia Indah, milik Kementerian Perhubungan, bisa dikunjungi ribuan orang pada hari libur. Namun, tidak semua datang untuk menikmati koleksi sarana transportasi bersejarah di dalamnya.

”Banyak yang hanya memanfaatkan lingkungan museum untuk kumpul-kumpul di hari libur, misalnya untuk arisan atau foto-foto pre-wedding,” tutur Kepala Seksi Penyajian dan Edukasi Museum Transportasi Suningsih.

Menurut Suningsih, saat para pengunjung itu ditanya, apakah sudah melihat koleksi museum di dalamnya, sebagian besar menjawab belum pernah dan tidak tahu ada apa di museum itu. Sebagian pengelola museum masih memaklumi perilaku masyarakat tersebut dan melihat itu dari sudut pandang positif.

”Menurut saya, itu bukan berarti mereka menyepelekan arti museum,” tutur Hamim, salah seorang pemandu di Museum Tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Museum, yang memanfaatkan rumah antik bekas milik orang Perancis itu, memang sering dipakai untuk berbagai kegiatan yang tidak berkaitan dengan permuseuman, mulai dari foto pre-wedding sampai resepsi pernikahan dan pesta ulang tahun. ”Secara tidak langsung, acara seperti itu bisa menjadi promosi bagi museum,” kata Hamim.

Kalaupun ada pengunjung yang benar-benar datang untuk melihat koleksi museum, biasanya adalah rombongan karyawisata anak sekolah atau pegawai dari instansi tertentu. Ada pula Sahabat Museum, sebuah komunitas pemerhati museum. Sejak dibentuk pada tahun 2002, komunitas ini sudah 75 kali menggelar acara mengunjungi museum bersama dan tempat-tempat bersejarah lain. ”Tujuan kami memang mengenalkan museum dan tempat sejarah kepada masyarakat,” ungkap Ketua Sahabat Museum Ade Purnama.


Tidak mati

Sejarawan dari Universitas Indonesia, Anhar Gonggong, mengkritik pola pengelolaan museum yang menempatkan museum sebagai obyek wisata belaka. Para pengelola museum di Indonesia, lanjut Anhar, umumnya baru memahami museum sebagai kumpulan barang, lalu mengundang orang untuk menonton.

”Pengunjung pun datang ke museum (buat) lari-larian. Pejabat dan pengelola museum tak memberikan sosialisasi secara benar dan tepat, apa museum, apa tujuannya,” tandas Anhar.

Jadi wajar saja jika sebagian besar orang kemudian menganggap benda-benda di dalam museum sekadar sebagai benda mati dan tidak berkaitan dengan dinamika kekinian masyarakat. Padahal, lanjut Anhar, benda-benda di dalam museum itu akan ”bicara” saat kita mengajak mereka berbicara.

”Ketika Anda lihat anting-anting, misalnya, kita bisa membaca bagaimana kondisi kultural yang berkembang saat anting-anting itu dibuat,” tutur mantan Direktur Sejarah dan Museum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Museum pun menjadi tempat untuk mengembalikan imaji kebesaran masa lalu, sebagai inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik. ”Waktu saya ke Paris, Belanda, saya datangi museum untuk sekadar mau berimajinasi, bagaimana orang Belanda dan Perancis membangun peradaban mereka di masa lampau. Mereka bisa mencapai kejayaan dalam situasi kekinian karena mereka punya masa lampau yang gemilang,” tandas Anhar.

(LUSIANA INDRIASARI/YULIA SAPTHIANI/ilham khoiri)

(Kompas, Minggu, 7 Februari 2010)


Museum Pribadi Dari Cincin Pelacur sampai Pispot Kaisar


Oleh: Ilham Khoiri dan Yulia Sapthiani

Di tengah Jakarta yang sumpek ternyata ada beberapa museum pribadi. Dengan sistem janjian, kita bisa menikmati koleksinya, mulai dari peninggalan budaya bersejarah, karya seni rupa, sampai produk mode. Apa maknanya bagi kaum urban di Ibu Kota?

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Salah satu ruangan museum pribadi yang sekaligus rumah tinggal Sjahrial Djalil di Kemang Timur 66, Jakarta Selatan.


Museum di Tengah Kebun.” Begitu tulisan pada pintu gerbang kayu di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan. Begitu masuk, ada lorong panjang diapit tanaman hias. Di depannya, berdiri rumah joglo tua. Di samping kanan rumah terhampar kebun menghijau dengan pepohonan tumbuh subur. Di tengah kebun itu terdapat beberapa patung batu atau perunggu.

Masuk dalam ruangan, ada lebih banyak koleksi lagi. Ada patung, lukisan, keramik, perabot rumah tangga, atau kerajinan. Semuanya ditata rapi di ruang tamu, kamar-kamar, beranda, teras, kamar mandi, dapur, hingga ruang makan di rumah itu.

”Ada sekitar 1.800 koleksi di sini,” kata Sjahrial Djalil (70), pengusaha periklanan pemilik Museum di Tengah Kebun.

Benda-benda seni budaya itu berasal dari berbagai peradaban dunia, mulai dari Asia, Eropa, Amerika, Afrika, sampai Australia. Masanya berasal dari zaman prasejarah, masa klasik, pertengahan, sampai modern.

Beberapa koleksi sangat unik. Sebut saja arca Ganesha setinggi sekitar 173 sentimeter diletakkan di tengah kebun. Arca dari Jawa Tengah ini adalah Ganesha terbesar pada periode klasik, sekitar abad ke-9 Masehi. Ada pispot dari Dinasti Ming, China (abad ke-15 Masehi). Juga cincin pelacur dari Shanghai, China, dari abad ke-20 Masehi.

Menurut Sjahrial, Shanghai pada masa itu adalah kota perdagangan yang sangat ramai dengan kehadiran masyarakat dari berbagai penjuru dunia. Cincin berwarna putih dengan ornamen rumit itu diciptakan khusus untuk dipakai perempuan yang bekerja sebagai pelacur.

Museum ini adalah salah satu dari sejumlah museum pribadi di Jakarta. Sebut saja, antara lain, Museum Harry Dharsono di Cilandak, Museum Layang-layang di Pondok Labu, Jakarta Selatan; Akili Museum of Art di Kedoya, Jakarta Barat; atau Museum Martha Tilaar di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Kini, museum-museum itu terbuka untuk umum—tentu dengan perjanjian lebih dulu.


Variasi

Keberadaan sejumlah museum pribadi di Jakarta ini memperkaya khazanah permuseuman di tengah kondisi museum pemerintah yang sebagian besar memprihatinkan. Koleksinya lebih bervariasi karena si pemilik bebas dalam berekspresi.

Di Museum Harry Dharsono Anda akan diajak untuk menyimak banyak koleksi berharga buatan sang perancang, mulai dari masa kecilnya saat masih mengidap attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)—yaitu anak hiperaktif dan sangat mengganggu. Dari barang-barang yang dipajang kita bisa menyelami perjalanan hidup Harry. Di dekat pintu masuk terdapat sketsa gedung yang digambar Harry saat berusia 9 tahun. Gambar inilah yang kemudian dijadikan desain museum.

Gaun-gaun haute couture yang pernah dipakai orang penting dari sejumlah negara, termasuk Putri Diana, menjadi koleksi yang paling menonjol. Di sini juga terdapat berbagai pahatan batu, kain dari pintalan benang, sampai peralatan makan dari keramik. Ribuan benda koleksi ini dirotasi pemajangannya setiap 6 bulan. Sebagai tuan rumah, Harry sebisa mungkin menemani tamu dan menceritakan riwayat koleksinya. Pada akhir kunjungan, tamu dijamu teh atau kopi dan cemilan sambil dihibur penyanyi opera.

Lain lagi dengan Akili Museum of Art yang terletak di Perumahan Mutiara Kedoya. Di bangunan cantik bergaya modern-minimalis ini tersimpan 400-an karya seni rupa, seperti lukisan, patung, dan instalasi. Koleksinya mencakup karya seniman modern dan kontemporer dari Indonesia dan mancanegara, seperti dari China, Spanyol, Belanda, dan Italia.

Dari Tanah Air kita bisa melihat karya pelukis old masters, seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, atau Affandi. Dari kalangan pelukis kontemporer ada karya S Teddy D, Agus Triyanto BR, dan Eko Nugroho.

Kenapa mereka mau membuat museum dan membukanya untuk umum? Simak saja alasan Rudy Akili, pengusaha biro perjalanan, pemilik museum itu. ”Saya punya banyak koleksi karya seni. Sayang, kalau semua itu hanya saya nikmati sendiri. Saya buat museum agar banyak orang bisa ikut melihat.”


Mandiri

Berbeda dengan museum negeri yang mendapat dana dari pemerintah, museum milik Sjahrial, Harry, dan Rudy adalah museum-museum privat yang mandiri. Pengadaan, pemeliharaan, dan pengelolaan koleksi sepenuhnya ditanggung sendiri.

Sjahrial rela merogoh kocek hingga miliaran rupiah demi mengusung koleksi bagus. Dia berjibaku mengikuti lelang di luar negeri, terutama lewat Balai Lelang Christie’s di London, New York, Hongkong, Australia, atau Amsterdam.

Untuk memberikan informasi kepada pengunjung, Sjahrial menerbitkan buku berisi foto koleksi dan keterangan. Demi keamanan, museum dilengkapi CCTV dan dijaga sejumlah petugas keamanan. Benda-benda berharga itu juga rutin diurus agar tetap terpelihara baik.

Adapun di Museum Harry, meskipun sebagian besar koleksi adalah karya sendiri, Harry berusaha melacak keberadaan gaun yang pernah dipakai putri dari sejumlah negara. Gaun-gaun itu dia minta untuk ditukar dengan pakaian-pakaian baru.

Mengutip sejarawan dari Universitas Indonesia, Anhar Gonggong, benda-benda itu sangat penting untuk membangun kebudayaan masa depan. ”Dalam museum kita melihat proses kreatif peradaban di masa lampau untuk membangun peradaban ke depan,” katanya.

(Kompas, Minggu, 7 Februari 2010)


Sabtu, 06 Februari 2010

TANAH AIR Getaran Gempa di Museum Merapi


Oleh Mohamad Final Daeng


Sebagai negeri dengan jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia, sangatlah pantas kiranya jika Indonesia memiliki ilmu pengetahuan dan wahana informasi seputar kegunungapian yang dapat diakses publik luas. Museum Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, menjawab kebutuhan itu.

Dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dari lebih kurang 500 gunung api yang terdapat di seluruh Nusantara, sebanyak 129 di antaranya dikategorikan sebagai gunung api aktif. Itu mencakup sekitar 13 persen dari jumlah gunung api aktif di dunia.

Kondisi itu tercipta karena tatanan geologi Indonesia yang berada di tumbukan tiga lempeng aktif dunia, yakni Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Semua gunung api aktif itu membentuk ”busur” yang terbentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, menjadi bagian dari apa yang disebut ”Cincin Api Pasifik”.

Gunung Merapi (2.968 meter di atas permukaan laut/dpl), yang posisinya berada di simpul empat kabupaten, yakni Klaten, Magelang, dan Boyolali (Jawa Tengah) serta Sleman (DIY), merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Karena itu, wahana informasi dan edukasi publik terkait kegunungapian dan Gunung Merapi menjadi sangat diperlukan.

Terletak di Dusun Banteng, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Museum Gunung Merapi (MGM) berdiri. Lokasinya di lereng selatan Merapi yang berjarak sekitar 20 kilometer arah utara Kota Yogyakarta.

Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa maksud. Selain merepresentasikan isi museum yang ”jualan” utamanya seputar kegunungapian, suasana alam pegunungan yang sejuk dan rindang menjadi daya tarik penting bagi pengunjung.

Terlebih lagi, status Kabupaten Sleman sebagai daerah pariwisata sekaligus sentra pendidikan di DIY menjadikannya lokasi yang sangat strategis karena sejalan dengan tujuan pembangunan MGM, yakni sarana pariwisata dan edukasi.


Patungan


MGM merupakan proyek patungan antara pemerintah pusat, Pemprov DI Yogyakarta, dan Pemkab Sleman.

Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, 5 Desember 2005, dan diresmikan penggunaannya 1 Oktober 2009.

Museum yang tergolong baru ini menempati lahan 3,5 hektar dengan luas bangunan 4.470 meter persegi, terdiri atas dua lantai. Desain bangunan merupakan kombinasi limas dan segitiga yang merepresentasikan bentuk gunung dan berbagai unsur budaya lokal, seperti rumah joglo, candi, dan Tugu Yogyakarta.

Memasuki museum, tepatnya di pelataran utama, pengunjung akan langsung disuguhi replika raksasa Gunung Merapi. Replika itu tidak sekadar pajangan, tetapi juga menyajikan simulasi letusan Merapi tahun 1969, 1994, dan 2006.

Dengan menekan salah satu tombol pilihan, asap buatan dari pucuk gunung dan efek cahaya merah yang menandakan jalur letusan akan muncul. Jika membutuhkan keterangan, pengunjung cukup menekan tombol ”narasi” yang menyajikan penjelasan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Ruang pamer museum di lantai satu terdiri atas dua bagian utama, yakni area umum dan khusus. Area umum menyuguhkan berbagai informasi berupa dokumentasi foto, gambar, dan data terkait gunung api secara umum, baik di dunia maupun di Indonesia.

Adapun area khusus ditujukan spesifik untuk membahas Merapi secara lengkap. Di antaranya, informasi seputar evolusi kubah sejak tahun 1786 hingga 2006, mitos-mitos lokal seputar Merapi, berbagai peralatan pemantauan aktivitas vulkanik, dan dokumentasi dampak letusan Merapi.

Dipajang juga berbagai peralatan rumah tangga dan sebuah sepeda motor warga Dusun Kaliadem yang menjadi korban keganasan awan panas Merapi saat letusan tahun 2006. Sebagai bagian dari tujuan mitigasi bencana, MGM juga memuat informasi cara-cara penyelamatan diri dan deteksi dini bahaya letusan gunung.

Satu atraksi menarik lain di lantai satu adalah plaza tematik Merapi. Ruangan berukuran sekitar 7 x 15 meter itu dibuat sebagai simulasi lingkungan yang serupa dengan kondisi di puncak Merapi. Pengunjung dapat merasakan proses erupsi Merapi melalui efek suara gemuruh dan tanah yang bergetar serta asap sulfat yang menyeruak.

Ivan (29), salah seorang pengunjung MGM yang ditemui hari Sabtu (23/1), mengaku puas dengan berbagai materi dan koleksi yang disajikan. ”Materi yang disajikan sarat informasi dan visualisasi. Saya jadi mudah menyerap pengetahuannya dan kemudian menjelaskannya kepada anak saya,” kata Ivan yang datang bersama istri dan putranya yang berusia tiga tahun.

Pengunjung lainnya, Purnomo, guru di SD Muhammadiyah Turi, Sleman, tengah menyurvei MGM untuk rencana kunjungan murid-muridnya dalam waktu dekat. ”Pengetahuan dari sini sangat penting buat pembelajaran anak-anak. Masak mereka tinggal dekat Merapi, tetapi tidak tahu apa-apa soal gunung berapi,” katanya.


Museum mainan anak

Di Yogyakarta juga ada museum dolanan anak. Museum yang bernama Kolong Tangga ini diklaim sebagai museum mainan anak tradisional pertama dan satu-satunya di Indonesia. Museum ini terletak di bawah kolong tangga masuk Gedung Konser Taman Budaya Yogyakarta. Diresmikan tahun 2008, museum tersebut setia memamerkan sekitar 400 mainan anak tradisional hingga kini walaupun ruang pameran seluas 4 x 15 meter persegi itu lebih sering sepi.

Sejumlah mainan asli Indonesia yang dimiliki Museum Kolong Tangga, di antaranya, adalah topeng kertas, replika merpati dari daun lontar, dan boneka-boneka kayu.

Mayoritas mainan berasal dari tahun 1940 sampai 1960 sehingga sudah sulit dijumpai pada masa kini. Tak hanya dari Indonesia, museum itu memiliki beragam mainan tradisional dari negara- negara di Eropa dan Asia, seperti India, China, dan Finlandia.

Tak cuma di Jakarta ada museum kebaharian. Di Yogyakarta juga ada Museum Bahari, Museum Perjuangan, Museum Dewantara Kirti Griya (museum khusus tentang tokoh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara), Museum Dirgantara, Museum Seni Lukis Affandi, Museum Kontemporer Nyoman Gunarsa, Museum Sasmitaloka Pangsar Sudirman, Museum Benteng Yogyakarta, dan masih banyak lagi.

Tak pelak, museum-museum ini layak menjadi salah satu kajian dan perhatian terkait dengan Tahun Kunjungan Museum yang dicanangkan pemerintah tahun 2010 ini.

(Eny Prihtiyani dan Irene Sarwindaningrum)

(Kompas, Sabtu, 6 Februari 2010)

TANAH AIR Melihat Sejarah Peradaban Manusia dari Yogyakarta


Oleh Eny Prihtiyani dan Irene Sarwindaningrum



Busana adat Jawa dan berbagai peralatan nelayan menjadi bagian dari koleksi Museum Sonobudoyo Unit II, Jalan Wijilan, Yogyakarta, Jumat (5/2). Museum ini merupakan perluasan dari Museum Sonobudoyo di Alun-alun Utara, Yogyakarta, yang merupakan museum tertua di Yogyakarta.

Kehadiran puluhan museum di Yogyakarta telah menjadi magnet pariwisata. Museum-museum itu sekaligus mengukuhkan gelar Yogyakarta sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang menyandang gelar Kota Bersejarah bersama 88 kota besar lain di dunia, seperti Kyoto, Paris, dan London.

Setidaknya ada 37 museum yang saat ini eksis di Yogyakarta. Jumlah tersebut sekitar 15 persen dari total museum di Indonesia yang tercatat sebanyak 272 buah. Padahal, luas daratannya hanya sekitar 0,5 persen dari luas daratan di Nusantara. Tak berlebihan jika Yogyakarta mendapat julukan ”Kota Museum”.

Predikat ”Kota Museum” pula yang membuat Yogyakarta sangat berkepentingan dalam pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010. ”Secara kuantitas kami memiliki banyak museum. Dari sisi kualitasnya, museummuseum tersebut juga layak dikunjungi. Bila daya tarik museum diperbesar, saya yakin museum menjadi idola baru. Tahun ini seharusnya menjadi milik Yogya,” kata Ketua Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DIY Thomas Haryonagoro. Thomas adalah pemilik Museum Ullen Sentalu, museum budaya di Kaliurang, Yogyakarta.

Menurut dia, museum-museum di Yogyakarta bisa dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni museum sejarah (misalnya Museum Yogya Kembali dan Museum Dirgantara), museum budaya (misalnya Museum Keraton dan Museum Sonobudoyo), serta museum pendidikan (misalnya Museum Biologi UGM dan Museum Ki Hajar Dewantara). Dari ketiga jenis tersebut, sebagian besar berupa museum budaya.

Hampir di setiap ruas jalan utama Kota Yogyakarta ada museum. Sebutan ”Kota Museum” semakin menemukan maknanya ketika kita melihat proses terjadinya museum di Yogyakarta yang bukan semata-mata lahir dari ide pemerintah. Banyak yang muncul justru dari spirit masyarakat atau komunitas tertentu. Museum Tani Jawa di Desa Kebonagung, Imogiri Bantul, misalnya, lahir dari kehendak segenap warga desa itu.

Di lahan seluas 1.000 meter persegi, setidaknya ada 260 koleksi alat-alat pertanian sumbangan dari para petani sekitar. Bangunan museum juga mirip rumah petani Jawa yang bercorak joglo. Sederhana, tetapi dari dalam bangunan ini orang bisa menyaksikan perjalanan budaya pertanian di pedesaan Jawa.

Kepala Museum Tani Jawa Kristya Bintara mengatakan, pembangunan museum untuk mendukung pengembangan desa wisata Kebonagung.

Museum Batik di Jalan Sutomo, Yogyakarta, juga lahir dari inisiatif pribadi, yakni dari keluarga Hadi Nugroho. Koleksi tertua Museum Batik adalah batik-batik tahun 1700-an, koleksi Van Zuylen dari Belanda, dan Oey Soe Thoen dari China. Koleksi-koleksi lainnya meliputi sekitar 5.000 kain batik gaya Pekalongan, Surakarta, ataupun Lasem. Tak ketinggalan 124 canting serta 35 peralatan membatik, seperti wok dan pewarna alami.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta Djoko Dwiyanto mengatakan, museum Yogyakarta mempunyai sejumlah koleksi bernilai budaya dan sejarah tinggi, mulai dari koleksi purbakala, Hindu-Buddha, Islam, kolonial, hingga zaman modern.

Dari zaman Hindu-Buddha, terdapat koleksi prasasti perunggu dari abad ke-8. Prasasti yang tersimpan di Museum Sonobudoyo merupakan sumber utama penulisan sejarah kuno Indonesia.

Selain itu, terdapat pula sejumlah koleksi dan karya raja-raja Jawa yang terus-menerus menjadi kajian nilai budaya pada masa lalu. Di antara serat berharga itu adalah Serat Ambya dari abad ke-16. Serat yang masih tertulis di lembaran-lembaran lontar itu berisi kisah para nabi dalam perspektif masyarakat pada masa lalu. Terdapat pula lima salinan Serat Jati Pusaka Makuta Raja dari zaman Sultan Hamengku Buwono V yang sudah tertulis di kertas, tetapi masih dengan tulisan tangan. Serat ini sering dikaji karena sarat akan ilmu kepemimpinan yang masih relevan hingga saat ini.

Salah satu koleksi unggulan (masterpiece) Museum Sonobudoyo adalah Genta Pemanggil Dewa peninggalan abad ke-4 sebelum Masehi (catatan administrator: wartawan bersangkutan salah info, seharusnya bukan abad ke-4 SM tetapi abad ke-8 M). Foto genta perunggu itu digunakan sebagai ikon Museum Sonobudoyo.

Diperkirakan bagian dari biara Candi Kalasan, diduga genta digunakan dalam upacara-upacara keagamaan Buddha untuk mengusir roh jahat. ”Ini masterpiece karena bentuknya yang lebih besar dari genta-genta lain dengan hiasan yang rumit dan indah,” ujar Kepala Seksi Bimbingan Informasi dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo Diah Tutuko Suryandaru.

Selain koleksi-koleksi itu, terdapat pula sejumlah koleksi emas, seperti topeng wajah sebagai lambang keabadian sesudah kematian, cincin stempel tipe Dieng berhuruf Pranegari, kalung dan liontin, serta sirkam (sisir kulit penyu dengan kepala emas). Piranti-piranti emas dengan hiasan berukir ini menunjukkan tingginya peradaban pada masa lalu.

Dengan 42.598 koleksi benda bersejarah, Sonobudoyo tengah digagas menjadi museum internasional. Sonobudoyo dikukuhkan menjadi museum dengan jumlah koleksi terbanyak setelah Museum Nasional (Museum Gajah, Jakarta).

Dalam alur besar, keberadaan museum di Yogyakarta seperti kehadiran sebuah mozaik kehidupan yang lengkap, mulai dari kehidupan purba hingga modern. Dari museum-museum di Yogyakarta itu kita bisa belajar tentang perjalanan sejarah peradaban manusia.

Barangkali ungkapan seorang pengunjung Museum Ullen Sentalu ada benarnya, ”Mengunjungi museum membuat kita menemukan dunia baru, yakni pemahaman sejarah dan spirit yang muncul dari benda-benda koleksinya. Ternyata, kehidupan di keraton sudah ada sikap Gusti Nurul yang antipoligami bisa menjadi sumber informasi wacana kesetaraan jender.”

(Kompas, Sabtu, 6 Februari 2010)

Optimis Dengan Tahun Kunjungan Museum 2010


Sukses program Visit Indonesia Year yang telah meningkatkan kepariwisataan Indonesia, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2010 melaksanakan program yang lebih optimistis lagi, yaitu Tahun Kunjung Museum 2010. Program ini memiliki peranan strategis sebagai wahana pengguat program revitalisasi museum.

Demikian diungkapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Direktur Museum Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Intan Mardiana, yang dihubungi secara terpisah hari Jumat (1/1) di Jakarta. "Program Tahun Kunjungan Museum 2010 dicanangkan 31 Desember 2009 guna meningkatkan wisatawan, baik domestik maupun asing tahun 2010," kata Jero Wacik. Data sementara kunjungan wisata mancanegara (wisman) ke Indonesia sebesar 6.459.665 wisatawan, mengalami peningkatan sebesar 0,4 persen dibandingkan dengan kunjungan wisman pada tahun 2008 yang sebesar 6.429.027 wisatawan.

Devisa dari wisman ke Indonesia pada tahun 2009 berdasarkan data sementara sebesar 6,4 miliar dollar AS, mengalami penurunan sebesar 12,3 persen dibandingkan dengan penerimaan devisa pada tahun 2008 sebesar 7 ,3 miliar dollar AS. Penurunan disebabkan menurunnya pengeluaran per wisman per kunjungan pada tahun 2009 sebesar 995,93 dollar AS dan lama tinggal 7,69 hari dibandingkan tahun 2008 yang masing-masing 1.178,54 dollar AS dan 8,58 hari.

Jero Wacik menjelaskan, program Tahun Kunjung Museum yang didukung dengan berbagai kegiatan di museum seluruh Indonesia tersebut, bertujuan untuk memperbesar jumlah pengunjung museum serta meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya bangsa.

"Program yang dibarengi dengan mereposisi museum, gairah masyarakat berkunjung ke museum akan semakin meningkat, sehingga museum menjadi lebih semarak dan hidup dalam pengelolaannya," ungkapnya.

Direktur Museum Intan Mardiana mengatakan, Tahun Kunjung Museum 2010 merupakan momentum awal memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang dilaksanakan selama 5 tahun (2010-2014). Salah satu kegiatan dalam program GNCM adalah revitalisasi museum untuk mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum. Dengan program GNCM, tahun 2014 akan terwujud museum Indonesia yang menarik dan informatif serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Gerakan Nasional Cinta Museum adalah upaya penggalangan kebersamaan antarpemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa," katanya.

Kegiatan tahun Kunjung Museum pada prinsipnya dilaksanakan di museum seluruh Indonesia, tetapi untuk prioritasnya akan diselenggarakan di tujuh provinsi, yaitu di DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara. Sepanjang tahun 2010, sebanyak 89 museum di Indonesia sudah mengagendakan kegiatan unggulan, selain pameran budaya lokal, upacara adat, pagelaran kesenian dan diskusi, juga ada workshop. (acandra/kompas)

(disbudpar.jatimprov.go.id)

Puluhan Ribu Koleksi Museum Teronggok di Gudang


Museum Nasional Indonesia saat ini memiliki koleksi tak kurang dari 145.000 benda, yang meliputi koleksi prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik dan heraldik, relik sejarah, etnografi dan geografi. Namun yang bisa dipamerkan kepada umum, baru sekitar 50 persen dari jumlah koleksi. Sisanya, 50 persen, lainnya masih tersimpan di gudang.

"Keberadaan museum adalah untuk menyelamatkan dan melestarikan benda warisan budaya bangsa Indonesia. Sekaligus pusat studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif," kata Kepala Museum Nasional Retno Sulistianingsih S di Jakarta, Jumat (5/2/2010).

Pengunjung museum nasional rata-rata sekitar 1.000 orang per bulan, dan 80 persen di antaranya para pelajar. Sedangkan pengunjung asing kebanyakan peneliti yang tertarik dengan warisan budaya Indonesia. Pada Tahun Kunjung Museum 2010, Museum Nasional menargetkan pengunjung kelas menengah ke atas lebih banyak berkunjung.

Retno menjelaskan, dari kunjungannya ke sejumlah museum nasional di luar negeri seperti Singapura, China, dan Belanda, museum nasional Indonesia tidak kalah ramai dan hebat dari museum nasional luar negeri. Bedanya, di luar n egeri masyarakat dan publik turut membiayai operasional museum, sesuatu yang belum pernah ada di Indonesia.

Untuk menjadikan museum nasional di luar negeri itu lebih menarik dan banyak pengunjung, mereka bekerja sama dengan berbagai museum negara lain dan menggelar pameran. Semua biaya, baik pengepakan, pengiriman barang-barang dan asuransi ditanggung oleh mereka dan biayanya dari publik, bukan dibiayai pemerintah. "Kalau kondisi seperti di luar negeri terjadi di Indonesia, Museum Nasional diyakini bisa menggaet pengunjung kelas menengah ke atas," papar Retno.

Saat ini sejumlah koleksi Museum Nasional Indonesia asal Sumatera, sedang dipamerkan di Museum Nasional Belanda di Leiden, Belanda, sejak 13 Oktober 2009 hingga 18 April 2010. Usai dipamerkan di Belanda, koleksi Museum Nasional Indonesia dipamerkan di Singapura, mulai Agustus 2010 untuk jangka waktu tiga bulan.

Kerjasama seperti ini tidak hanya menguntungkan pihak Belanda atau Singapura, tetapi juga Indonesia, karena dipromosikan di luar negeri, tanpa keluar biaya dari kita. Pengalaman museum nasional asing itu akan dicobakan di Indonesia. "Kerjasama dengan Museum Nasional Iran, Museum Indonesia akan memamerkan sejumlah koleksi unik dan menarik dari Iran, seperti mummi," kata Retno Sulistianingsih.

Dihubungi terpisah, Direktur Museum Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Intan Mardiana, mengatakan, pada Tahun Kungjung Museum 2010 ini diharapkan masing-masing museum daerah di Indonesia mempunyai kreativitas sehingga museum menjadi lebih menarik dikunjungi oleh berbagai kalangan.

Tahun Kunjung Museum 2010 adalah momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum, yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan. "Salah satu kegiatan dalam Gerakan Nasional Cinta Museum adalah revitalisasi museum, yang bertujuan untuk mewujud kan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum," paparnya.

Diharapkan, lanjut Intan, dengan program Gerakan Nasional Cinta Museum tahun 2014 akan terwujud museum Indonesia yang menarik dan informatif, serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

(kompas.com, Jumat, 5 Februari 2010)

Kamis, 04 Februari 2010

VMY 2010, Menuju ''Center of Excellent''


Jakarta (Bali Post)- Tahun Kunjungan Museum yang juga dikenal dengan Visit Museum Year (VMY) yang dicanangkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata merupakan upaya pengembangan pengetahuan serta pembangunan kebudayaan bangsa. Program yang merupakan kelanjutan dari Visit Indonesia Year 2009 ini bertujuan bukan hanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, melainkan juga sebagai sarana guna lebih menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian seni-budaya bangsa.

''Di samping itu, VIY 2010 yang dicanangkan pada 30 Desember 2009 lalu juga dapat menjadi wahana penguat program revitalisasi museum. Dengan menggelar aneka program yang dibarengi dengan mereposisi museum, diharapkan gairah masyarakat berkunjung ke museum semakin meningkat, sehingga museum menjadi lebih semarak dan hidup dalam pengelolaannya," ungkap Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Menurutnya, Tahun Kunjungan Museum 2010 merupakan momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang dilaksanakan selama lima tahun ke depan (2010-2014). Salah satu dari kegiatan dalam program GNCM yakni revitalisasi museum yang bertujuan mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum.

Sadangkan Ketua IV Asosiasi Museum Indonesia yang membidangi Informasi, Komunikasi dan Publikasi, Putu Supadma Rudana, MBA, menyebutkan, peran museum, terlebih di era kompetisi global ini, boleh dikata amatlah strategis. Museum bukan hanya sebagai wadah untuk menyimpan berbagai hasil karya manusia yang sarat dengan muatan sejarah dan estetika, melainkan juga bisa diolah menjadi suatu laboratorium kebudayaan, di mana para ahli serta generasi muda mampu mengembangkan aneka gagasan yang kreatif berdasarkan beragam karya peninggalan para leluhur yang sungguh adiluhung itu. ''Dengan kata lain, museum dapat menjadi center of excellent, suatu wahana pembelajaran yang penting bagi semua pihak,'' tegasnya.

Putu Supadma Rudana (PSR) juga salut dan bangganya kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI yang mencanangkan suatu program yang amat strategis ini. ''Penghargaan yang sebesarnya juga saya tujukan kepada Menbudpar yang berkenan menerima gagasan dari semua pihak demi turut bersama-sama membangun kebudayaan bangsa yang unggul dan luhur,'' tambah Managing Director of Museum Rudana ini.

''Apa yang dilakukan oleh Budpar sungguh tepat. Di tengah percepatan perubahan ini, perubahan masyarakat akan museum telah terasa makin kuat dalam kehidupan masyarakat. Museum kini memperoleh tantangan dan juga persaingan dari media-media lain, terutama terkait bagaimana masyarakat mengisi waktu luangnya. Pendeknya, dapatlah disimpulkan bahwa museum kini mulai ditinggalkan, bahkan juga tak dianggap mewakili kekinian kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, selayaknya museum mulai mengembangkan suatu pola pengelolaan yang berbasis quality oriented, bukan quantity oriented. Yang mesti ditingkatkan adalah mutu dan kualitas, baik dari sisi infrastruktur serta sarana dan prasarana maupun program kegiatan yang dilakukan. Dengan demikian, giliran berikutnya, masyarakat akan jadi lebih tertarik mendatangi museum, yang kemudian dapat meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat,'' kata Putu Rudana.

Boleh dikata, jauh sebelum pemerintah mencanangkan Tahun Kunjungan Museum 2010, Museum Rudana yang dipimpinnya telah berulang mengadakan sebagai event seni budaya yang menegaskan bahwa museum dapat pula menjadi wadah aktivitas yang turut menggelorakan upaya-upaya pencapaian seni yang memiliki semangat kekinian, sekaligus tanpa tercerabut dari akal kultur warisan leluhur.

Adapun kegiatan yang telah digelar sebelumnya adalah Lomba Esai Populer 2009 yang bertemakan ''Harapan Masyarakat Indonesia terhadap Pemimpin Masa Depan Indonesia'', berbagai pameran dan pergelaran seni budaya, hingga Pesamuan Budaya, suatu program diskusi yang membahas berbagai masalah di seputar kebudayaan dan kepariwisataan Bali.

''Dalam acara Pesamuan Budaya, selain menghadirkan berbagai narasumber yang memiliki visi yang luar biasa dalam bidang kebudayaan dan pariwisata, semisal Mantan Menparpostel, Joop Ave, serta guru besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Wiendu Nuryanti, kami juga melibatkan para akademisi serta pemerhati budaya di Bali yang tentunya memiliki tujuan serta harapan yang besar bagi tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Bali,'' papar PSR.

Dia menambahkan bahwa Museum Rudana juga mempunyai misi untuk terus mendorong generasi muda untuk senantiasa memiliki budaya kritis dan kreatif, yang pada giliran selanjutnya dapat turut berdiskusi bersama dan saling bertukar gagasan demi terwujudnya tatanan kehidupan seni-budaya Bali.

''Tentu saja, apa yang kita lakukan ini memerlukan suatu sinergi yang menyeluruh, baik antara museum, para pelaku kebudayaan, maupun juga pemerintah. Kita pun tak boleh mengabaikan peran penting media, yang kini bukan hanya semata sebagai sarana penyebaran informasi, melainkan juga memiliki misi penting dalam pembangunan pekerti dan karakter bangsa (nation and character building),'' tegas Putu Rudana yang baru-baru ini menerbitkan sebuah buku bertajuk ''Menuju Visi Sempurna'', sebuah wujud sinergi yang dilakukannya dengan berbagai media lokal, nasional maupun internasional terkait visinya tentang seni-budaya bangsa. (kmb/*)

(balipost.com)

Gerakan Nasional Cinta Museum


Museum merupakan tempat yang sangat bernilai dalam perjalanan hidup sebuah bangsa. Di sana juga tersimpan berbagai karya luhur nenek moyang kita. Sayangnya, tak banyak masyarakat yang senang berkunjung ke museum. Padahal, di Indonesia ini ada sekitar 281 museum yang bisa dikunjungi. Bahkan, hampir semua biaya masuk ke museum sangat murah dan ada juga yang tidak memungut biaya alias gratis lho.

Menurut data pemerintah, setiap tahunnya masyarakat yang berkunjung ke berbagai museum di Tanah Air hanya 2 persen dari jumlah penduduk. Karena itu, untuk mendorong kesadaran masyarakat terhadap arti pentingnya museum dan meningkatkan jumlah pengunjung museum, pemerintah mencanangkan tahun 2010 sebagai Tahun Kunjungan Museum.

Program yang diluncurkan pada Rabu (30/12), merupakan bagian dari Gerakan Nasional Cinta Museum. Program yang bertema “Museum di Hatiku” ini dilaksanakan mulai tahun 2010 hingga tahun 2014. Diharapkan dengan adanya program ini minat masyakat untuk berkunjung ke museum semakin banyak.


Wisata Pendidikan


Pergi ke museum, kini bisa menjadi salah satu tujuan wisata kamu. Selain murah, jalan-jalan ke museum juga bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Kalau kita rajin mengunjungi museum, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang bangsa melalui teori dalam pelajaran di sekolah. Tapi, juga bisa melihat langsung benda-benda peninggalan sejarah yang menjadi koleksi museum itu. Dengan begitu, museum bisa menjadi bagian dari wisata pendidikan.

Sayangnya, belum semua museum yang ada di Indonesia menjadi tempat tujuan wisata, terutama untuk pelajar. Padahal, ratusan museum yang ada di Indonesia bisa menjadi wisata pendidikan yang menarik untuk dikunjungi.

Hanya museum yang namanya sudah dikenal saja yang menjadi tujuan wisatawan. Di Jakarta misalnya, ada Museum Gajah dan Museum Fatahillah. Sementara di Yogyakarta ada Museum Benteng Vredeburg dan Monumen Jogja Kembali. Nah, apakah kamu tertarik untuk mengunjungi museum lainnya?

(berani.co.id)

Museum Sulteng di Tahun Kunjung Museum 2010

Target 20 Ribu Pengunjung, Manfaatkan Facebook sebagai Ajang Promosi

Tahun ini ditetapkan pemerintah sebagai Tahun Kunjung Museum 2010. Awal Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM), yang akan berlanjut hingga 2014. Pemerintah pun menjadikan museum sebagai salah satu andalan wisata di tahun 2010 ini. Bagaimana dengan Museum Sulteng?

AKHIR Desember lalu, tepatnya pada 29 Desember 2009, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir Jero Wacik SE, menetapkan dengan resmi Tahun Kunjungan Museum 2010. Sebuah momentum awal dari program lima tahunan yang lebih besar, yakni Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM). Salah satu gerakannya yakni kegiatan revitalisasi museum yang bertujuan mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna.

Namun GNCM rupanya bukanlah tujuan akhir. Sebab pada tahun 2014 dengan GNCM diharapkan terwujud museum di Indonesia yang menarik dan informatif serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Baik dari sisi pendidikan, kebudayaan, penelitian, hingga rekreasi. Layaknya museum di negara-negara maju, seperti museum di Eropa dan Amerika.

Mewujudkan kondisi ideal museum seperti itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebaliknya, merupakan pekerjaan rumah yang cukup besar dan menantang. Begitu pun dengan museum Sulteng dengan potensi sekaligus kelemahannya selama ini.

Menyambut dimulakannya Tahun Kunjungan 2010, instansi yang dipimpin oleh Dra Zaitun Fadjar itu, rupanya telah memiliki program dan target sendiri dalam menyukseskan GNCM. Ditemui kemarin (14/1), wanita berkerudung itu, mengaku tidak berdiam diri dalam merespons Tahun Kujungan Museum 2010. di 2010 ini, Zaitun menargetkan 20 ribu pengunjung datang ke museum.

“Tahun lalu ada 12 ribu pengunjung. Tentunya tahun ini harus lebih banyak dari pencapaian itu. Pokoknya kami berupaya kunjungan meningkat. Karena itu ayo datang, datang, dan datang ke museum. Rugi kalau tidak,” jelas Zaitun sekaligus berpromosi.

Target 20 ribu pengunjung tersebut, diakui Zaitun harus didukung dengan berbagai program yang tepat sekaligus efektif untuk mewujudkannya. Zaitun mengungkapkan untuk setahun mendatang ada sejumlah program yang sudah terjadwal. Misalnya program sosialisasi serta promosi museum untuk mengenalkan dan meningkatkan arus pengunjung ke Museum Sulteng.

Khusus program promosi itu, museum Sulteng tidak lagi hanya menggunakan media konvensional saja. Seperti memampang barner berukuran besar, membuat pin unik bergambar hati dengan tulisan Museum di Hatiku atau melakukan pertemuan sosialisasi semata. Namun juga merambah ke dunia maya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs jejaring sosial yang sedang populer saat ini, yakni Facebook.

Di laman Facebook, Museum Sulteng memiliki akun khusus. Sejak dibuat pada 29 Desember 2009 hingga pukul 19.00 WITA kemarin, Museum Sulteng sudah memiliki 705 penggemar. Para penggemar tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Sulteng saja. Namun juga berasal dari luar daerah. Seperti Makassar, Jakarta dan Surabaya.

Soal penggunaan Facebook itu, Zaitun mengaku pihaknya ingin merangkul seluruh kalangan. Tidak hanya kaum pelajar, peneliti maupun peminat seni dan budaya, yang selama ini mendominasi kunjungan ke museum.

“Saya bilang ke staf, kalau kita belum bisa (buat) situs khusus di internet, apa saja yang penting bisa mengenalkan museum. Nah, jadilah promosi lewat Facebook itu,” ungkap Zaitun.

Pengenalan museum, boleh jadi mengambil porsi besar dalam program untuk menyukseskan Tahun Kunjungan Museum 2010. Sebut saja pelaksanaan Pameran Budaya Lokal pada April mendatang, pameran khusus, pameran kreativitas siswa, yang seluruhnya dilaksanakan di lingkungan Museum Sulteng. Zaitun mengaku hal itu ditujukkan agar masyarakat dapat berkunjung dan akhirnya mengenal museum.

“Prioritas kami (masyarakat) datang dulu. Soal mereka paham atau tidak tentang koleksi-koleksi museum itu hal yang lain lagi. Yang penting datang dan kenal dulu. Jadi kenali museum-mu, cintai museum-mu,” tambahnya.

Zaitun juga mengungkapkan pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010 tingkat Provinsi Sulteng, nantinya akan dipusatkan di Museum Kabupaten Banggai. Museum yang terletak di Kota Luwuk itu menjadi titik awal dimulakannya seluruh kerja keras pihak Museum Sulteng untuk menyukseskan Tahun Kunjungan Museum 2010.

Pencanangan akan dilakasanakan pada 27 hingga 30 Januari mendatang. Sejumlah rangkaian kegiatan seperti pameran dan pergelaran seni-budaya juga akan digelar. Soal pecanangan yang mengambil tempat di Museum Kabupaten Banggai tersebut, diakui Zaitun ditujukan untuk mengeliatkan arus kunjungan di museum yang dibuka sejak 2007 itu.

“Kami harapkan pemerintah setempat juga memberikan perhatiannya terhadap museum. Dengan pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010 di sana nantinya, semua itu bisa terwujud,” tandas Zaitun.(LAPORAN: Nur Soima Ulfa)

(radarsulteng.com)

Kontak

 
Direktorat Museum,
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
Kompleks Depdiknas Gedung E Lantai 10,
Jalan Jendral Sudirman, Senayan,
Jakarta 10270, Telepon 62 21 572-5047